{"id":4237,"date":"2020-07-15T01:50:20","date_gmt":"2020-07-15T01:50:20","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4237"},"modified":"2021-05-27T03:58:08","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:08","slug":"pelaku-usaha-siap-terapkan-euro-4","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/pelaku-usaha-siap-terapkan-euro-4\/","title":{"rendered":"Pelaku Usaha Siap Terapkan Euro 4"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Harian Seputar Indonesia | Rabu, 15 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pelaku Usaha Siap Terapkan Euro 4<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu meminta para menteri\nterkait agar segera menuntaskan regulasi soal penurunan emisi gas rumah kaca.\nHal ini terkait dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca\nsebanyak 26 % pada 2020 dan naik menjadi 29% pada 2030 sesuai dengan konvensi\nperubahan iklim yang telah diratifikasi Indonesia. Itulah mengapa pemerintah\nmengharuskan kendaraan menerapkan standar emisi Euro 4 dan pengembangan\nbiodiesel 30% (B30) yang diresmikan Presiden akhir tahun lalu. Standar Euro 4\nmempersyaratkan RON minimal 92 dan kandungan sulfur maksimum 50 ppm. Dengan\ndemikian BB M lebih berkualitas dan efisien. Keuntungan lainnya adalah kualitas\nudara semakin baik yang berkontribusi positif bagi kesehatan masyarakat.\nDirektur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian\nPerindusrian (Kemperin) Putu Juli Ardika baru-baru ini mengatakan, penerapan\nEuro 4 akan berdampakpositifbagi industri automotdf. Dia menjelaskan, saat ini\nmayoritas negara lain sudah menggunakan standar Euro 4. Jadi jika Indonesia\nmemakai standar yang sama, pabrikan di Indonesia dapat mengekspor kendaraan\nsecara efisien lewat satu jalur produksi sehingga pabrikan automotif Indonesia\nakan berdayasaingkuat di pasar global.<\/p>\n\n\n\n<p>CEO JNE Muhammad Feriadi menyatakan sebagai pelaku industri jasa\nlogistik yang menggunakan alat transpor- tasi, pihaknya selalu mendukung\nkebijakan pemerintah. Diameyakiniaturanyangdiam-bil pemerintah ini tentu demi\nkebaikan semua, terlebih untuk mengurangi polusi udara. Feriadi mengatakan\nimplementasi Euro 4 tentu akan berdampak pada belanja modal perusahaan ke\ndepan. Meskipun demikian ia menjamin pihaknya akan menyesuaikan dengan aturan\nyangberlaku. Dukungan juga diberikan oleh Ketua Umum Asosiasi Logistik\nIndonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita. Hanya saja ia meminta pemerintah mengkaji\nlebih komprehensif sebelum menerapkan standar emisi gas buang Euro 4 untuk\nkendaraan bermesin diesel. Diamenjelaskan.saatiniada keraguan apakah mesin\ndiesel Euro 4 bisa mengonsumsi bahan bakar B30 (campuran 30 % bahan bakar\nnabati) sesuai dengan roadmap pemerintah untuk menggalakkan energi hijau di\nIndonesia. Untuk itu pengecekan secara menyeluruh\ndanpengujianmesinselamabe-berapa tahun perlu dilakukan untuk memastikan mesin\ndiesel Euro 4 aman memakai ba-han bakar B30. Sementara itu Presiden Direktur PT\nIsuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Ernando De-mily mengatakan sebagai salah\nsatu produsen mobil komersial, pihaknya sangat mendukung kebijakan pemerintah\nsoal penerapan standar emisi Euro 4. Apalagi Isuzu sendiri sejak 2011 sudah\nmenggunakan teknologi common rail yang kompatibel dengan BBM solar Euro 4.\nTahun lalu, menurut Ernando, Isuzu juga telah menggunakan teknologi common rail\nun- tuklsuzuElf. Meskipundemiki-an dia mengakui penerapan Euro 4 dan biodiesel\n30 (B30) dalam waktu bersamaan merupakan tantangan tersendiri bagi produsen\ndalam mempro- duksi mobil yang kompatibel<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Selasa, 14 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Isuzu Astra Siap Implementasikan Euro 4 dan B30 Sekaligus<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Isuzu Astra Motor Indonesia menyatakan siap menyambut penerapan\nstandar emisi Euro 4 dan mandatori biodiesel 30 persen atau B30. Presiden\nDirektur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) Ernando Demily menyatakan\nperusahaan telah bergerak cepat dengan mengoordinasi seluruh tim sejak pemerintah\nmemutuskan kebijakan implementasi Euro 4 dan B30. \u201cKami harus memenuhi terhadap\nEuro 4. Namun, pada saat yang bersamaan, pemerintah juga meminta comply dengan\nB30. Sekarang Isuzu bisa deklarasikan bahwa kami siap mengimplementasikan Euro\n4 dan juga B30,\u201d ujarnya dalam webinar, Senin (13\/7\/2020). Ernando mengatakan\nbahwa Isuzu sudah mengimplementasikan teknologi Euro 4 sejak lama. Menurutnya,\nsalah satu persyaratan kendaraan Euro 4 adalah menggunakan mesin common rail.\n\u201cSejak 2011, Isuzu memperkenalkan kendaraan common rail yang kita kenal dengan\nnama Isuzu GIGA dan Isuzu ELF. Tentu kami sudah siap Euro 4,\u201d tuturnya.\nBerdasarkan Peraturan Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan No.\nP20\/MENLHK\/SETJEN\/KUM. 1\/3\/2017, mobil bermesin bensin wajib memenuhi standar\nEuro 4 mulai September 2018, sementara diesel efektif berlaku pada 10 Maret\n2021. Namun, akibat pandemi virus corona atau Covid-19, penerapan wajib emisi\nEuro 4 terpaksa ditunda hingga April 2022. Penundaan itu tertuang dalam surat\nyang diterbitkan oleh KLHK No S 786\/MENLHK-PPKL\/SET\/PKL.3\/5\/2020 tertanggal 20\nMei 2020.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/otomotif.bisnis.com\/read\/20200714\/275\/1265865\/isuzu-astra-siap-implementasikan-euro-4-dan-b30-sekaligus\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Selasa, 14 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tekan Polusi Udara, Pelaku Usaha Siap Terapkan Euro 4<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah mengharuskan kendaraan menerapkan standar emisi Euro 4\ndan pengembangan biodiesel 30 persen (B30). Standar Euro 4 mensyaratkan RON\nminimal 92 dan kandungan sulfur maksimum 50 ppm. Dengan demikian, BBM lebih\nberkualitas dan efisien. Manfaat lainnya adalah kualitas udara semakin baik\nyang berkontribusi positif bagi kesehatan masyarakat. Direktur Industri\nMaritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan Kementerian Perindusrian\n(Kemperin), Putu Juli Ardika mengatakan, penerapan Euro 4 akan berdampak\npositif bagi industri otomotif. Adapun saat ini mayoritas negara lain sudah\nmenggunakan standar Euro 4. &#8220;Jadi, jika Indonesia memakai standar yang\nsama, maka pabrikan di Indonesia dapat mengekspor kendaraan secara efisien\nlewat satu jalur produksi. Sehingga, pabrikan otomotif Indonesia akan berdaya saing\nkuat di pasar global,&#8221; ujar Putu dalam keterangan tertulis, Selasa\n(14\/7\/2020). Penerapan standar emisi Euro 4 untuk kendaraan berbahan bakar\nsolar di Indonesia sedianya dilaksanakan pada April 2021 namun karena adanya\npandemi Covid 19 maka ditunda hingga April 2022. CEO JNE Muhammad Feriadi\nmenyatakan sebagai pelaku industri jasa logistik yang menggunakan alat\ntransportasi, pihaknya selalu mendukung kebijakan pemerintah. Dia meyakini\naturan yang diambil pemerintah ini tentu demi kebaikan semua, terlebih untuk\nmengurangi polusi udara. <\/p>\n\n\n\n<p>&#8220;Implementasi Euro 4 tentu akan berdampak pada belanja modal\nperusahaan ke depan,&#8221; ujar Feriadi. Meskipun demikian, ia menjamin\npihaknya akan menyesuaikan dengan aturan yang berlaku. Sementara itu, Ketua\nUmum Asosiasi Logistik Indonesia (ALI) Zaldy Ilham Masita meminta pemerintah\nmengkaji lebih komprehensif sebelum menerapkan standar emisi gas buang Euro 4\nuntuk kendaraan bermesin diesel. Dijelaskan, saat ini ada keraguan apakah mesin\ndiesel Euro 4 bisa mengonsumsi bahan bakar B30 (campuran 30 persen bahan bakar\nnabati) sesuai roadmap pemerintah untuk menggalakkan energi hijau di Indonesia.\nUntuk itu, pengecekan secara menyeluruh dan pengujian mesin selama beberapa\ntahun perlu dilakukan untuk memastikan mesin diesel Euro 4 aman memakai bahan\nbakar B30. Adapun Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI)\nErnando Demily mengatakan, sebagai salah satu produsen mobil komersial,\npihaknya sangat mendukung kebijakan pemerintah soal penerapan standar emisi\nEuro 4.&nbsp;&nbsp; Apalagi, Isuzu sendiri sejak tahun 2011 sudah menggunakan\nteknologi common rail yang kompatibel dengan BBM solar Euro 4. Tahun lalu,\npapar Ernando, Isuzu juga telah menggunakan teknologi common rail untuk Isuzu\nElf. Meskipun demikian, ia mengakui, bahwa penerapan Euro 4 dan biodiesel 30\n(B30) dalam waktu bersamaan merupakan tantangan tersendiri bagi produsen dalam\nmemproduksi mobil yang kompatibel. Oleh sebab itu, sejak pemerintah memutuskan\nmenerapkan Euro 4 dan B30 secara bersamaan, pihaknya langsung bekerja sama dengan\nprinsipal di Jepang untuk mempersiapkan produk yang mampu mengakomodasi Euro 4\ndan B30. &#8220;Untuk saat ini, kami sudah siap mengimplementasi keduanya secara\nbersamaan,\u201d ungkap Ernando. Ernando menjelaskan, menghadapi berbagai tantangan\ntersebut, dibutuhkan inovasi baru yang mampu menyeimbangkan antara bisnis dan\nkesehatan. Selain itu, sebagai produsen, pihaknya juga berusaha mengurangi\nbeban biaya pengusaha logistik dan transporter. Salah satu dengan Isuzu link\nyang dapat membantu konsumen menggunakan mobil dengan lebih efektif dan\nefisien. Dengan Isuzu link konsumen dapat mengetahui posisi kendaraannya, cara\nmengemudi sopirnya sudah baik atau belum, kapan kendaraan harus diservis, dan\nsebagainya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/money.kompas.com\/read\/2020\/07\/14\/160823426\/tekan-polusi-udara-pelaku-usaha-siap-terapkan-euro-4?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Detik.com | Selasa, 14 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penerapan BBM Ramah Lingkungan Genjot Industri Otomotif RI<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Penerapan standar Euro 4 untuk kendaraan diesel ditunda hingga\nApril 2022 karena COVID-19. Industri otomotif juga pelaku usaha yang\nmenggunakan kendaraan diesel melakukan persiapan untuk menerapkan standar ini\npada kendaraan mereka. Dari segi industri, sektor manufaktur siap untuk\nmenerapkan standar emisi Euro 4. Pada dasarnya, industri otomotif mendukung\npenuh penerapan standar Euro 4 di kendaraan demi penggunaan BBM yang ramah\nlingkungan. Direktur Industri Maritim, Alat Transportasi, dan Alat Pertahanan\nKementerian Perindustrian (Kemperin), Putu Juli Ardika baru-baru ini\nmengatakan, penerapan Euro 4 akan berdampak positif bagi industri otomotif.\nDikatakannya, mayoritas negara lain sudah menggunakan standar Euro 4. Jadi,\njika Indonesia memakai standar yang sama, maka pabrikan di Indonesia dapat\nmengekspor kendaraan secara efisien lewat satu jalur produksi. &#8220;Sehingga,\npabrikan otomotif Indonesia akan berdaya saing kuat di pasar global,&#8221;\nkatanya Selasa (14\/7\/2020). Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor Indonesia\n(IAMI) Ernando Demily mengatakan sebagai salah satu produsen mobil komersial,\npihaknya sangat mendukung kebijakan pemerintah soal penerapan standar emisi\nEuro 4. Apalagi, Isuzu sendiri sejak tahun 2011 sudah menggunakan teknologi\ncommon rail yang kompatibel dengan BBM solar Euro 4. Tahun lalu, papar Ernando,\nIsuzu juga telah menggunakan teknologi common rail untuk Isuzu Elf. Namun\ndikatakannya, penerapan Euro 4 dan bio diesel 30 (B30) dalam waktu bersamaan\nmerupakan tantangan tersendiri bagi produsen dalam memproduksi mobil yang\nkompatibel. Karena itu, sejak pemerintah memutuskan menerapkan Euro 4 dan B30\nsecara bersamaan, pihaknya langsung bekerja sama dengan prinsipal di Jepang\nuntuk mempersiapkan produk yang mampu mengakomodasi Euro 4 dan B30. &#8220;Untuk\nsaat ini, kami sudah siap mengimplementasi keduanya secara bersamaan,&#8221;\ntegas Ernando.<\/p>\n\n\n\n<p>Ernando menjelaskan, menghadapi berbagai tantangan tersebut,\ndibutuhkan inovasi baru yang mampu menyeimbangkan antara bisnis dan kesehatan.\nSelain itu, sebagai produsen, pihaknya juga berusaha mengurangi beban biaya\npengusaha logistik dan transporter. Salah satu dengan Isuzu link yang dapat membantu\nkonsumen menggunakan mobil dengan lebih efektif dan efisien. Dikatakan, dengan\nIsuzu link konsumen dapat mengetahui posisi kendaraannya, cara mengemudi\nsopirnya sudah baik atau belum, kapan kendaraan harus diservis, dan sebagainya.\nPenerapan standar emisi Euro 4 untuk kendaraan berbahan bakar solar di\nIndonesia sedianya dilaksanakan pada April 2021 namun karena adanya pandemi\nCovid 19 maka ditunda hingga April 2022. Hal ini tercantum dalam Surat\nPenundaan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia\nNo S 786\/MENLHK-PPKL\/SET\/PKL.3\/5\/2020 yang tertanggal 20 Mei 2020. Sedangkan,\nstandar Euro 4 untuk kendaraan berbahan bakar bensin telah dilakukan pada 2018.\nUntuk mendukung hal tersebut, kendaraan harus menerapkan ramah lingkungan. Salah\nsatunya yang tengah disiapkan adalah standar emisi Euro 4 dan pengembangan bio\ndiesel 30% (B30) yang diresmikan Presiden akhir tahun lalu. Standar Euro 4\nmensyaratkan RON minimal 92 dan kandungan sulfur maksimum 50 ppm. Dengan\ndemikian BBM lebih berkualitas dan efisien. Keuntungan lainnya adalah kualitas\nudara semakin baik yang berkontribusi positif bagi kesehatan masyarakat. CEO\nJNE Muhammad Feriadi menyatakan sebagai pelaku industri jasa logistik yang\nmenggunakan alat transportasi, pihaknya selalu mendukung kebijakan pemerintah.\nDia meyakini aturan yang diambil pemerintah ini tentu demi kebaikan semua,\nterlebih untuk mengurangi polusi udara. Feriadi mengatakan, implementasi Euro 4\ntentu akan berdampak pada belanja modal perusahaan ke depan. Meskipun demikian,\nia menjamin pihaknya akan menyesuaikan dengan aturan yang berlaku.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/finance.detik.com\/industri\/d-5092879\/penerapan-bbm-ramah-lingkungan-genjot-industri-otomotif-ri\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Gridoto.com | Selasa, 14\nJuli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cara Pakai Wealthy Biodiesel B30 Fuel Treatment, Mudah Sekali<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Produk perawatan bahan bakar dari Wealthy Diesel Treatment B30,\ncara pakainya cukup mudah. Biodiesel B30 menggunakan 30 persen Fatty Acid\nMethyl Ester (FAME) sebagai unsur nabati yang dicampur dengan 70 persen\npetrolium diesel murni. &#8220;FAME ini punya sifat menarik molekul air dari\nudara saat terjadi kondensasi di dalam tangki, juga bisa mengalami pengendapan\nmenjadi kental,&#8221; tambah Tri Yuswidjajanto Zaenuri, Ahli Konversi Energi\nFakultas Teknik dan Dirgantara Institut Teknologi Bandung kepada GridOto.com.\nDengan produk Wealthy Diesel Treatment B30, gejala pengentalan dan kandungan\nair di dalam tangki bahan bakar bisa diatasi. Dalam kemasan botol berukuran 100\nml bisa dicampurkan dengan jumlah bahan bakar sampai 160 liter. &#8220;Rata-rata\nmobil diesel di Indonesia punya ukuran tangki 40 &#8211; 60 liter, jadi bisa dituang\nsetengah botol saja setiap pemakaian,&#8221; terang Arief Hidayat, CEO Wealthy\nGroup kepada GridOto.com. Anda tinggal campurkan cairan diesel treatment ini\nmelalui tutup tangki setelah melakukan pengisian bahan bakar. Kemudian Anda\nbisa diamkan sejenak untuk memberi jeda waktu cairan sampai larut dan bereaksi\ndengan bahan bakar. &#8220;Kalau sering isi dari setengah kurang sampai full\ntank, cairan bisa dipakai setiap pengisian bahan bakar,&#8221; jelas Arief.\n&#8220;Atau kalau selalu isi dari setengah lebih sampai full tank pencampuran\nbisa dilakukan sekali dalam setiap dua kali pengisian bahan bakar,&#8221; tambah\nArief.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gridoto.com\/read\/222240410\/cara-pakai-wealthy-biodiesel-b30-fuel-treatment-mudah-sekali\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Harian Seputar Indonesia | Rabu, 15 Juli 2020 Pelaku Usaha Siap Terapkan Euro 4 Presiden Joko Widodo beberapa waktu lalu meminta para menteri terkait agar segera menuntaskan regulasi soal penurunan emisi gas rumah kaca. Hal ini terkait dengan komitmen Indonesia untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sebanyak 26 % pada 2020 dan naik menjadi 29% [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4237","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4237","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4237"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4237\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4941,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4237\/revisions\/4941"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4237"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4237"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4237"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}