{"id":4172,"date":"2020-06-11T04:11:53","date_gmt":"2020-06-11T04:11:53","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4172"},"modified":"2021-05-27T03:58:09","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:09","slug":"genjot-penggunaan-b30-pemerintah-gencar-sosialisasi","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/genjot-penggunaan-b30-pemerintah-gencar-sosialisasi\/","title":{"rendered":"Genjot penggunaan B30, pemerintah gencar sosialisasi"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Kamis, 11 Juni 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Genjot penggunaan B30, pemerintah gencar sosialisasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Memasuki semester kedua pelaksanaan implementasi B30, Pemerintah\nkembali mensosialisasikan keamanan penggunaan B30. Hal itu agar tak ada\nkekhawatiran akan kerugian dan kerusakan pada mesin kendaraan yang menggunakan\npencampuran 30% biodiesel dalam bahan bakar jenis solar. \u201cMandatori B30 sudah\nditetapkan. Potensi biofuel di Indonesia sangat luar biasa dan pengembangan\nbiodiesel akan memberikan banyak aspek positif bagi masyarakat,\u201d ungkap Kepala\nBadan Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Kementerian ESDM, Wiratmaja Puja\ndalam keterangan tertulis yang dikutip <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>,\nKamis (11\/6). Seperti diketahui, Program Mandatori Pemanfaatan B30 telah\ndiluncurkan secara langsung oleh Presiden RI pada 23 Desember 2019 lalu setelah\nmelalui berbagai tahap perencanaan matang dan sistematis. Serangkaian uji\nkomprehensif dan konstruktif juga telah dilakukan untuk memastikan\nimplementasinya tepat sasaran. Berdasarkan hasil uji jalan B30 pada kendaraan\nbermesin diesel, Wiratmaja mengatakan bahwa tidak ada perbedaan signifikan pada\nkinerja kendaraan yang menggunakan bahan bakar B30 dibandingkan dengan B20 yang\nsudah diimplementasikan selama ini. &#8220;Tak hanya menepis kekhawatiran akan\nkerugian dan kerusakan pada mesin kendaraan, bahan bakar ini juga berperan\ndalam meningkatkan kualitas lingkungan,&#8221; sebut Wiratmaja.<\/p>\n\n\n\n<p>Sementara itu, Ketua Ikatan Ahli Bioenergi Indonesia (IKABI)\nTatang Hernas Soerawidjaja menyampaikan bahwa nilai kalor B30 itu sama dengan\n95% solar murni, tetapi efisiensi pembakarannya lebih baik dan emisi gas\nbuangnya lebih bersih dan biodiesel praktis tak mengandung belerang\/sulfur. \u201cKonsumsi\nspesifik bahan bakar mobil berbahan bakar B30 mungkin sedikit lebih besar dari\nyang berbahan bakar solar murni, tetapi tenaga mobil tetap,\u201d tuturnya. Selain\nitu, tangki-tangki yang akan digunakan untuk menyimpan B30, termasuk tangki\nbahan bakar kendaraan harus terlebih dulu bebas dari kontaminasi dan\nkemungkinan penyusupan air dan dijaga demikian seterusnya. Masalah biasanya\nmuncul jika tata cara penyimpanan dan penanganan solar diterapkan pada B30.\nTatang menyarankan bahan bakar B30 yang tersimpan lama di dalam tangki lebih\ndari 3 bulan tanpa penjagaan agar bebas air karena bisa dirusak atau\ndidegradasi oleh mikroba. Pada aspek daya menyapu atau membersihkan kerak,\nTatang menekankan bahwa biodiesel memiliki daya melarutkan yang baik. \u201cB30\ncenderung menyapu kerak-kerak dari dinding tangki penyimpan dan saluran bahan\nbakar, sehingga bisa menyumbat saringan bahan bakar (fuel filter). Oleh\nkarenanya, pada waktu pertama kali beralih dari berbahan bakar B0 (solar murni)\nke B30, di minggu pertama penggunaan perlu membersihkan atau bahkan mengganti\nsaringan bahan bakar,\u201d ungkapnya. Tatang juga mengingatkan bahwa biodiesel\ntidak kompatibel dengan material-material logam seperti tembaga, timah, seng,\nkuning dan perunggu, serta non logam seperti karet alam maupun karet sintesis.\nB30 mestinya tak berkontak dengan peralatan\/onderdil yang dibuat dari\nmaterial-material di atas. Tatang menyarankan material yang digunakan adalah\nbaja karbon, baja anti karat, aluminium, Teflon, viton, atau nylon 6\/6.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/genjot-penggunaan-b30-pemerintah-gencar-sosialisasi?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Gatra.com | Rabu, 10 Juni\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program B30 Dinilai Selamatkan Industri Sawit Ditengah Covid<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program biodiesel 30% (B30) dinilai bisa menyelamatkan industri\nsawit dari penurunan produksi dalam masa pandemi Covid-19 karena kebijakan\ntersebut terbukti efektif mendongkrak harga tandan buah segar (TBS) milik\npetani dan minyak sawit mentah (crude palm oil\/CPO). &#8220;Tapi untungnya ya\nkita juga mencatat disini bahwa program B30 yang selama ini&nbsp; menjadi\ninstrumen stabilisasi harga maupun konsumsi sawit itu tetap berjalan walaupun\ntertatih -tatih,&#8221; kata ekonom Fadhil Hasan, dalam webinar Asian Agri, Rabu\n(10\/6). Fadhil melihat komitmen Pemerintah yang betul-betul menyelamatkan\nindustri minyak sawit. Karena dilihat secara keekonomian program ini harusnya\ntidak visibel lagi dengan jatuhnya harga minyak kemudian perbedaan antar diesel\ndan biofuel. &#8220;Tetapi Pemerintah terakhir itu melakukan langkah-langkah\nuntuk bisa tetap mempertahankan program B30. Pertama itu meningkatkan pungutan\nmenjadi 55 US Dollar,&#8221; jelasnya. Fadhil menambahkan alokasi anggaran\nnegara sebesar Rp2,87 triliun ini bukan subsidi kepada program biofuel tapi ini\nuntuk tambahan anggaran Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit untuk\nprogram peremajaan, pengembangan, pelatihan, promosi dan lainnya. &#8220;Dengan\nalokasi anggaran negara sedikit banyak itu memperbaiki atau memperpanjang\nlikuiditas BPDP sendiri sehingga anggaran B30 bisa berjalan. Tentunya ini akan\nberdampak terhadap margin industri dan juga harga daripada TBS,&#8221;\npungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/481447\/ekonomi\/program-b30-dinilai-selamatkan-industri-sawit-ditengah-covid\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Rabu, 10 Juni\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program Biodiesel B30 Dinilai Mampu Dongkrak Harga Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program biodiesel 30% (B30) dinilai masih layak dilanjutkan karena\nkebijakan tersebut terbukti efektif mendongkrak harga tandan buah segar (TBS)\nmilik petani dan minyak sawit mentah (crude palm oil\/CPO). \u201cKebijakan ini\nsangat membantu para petani sawit. Karena itu, kebijakan ini tepat,\u201d kata\nEkonom Raden Pardede, Rabu (10\/6\/2020). Dia menjelaskan, program B30 ini\nmengakibatkan pasar CPO di dalam negeri meningkat, sehingga memicu permintaan\nterhadap komoditas tersebut. &#8220;Lantaran permintaan yang naik, membuat harga\nCPO juga meningkat. Tak hanya harga CPO yang meningkat, tetapi TBS yang\nmerupakan bahan baku CPO turut menikmati margin,&#8221; tuturnya. Menurut Raden\nPardede, seandainya saja Indonesia tidak menerapkan program B30, bisa\ndipastikan harga TBS dan CPO akan lebih rendah jika dibandingkan dengan harga\nyang terjadi saat ini. Pasalnya, sebagian besar CPO diekspor ke luar negeri.\nSebaliknya, permintaan dunia akan CPO saat ini dipastikan menurun.&nbsp; Hal\nini bisa terjadi mengingat pada saat pandemi Covid-19 ini perekonomian dunia\nmenjadi lesu. Industri-industri yang menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit\njuga mengurangi produksinya. <\/p>\n\n\n\n<p>Dampaknya, permintaan dunia\nakan minyak sawit juga menurun. Penurunan permintaan minyak sawit ini bisa\ndipastikan menekan harga TBS di tingkat petani. \u201cUntung saja Indonesia ada\nprogram B30 sehingga penurunan permintaan minyak sawit tak terlalu signifikan,\u201d\npapar Raden Pardede. Jadi, lanjut Raden Pardede, pasar minyak sawit di dalam\nnegeri ini harus tetap diamankan. Sebab kalau saja tidak ada pasar minyak sawit\ndalam negeri yang besar, maka harga TBS dipastikan akan terjun bebas. \u201cJadi\nsebenarnya program B30 merupakan kebijakan yang sangat baik, paling tidak untuk\nsementara waktu ini. Karena saya yakin tanpa ada program B30, harga TBS dan CPO\nkita akan turun,\u201d tegasnya. Menurutnya, manfaat program B30 lainnya yakni\nmenghemat devisa. Hasrat penambahan importasi solar dinilai tidak tepat kendati\nharga minyak mentah dunia saat ini sangat murah. Di kala pandemi Covid-19 ini,\nkata Raden Pardede, Indonesia harus memiliki lokomotif ekonomi yang mampu\nmembangkitkan perekonomian nasional. Saat ini, hampir semua sektor ekonomi terpuruk.\n<\/p>\n\n\n\n<p>Hanya sedikit sektor ekonomi yang mampu bertahan di tengah pandemi\nCovid-19 ini, salah satunya perkebunan kelapa sawit beserta industri\nturunannya. \u201cKita ingin ada lokomotif yang mampu membangkitkan perekonomian.\nKarena itu, industri ini harus dikembangkan agar Indonesia bisa menggeliat\nkembali,\u201d katanya.&nbsp; Menurut dia, program B30 pada 2020 ini akan\nmenggunakan biodisel sebanyak 9,59 juta kilo liter. Manfaat ekonomi dan sosial\ndari implementasi Program B30 akan menghemat devisa sebesar US$5,13 miliar atau\nsetara dengan Rp63,39 triliun. Penghiliran CPO menjadi biodisel memberikan\nnilai tambah Rp13,82 triliun.&nbsp; Wakil Ketua Komisi IV DPR Hasan Aminuddin\nmengatakan pemerintah harus memproteksi petani untuk menyediakan pangan\nmasyarakat. Tentu saja, para petani sawit saat ini juga perlu mendapatkan\nproteksi dan insentif.&nbsp; Program B30 secara tidak langsung juga merupakan\nproteksi yang dilakukan pemerintah dalam rangka menjaga harga TBS tetap pada\nlevel yang menguntungkan petani.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20200610\/99\/1250931\/program-biodiesel-b30-dinilai-mampu-dongkrak-harga-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Rabu, 10 Juni 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ekonom: Program B30 selamatkan harga TBS petani<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program mandatory biodiesel 30% (B30) kini menjadi tulang punggung\npenyerapan sawit di pasar domestik. Program ini menjadi semacam tameng bagi\npetani di tengah pelemahan pasar ekspor sawit. Pasalnya, berkat program B30,\nharga tandan buah segar (TBS) milik petani terjaga dengan baik.&nbsp; Ekonom\nsenior Raden Pardede menjelaskan, program B30 menyebabkan pasar CPO di dalam\nnegeri meningkat. Peningkatan pasar inilah yang memicu naiknya harga CPO di\npasar domestik. Tak hanya harga CPO yang meningkat, TBS yang merupakan bahan\nbaku CPO juga turut menikmati margin. \u201cKebijakan B30 sangat membantu para\npetani sawit,\u201d ujar ekonom senior Raden Pardede, Rabu (10\/6). Menurut Raden,\nseandainya saja Indonesia tidak menerapkan program B30, bisa dipastikan harga\nTBS dan CPO akan lebih rendah jika dibandingkan dengan harga yang terjadi saat\nini. Pasalnya, sebagian besar CPO diekspor ke luar negeri. Celakanya, permintaan\ndunia akan CPO saat ini dipastikan menurun. Hal ini bisa terjadi mengingat di\nsaat pandemi Covid-19 ini perekonomian dunia lesu. Industri-industri yang\nmenggunakan bahan baku minyak kelapa sawit juga mengurangi produksinya.\nDampaknya, permintaan dunia akan minyak sawit juga menurun. Penurunan\npermintaan minyak sawit ini bisa dipastikan menekan harga TBS di tingkat\npetani. \u201cUntung saja Indonesia ada program B30 sehingga penurunan permintaan\nminyak sawit tak terlalu signifikan,\u201d papar Raden.<\/p>\n\n\n\n<p>Jadi, lanjut Raden, pasar minyak sawit di dalam negeri ini harus\ntetap diamankan. Sebab, kalau tidak ada pasar minyak sawit dalam negeri yang\nbesar, maka harga TBS dipastikan akan terjun bebas. \u201cJadi sebenarnya program\nB30 merupakan kebijakan yang sangat baik, paling tidak untuk sementara waktu\nini. Karena saya yakin tanpa ada Program B30, harga TBS dan CPO kita akan\nturun,\u201d tegasnya. Menurutnya, manfaat program B30 lainnya yakni menghemat\ndevisa. Hasrat penambahan importasi solar dinilai tidak tepat kendati harga minyak\nmentah dunia saat ini sangat murah. Karena dengan mengimpor, tetap saja banyak\ndevisa negara yang keluar. Apalagi Indonesia telah menyatakan komitmennya untuk\nmengurangi emisi gas rumah kaca (GRK) sebesar 29% pada 2030. Upaya yang\ndilakukan yakni dengan mengurangi penggunaan sumber energi fosil dan\nmenggantinya dengan biodiesel yang merupakan renewable energy atau energi yang\nberkelanjutan. Di kala pandemi Covid-19 ini, kata Raden Pardede, Indonesia\nharus memiliki lokomotif ekonomi yang mampu membangkitkan perekonomian\nnasional. Saat ini, hampir semua sektor ekonomi terpuruk. Hanya sedikit sektor\nekonomi yang mampu bertahan di tengah pandemi Covid-19 ini, salah satunya\nperkebunan kelapa sawit beserta industri turunannya. \u201cKita ingin ada lokomotif\nyang mampu membangkitkan perekonomian. Karena itu, industri ini harus\ndikembangkan agar Indonesia bisa menggeliat kembali,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Program B30 di 2020 ini akan menggunakan biodisel sebanyak 9,59\njuta kilo liter. Manfaat ekonomi dan sosial dari implementasi Program B30 akan\nmenghemat devisa sebesar US$ 5,13 miliar atau setara dengan Rp 63,39 triliun.\nHilirisasi CPO menjadi biodisel memberikan nilai tambah Rp 13,82 triliun.\nDengan program B30 ini akan mempertahankan tenaga kerja (petani sawit) di on\nfarm sebanyak 1,2 juta orang dan di off farm sebanyak 9.005 orang. Selain itu\njuga akan mengurangi emisi GRK sebanyak 14,25 juta ton CO2. Sebelumnya,\npemerintah melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan\nprogram B30 turut terdampak pandemi virus corona (Covid-19). Target realisasi\npenyaluran biodiesel meleset. Realisasi program B30 sampai 26 Mei 2020 baru\n3,352 juta kiloliter. Angka tersebut baru 34,95% dari target tahun ini yang\nsebesar 9,6 juta kiloliter. Program ini terkendala ketersediaan dana insentif\nbiodiesel menyusul anjloknya harga minyak dunia di tengah wabah corona.\nTurunnya harga minyak itu turut menekan Harga Indeks Pasar (HIP) solar,\nsehingga membuat gap atau selisih dengan harga bahan baku biodiesel, yakni\nfatty acid methyl ester (Fame) menjadi kian besar. Nah, selama ini, program B30\ndidukung pendanaan untuk menutup seluruh selisih harga solar dan biodiesel. Ini\nterjadi karena harga biodiesel cenderung lebih mahal dari solar. Dana tersebut\ndiperoleh dari iuran para pengusaha kelapa sawit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/ekonom-program-b30-selamatkan-harga-tbs-petani?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sindonews.com | Rabu, 10\nJuni 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bantu Petani Sawit, Program B30 Dinilai Layak Dilanjutkan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Program biodiesel 30% (B30) dinilai masih tetap layak dilanjutkan.\nPasalnya, kebijakan ini terbukti efektif mendongkrak harga tandan buah segar\n(TBS) milik petani dan harga minyak sawit mentah (crude palm oil\/CPO). Ekonom\nsenior Raden Pardede menjelaskan, program B30 ini menyebabkan pasar CPO di\ndalam negeri meningkat. Peningkatan pasar inilah yang memicu permintaan CPO\njuga meningkat. Lantaran permintaan yang naik, harga CPO pun ikut terkerek. Tak\nhanya harga CPO yang meningkat, tapi TBS yang merupakan bahan baku CPO turut\nmenikmati margin. &#8220;Kebijakan ini sangat membantu para petani sawit. Karena\nitu, kebijakan ini tepat,&#8221; kata Raden Pardede di Jakarta, Rabu (10\/6\/2020).\nMenurut Raden Pardede, seandainya saja Indonesia tidak menerapkan program B30,\nbisa dipastikan harga TBS dan CPO akan lebih rendah jika dibandingkan dengan\nharga yang terjadi saat ini. Pasalnya, sebagian besar CPO diekspor ke luar\nnegeri. Celakanya, permintaan dunia akan CPO saat ini tengah menurun. Hal ini\nterjadi karena di saat pandemi ini perekonomian dunia lesu. Industri-industri\nyang menggunakan bahan baku minyak kelapa sawit juga mengurangi produksinya.\n&#8220;Untung saja Indonesia ada program B30 sehingga penurunan permintaan\nminyak sawit tak terlalu signifikan,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena itu, Raden Pardede mendorong agar pasar minyak sawit di\ndalam negeri ini tetap diamankan. Sebab, jika tidak ada pasar minyak sawit\ndalam negeri yang besar, maka harga TBS pun dipastikan akan terjun bebas.\n&#8220;Jadi sebenarnya program B30 merupakan kebijakan yang sangat baik, paling\ntidak untuk sementara waktu ini. Karena saya yakin tanpa ada Program B30, harga\nTBS dan CPO kita akan turun,&#8221; cetusnya. Dia menambahkan, program B30 juga\nmemiliki manfaat lain yakni menghemat devisa. Dia pun menolak penambahan\nimportasi solar kendati harga minyak mentah dunia saat ini tengah murah. Sebab,\ndengan mengimpor solar, devisa negara justru mengalir keluar. Terlebih,\nIndonesia telah menyatakan komitmennya untuk mengurangi emisi gas rumah kaca\n(GRK) sebesar 29% pada 2030. Upaya yang dilakukan yakni dengan mengurangi\npenggunaan sumber energi fosil dan menggantinya dengan biodiesel yang merupakan\nrenewable energy atau energi yang berkelanjutan. Tak hanya itu, kata Raden\nPardede, di kala pandemi Covid-19 ini, Indonesia harus memiliki lokomotif\nekonomi yang mampu membangkitkan perekonomian nasional. Saat ini, hampir semua\nsektor ekonomi terpuruk. Sektor ekonomi yang mampu bertahan di tengah pandemi\nCovid-19 ini salah satunya adalah perkebunan kelapa sawit beserta industri\nturunannya.<\/p>\n\n\n\n<p>Program B30 di 2020 ini akan menggunakan biodisel sebanyak 9,59\njuta kiloliter (KL). Manfaat ekonomi dan sosial dari implementasi Program B30\nakan menghemat devisa sebesar USD5,13 miliar atau setara dengan Rp63,39\ntriliun. Hilirisasi CPO menjadi biodisel juga memberikan nilai tambah Rp13,82\ntriliun. Program B30 ini juga dinilai akan mempertahankan tenaga kerja petani\nsawit di on farm sebanyak 1,2 juta orang dan di off farm sebanyak 9.005 orang.\nSelain itu juga akan mengurangi emisi GRK sebanyak 14,25 juta ton CO2. Di\nbagian lain, Wakil Ketua Komisi IV DPR Hasan Aminuddin mengatakan, pemerintah\nharus memproteksi petani untuk menyediakan pangan masyarakat. Tentu saja juga\npara petani sawit saat ini juga perlu mendapatkan proteksi dan insentif.\nProgram B30 secara tidak langsung juga merupakan proteksi yang dilakukan\npemerintah dalam rangka menjaga harga TBS tetap pada harga yang menguntungkan\npetani. &#8220;Adanya proteksi terhadap petani ini merupakan salah satu\nrekomendasi Komisi IV DPR kepada pemerintah,&#8221; tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekbis.sindonews.com\/read\/64814\/34\/bantu-petani-sawit-program-b30-dinilai-layak-dilanjutkan-1591765610\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Rabu, 10 Juni\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Asian Agri Klaim Belum Ada Koreksi Produksi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Asian Agri Group mengklaim belum penurunan produksi minyak\nsawit selama pandemi Covid-19. Direktur Sustainability and Stakeholder\nRelations Asian Agri Bernard Riedo mengatakan pandemi Covid-19 hanya berdampak\npada penjadwalan pengiriman minyak sawit perseroan. Di samping itu, Bernard\nmenyampaikan perseroan mendapatkan sedikit peningkatan permintaan dari industri\noleokimia. &#8220;Salah satu hasil produksi pabrikan oleokimia bisa menjadi\nsabun dan produk kebersihan. Permintaan itu [saat ini] ke sana. Produksi\noleokimia itu punya nilai tambah dan nilai pasar yang tinggi, sehingga\nopportunity itu akan dicari pasar,&#8221; katanya dalam konferensi pers jarak\njauh, Rabu (10\/6\/2020). Bernard berujar pasokan minyak sawit ke pabrikan\noleopangan dan biodiesel tercatat mengalami sedikit koreksi. Namun demikian,\nlanjutnya, hal tersebut lebih disebabkan oleh kendala logistik melainkan penurunan\npermintaan.<\/p>\n\n\n\n<p>Bernard menyampaikan perseroan sampai saat ini mengirimkan seluruh\nhasil produksinya ke sister company perseroan yakni Apical Group. Adapun,\nApical Group tercatat memiliki tiga kilang pengolahan minyak sawit di dalam\nnegeri yang berlokasi di Dumai, Jakarta Utara, dan Balikpapan. Di sisi lain,\nBernard menyampaikan bahwa pemerintah telah mengundur program B40 menjadi awal\n2022. Menurutnya, hal tersebut dilakukan setelah sebelumnya diundur ke\npertengahan 2021 akibat pandemi Covid-19. Seperti diketahui, program B40\nmerupakan 40 persen sumber nabati dalam bahan bakar diesel. Adapun, program\ntersebut akan mencapurkan fatty acid methyl ether (FAME) dengan produk turunan\nminyak sawit lainnya seperti green diesel maupun hasil destilasi FAME. Oleh karena\nBernard meminta agar pemerintah memberikan waktu bagi produsen biodiesel untuk\nmelakukan investasi mesin selama 6-8 bulan sebelum program tersebut dijalankna.\nPasalnya, mayoritas produsen biodiesel saat ini hanya memiliki mesin pengolah\nminyak sawit menjadi FAME.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20200610\/257\/1250971\/asian-agri-klaim-belum-ada-koreksi-produksi\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Viva.co.id\">Viva.co.id<\/a>\n| Rabu, 10 Juni 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Asian Agri Pastikan Pasokan Biodisel B30 ke Pertamina Aman<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Stakeholder Relations Director Asian Agri, Bernard A. Riedo,\nmemastikan pasokan biodisel B30 tidak terjadi hambatan meskipun di tengah\nkondisi pandemi virus corona COVID-19. Karena, pemasokan tersebut didukung juga\noleh pemerintah. &#8220;Sampai saat ini, terkait pemasokan masih berjalan karena\ndidukung pemerintah juga dalam hal pemasokan ini,&#8221; kata Bernard saat\ndiskusi melalui zoom pada Rabu, 10 Juni 2020. Bernard mengatakan pihaknya\nmelalui Apical Group tetap memastikan bahwa produk biodisel yang dikirimkan\nkepada Pertamina sesuai dengan komitmen atau kontrak, dan alokasi yang\ndisampaikan pemerintah berjalan sesuai dengan kuota. &#8220;Jadi belum ada\nkendala sampai hari ini,&#8221; ujarnya. Memang, kata dia, masa pandemi ini\nmenjadi tantangan yang cukup berat, selain juga permintaan yang menurun,\nkonsumen penggunaan bahan bakar minyak (BBM) menurun.&nbsp; Meski menghadapi\ntantangan di tengah pandemi, Bernard mengatakan program berkelanjutan juga\ntetap dilakukan oleh Asian Agri. Sebab, program keberlanjutan ini menjadi fokus\nindustri sawit untuk mengupayakan pemenuhan kebutuhan saat ini.\n&#8220;Keberlanjutan menjadi fokus industri sawit untuk mengupayakan pemenuhan\nkebutuhan saat ini dengan memperhatikan kebutuhan masa yang akan datang dari\nsudut pandang ekonomi, lingkungan dan sosial,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tak ada karyawan terinfeksi COVID-19<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, Bernard memastikan tidak ada karyawan dari Asian Agri\nyang terinfeksi atau terpapar virus corona COVID-19. Menurut dia, saat ini\naktivitas di Asian Agri tetap berjalan dengan mengikuti protokol kesehatan\nCOVID-19 secara baik dan ketat. &#8220;Kasus positif COVID-19, so far\nAlhmadulillah tidak ada yang terjadi baik kebun maupun kantor,&#8221; kata\nBernard.&nbsp; Terkait penerapan new normal, Bernard mengatakan pihaknya sudah\nmempersiapkan sebelumnya. Misalnya, kata dia, Asian Agri telah melakukan\npembatasan terhadap jumlah orang dari luar yang masuk ke dalam dibatasi sejak\nbulan Maret. Tujuannya, agar tidak terjadi penularan kasus COVID-19.\n&#8220;Karena akan susah lagi nanti seperti penyembuhan dan lain-lain. Sehingga,\nbulan Maret sampai April sudah tutup kegiatan di kebun. Kita semua komunikasi\nvia online,&#8221; ujarnya. Namun, kata dia, pihaknya juga berdiskusi dengan\nberbagai instansi terkait dengan harapan agar aktivitas tetap berjalan. Tapi,\notomatis harus ada pembatasan-pembatasan dalam beraktivitas. Contohnya, menerapkan\n50 persen kerja di kantor, dan 50 persen kerja dari rumah, mencuci tangan\ndengan sabun dan air mengalir, memakai masker, jaga jarak serta menjaga\nkebersihan. &#8220;Kegiatan perkebunan dapat berjalan selama memperhatikan\nprotokol kesehatan. Level kantor kami tidak mau ambil risiko, semua sudah\ndibatasi. Jadi, memang persiapan sudah kita jalankan secara grup besar,&#8221;\njelas dia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.viva.co.id\/berita\/bisnis\/1221128-asian-agri-pastikan-pasokan-biodisel-b30-ke-pertamina-aman\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Industry.co.id\">Industry.co.id<\/a> | Rabu, 10 Juni 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jamin Kebutuhan Masa New Normal Terpenuhi, Mentan Syahrul Yasin\nLimpo Beberkan Tiga Strategi Ketahanan Pangan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kementerian Pertanian (Kementan) sedang menyiapkan sejumlah\nstrategi untuk menghadapi kebijakan Normal Baru (New Normal) pada sektor\npertanian dengan tujuan tercukupinya kebutuhan pangan dan ketahanan pangan\nselama pandemi Covid-19. &#8220;Kami bagi jadi tiga program utama. Untuk menjaga\nkebutuhan dan ketahanan pangan, strategi pertama yang akan kami lakukan adalah\nmenyiapkan langkah darurat untuk menstabilkan harga pangan,&#8221; kata Menteri\nPertanian Syahrul Yasin Limpo melalui keterangan dalam video confrence dengan\nIDX Selasa kemarin (9\/6). Ditambahkan Yasin, pihaknya telah menyiapkan langkah\ndarurat agar harga pangan stabil hingga membangun buffer stock pangan dan juga\nmelakukan padat karya pertanian dan memberikan kemudahan pembiayaan melalui KUR\ndan asiransi pertanian. Selain itu untuk jangka menegah, pihaknya akan\nmelakukan diversifikasi pangan lokal hingga membantu sejumlah daerah yang\nmengalami defisit pangan, termasuk petani.&nbsp; Sedangkan untuk jangka\npanjang, Kementan akan menerapkan peningkatan produksi hingga 7% pertahun, juga\nmengembangkan B30 dan kelapa sawit untuk meningkatkan harga jual petani.<\/p>\n\n\n\n<p>Kementan juga telah memastikan 11 bahan pokok dalam kondisi yang\naman sehingga masyarakat tak perlu panik akan pasokan pangan dimasa pandemi\nCovid-19. &#8220;Ada tiga agenda pertama yang kami siapkan, pertama SOS atau\nEmergency dimana stabilitas harga pangan saat idul fitri sudah kita lalui\ndengan baik dan membangun buffer stock pangan padat karya pertanian, safety\nnet, hingga pembiayaan petani melalui KUR,&#8221; imbuh Mentan. Sambungnya,\nagenda kedua yakni agenda temporary atau jangka kedua pasca Covid-19 yang\nmemberikan stimulus untuk buruh tani, dan petani penggarap sebanyak 2,7 orang.\nSedangkan untuk padat karya lanjutan pasca Covid-19, Kementan siap melalukan\ndiversifikasi pangan lokal, supporting daerah defisit , antisipasi kekeringan,\nhingga mendorong kelancarangan distribusi pangan dan penguatan ekspor\npertanian. &#8220;Agenda ketiga, yaitu permanen atau jangka panjang yang akan\nmelakukan pengembangan B30, peningkatan ekspor dan penumbuhan pengusaha petani\nmilenial&#8221;, jelasnya. Tak hanya itu, Mentan juga mengatakan bahwa pihaknya\nsaat ini telah menambahkan meningkatkan kapasitas tanam padi di masa tanam kedua\nseluas 5,6 juta hektar serta pengembangan lahan rawa di Kalimantan Tengah\nseluas 164 ribu hektar termasuk pemanfaatan pangan lokal seperti ubi kayu,\njagung, sagu, dan pisang kentang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.industry.co.id\/read\/68069\/jamin-kebutuhan-masa-new-normal-terpenuhi-mentan-syahrul-yasin-limpo-beberkan-tiga-strategi-ketahanan-pangan\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kontan.co.id | Kamis, 11 Juni 2020 Genjot penggunaan B30, pemerintah gencar sosialisasi Memasuki semester kedua pelaksanaan implementasi B30, Pemerintah kembali mensosialisasikan keamanan penggunaan B30. Hal itu agar tak ada kekhawatiran akan kerugian dan kerusakan pada mesin kendaraan yang menggunakan pencampuran 30% biodiesel dalam bahan bakar jenis solar. \u201cMandatori B30 sudah ditetapkan. Potensi biofuel di Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4172","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4172","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4172"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4172\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4962,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4172\/revisions\/4962"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4172"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4172"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4172"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}