{"id":4242,"date":"2020-07-17T02:29:41","date_gmt":"2020-07-17T02:29:41","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4242"},"modified":"2021-05-27T03:58:08","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:08","slug":"soal-wacana-dmo-sawit-pelaku-industri-sarankan-perlunya-kajian-terlebih-dahulu","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/soal-wacana-dmo-sawit-pelaku-industri-sarankan-perlunya-kajian-terlebih-dahulu\/","title":{"rendered":"Soal wacana DMO sawit, pelaku industri sarankan perlunya kajian terlebih dahulu"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Kamis, 16 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Soal wacana DMO sawit, pelaku industri sarankan perlunya kajian\nterlebih dahulu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Wacana kewajiban pasokan dalam negeri (Domestic Market\nObligation\/DMO) minyak sawit mentah (CPO) mulai bergulir. Setelah dikabarkan\nPertamina telah mampu memproduksi Biodiesel 100 atau B100 yang seratus persen\nbahan baku dari nabati. Pertamina meminta pemerintah dapat membuat aturan DMO\nseperti halnya DMO batu bara untuk PLN (Persero). Hal ini guna menjaga\nkeberlangsungan ketersediaan pasokan CPO dengan harga jual yang lebih murah\ndari harga ekspor. Menanggapi hal tersebut, Joko Supriyono, Ketua Umum Gabungan\nPengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) menilai keberadaan DMO untuk minyak\nsawit mentah tidak tepat. &#8220;Karena saat ini suplai CPO itu masih\nmelimpah,&#8221; ujarnya kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>,\nKamis (16\/7). Lebih lanjut ia bilang, kebijakan DMO hanya efektif apabila\nsuplai dari produksi lokal masih kurang. Sementara saat ini Joko menerangkan\nproduksi CPO di Indonesia mencapai 47 juta ton setiap tahunnya, sedangkan\nserapan untuk biodiesel cenderung kecil hanya 9,5 juta ton. Menurut Gapki\nseandainya B100 langsung diterapkan, tidak serta merta mampu menyerap produksi\nminyak sawit mentah nasional. Sebab diprediksi produksi CPO di Indonesia dalam\nlima tahun mendatang juga masih terus meningkat. Soal harga yang diyakini akan\nberbeda dengan harga ketika ekspor, Joko belum dapat memberikan komentar.\nSementara itu Ketua Harian Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi) Paulus\nTjakrawan menilai wacana kebijakan DMO tak boleh terburu-buru, harus ada riset\ndan perhitungan yang tepat. &#8220;Perlu kajian yang terpadu oleh Pemerintah.\nJika dianggap sudah baik kajian nya, bisa dimulai dengan CPO hasil PTPN\nterlebih dahulu, karena lebih mudah pengaturannya,&#8221; sebutnya kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>, Kamis (16\/7). <\/p>\n\n\n\n<p>Sedangkan produsen minyak sawit, PT Sampoerna Agro Tbk (SGRO)\nmenyambut baik gerakan biofuel dari pemerintah. Jika di masa depan sudah akan\nditerapkan B100, perseroan merasa tak masalah untuk menyuplai kebutuhan\ntersebut. Michael Kesuma, Head of Investor Relations SGRO mengatakan kebutuhan\nCPO tersebut akan semakin meningkatkan permintaan di dalam negeri. Adapun\nmengenai wacana kewajiban pasokan dalam negeri (DMO), manajemen merasa tak\nkeberatan. &#8220;Jangankan DMO, waktu aturan tarif pungutan ekspor saja kami\nlakukan. Tujuan utamanya saya lihat selain memproduksi bahan bakar ramah lingkungan,\njuga dapat memberikan manfaat bagi penyerapan industri,&#8221; ujarnya kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>, Kamis (16\/7). SGRO selama ini\ndiketahui seluruh produksi sawitnya memang menyasar pasar lokal, dan sudah\ntidak menggarap pasar ekspor. Menurut, Michael keputusan menjual ke pasar lokal\nini sudah dijalankan sekitar 10 tahun terakhir. Soal harga, ada anggapan bahwa\nharga di tingkat domestik tidak sebaik di pasar global. Menurut Michael perkara\nharga selalu fluktuatif, ada kalanya di pasar domestik harga lebih baik\nketimbang harga ekspor. Jika nanti ada penentuan harga, perusahaan berharap\nprodusen dapat diikutsertakan dalam menegosiasikannya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/soal-wacana-dmo-sawit-pelaku-industri-sarankan-perlunya-kajian-terlebih-dahulu?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Merdeka.com | Jum\u2019at, 17\nJuli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina Targetkan Implementasi B20 dan B30 Hemat Devisa Rp63,4\nTriliun<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi program B20 dan B30 pada 2019 telah menghemat devisa\nnegara sebesar Rp43,8 triliun. Pada 2020, Pertamina menargetkan penghematan\ndevisa sebesar Rp63,4 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta\norang. \u201cSeiring berjalannya waktu terdapat trend shifting pada penggunaan bahan\nbakar, yaitu semula bahan bakar fosil perlahan bergeser ke bahan bakar terbarukan.\nPola pemenuhan energi nasional pun berubah dari sebelumnya mengandalkan foreign\nsupply menjadi domestik supply. Untuk itu, kita harus terus berupaya\nmemaksimalkan dalam hal pemberdayaan dan pengelolaan sumber daya lokal yang\nkita miliki,\u201d Wakil Direktur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Budi\nSantoso Syarif, dalam keterangan persnya dilansir Jumat (17\/7\/2020) Sebagaimana\ndiketahui, Pertamina telah menggunakan FAME untuk program biodiesel sejak 2006\ndan hingga 2017, selama 11 tahun, penyerapan FAME mencapai 9,2 juta KL. Pada\n2018, Pertamina menjalankan Program B20 d imana penyerapan FAME sebesar 3,2\njuta KL yang pencampurannya dilakukan di 69 lokasi. Melalui Program B30, pada\ntahun 2019, penyerapan FAME meningkat tajam sebesar 5,5 juta KL dan tahun 2020\nditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL. Dia menuturkan Pertamina terus\nberusaha mengoptimalkan sumber daya yang ada di Indonesia dengan mengoptimalkan\nmarket dalam negeri, karena cukup besar. Mengolah kelapa sawit menjadi bahan\nbakar memiliki Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) yang amat sangat tinggi\ndan berpotensi mengurangi defisit transaksi negara. Sawit adalah bahan baku\ndomestik yang transaksinya dilakukan dengan mata uang rupiah, dengan begitu\nakan berdampak positif pada pertumbuhan perekonomian nasional.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.inews.id\/finance\/bisnis\/pertamina-targetkan-implementasi-b20-dan-b30-hemat-devisa-rp634-triliun\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Jakartaglobe.id | Kamis, 16\nJuli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina Announces Breakthrough in 100% Biofuel Manufacturing<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>The state energy company Pertamina has announced success in\nproducing the refined, bleached, and deodorized palm oil used for 100 percent\nbiofuel, or the so-called Green Diesel, at its Dumai refinery in Riau, paving\nthe way for Indonesia&#8217;s ambition to switch to the green fuel as soon as next\nyear. Pertamina said the refinery produced 1,000 barrels biofuel per day in the\nthird trial run on July 2-9, Pertamina&#8217;s president director Nicke Widyawati\nsaid on Wednesday. The previous trials produced biofuel with a palm oil content\nof 7.5 percent and 12.5 percent.&nbsp; &#8220;I congratulate my colleagues at\nPertamina, especially those at the Dumai refinery who has proven that we are\ncapable,&#8221; Industry Minister Agus Gumiwang Kartasasmita said.&nbsp;\nIndonesia sees palm-oil based biofuel as a solution to slash its costly diesel\nimports, which have put its current account balance in the red in the past\ndecade. Also, palm oil faces growing rejection from consumers in the developed\nmarket that could decrease its demand.&nbsp; Facing the challenges, President\nJoko &#8220;Jokowi&#8221; Widodo&#8217;s was adamant for Indonesia to be able to\nproduce biofuel with 100 percent palm oil content soon. Today, the government\nhas made the use of B40, or diesel fuel with 40 percent mix of biofuel\nmandatory, a step up from B30 last year.&nbsp; Pertamina&#8217;s Nicke said\nPertamina&#8217;s success was a result of support from the government and the palm\noil producers.&nbsp; &#8220;Thank you to the government and all related parties\nfor their full support to Pertamina. This trial shows that we are ready\nregarding the refineries and catalysts technology,&#8221; she said.&nbsp;&nbsp;\n&#8220;Now, we need to think how to implement it so that it makes economic sense,&#8221;\nsaid Nicke. Indonesia currently makes 42-46 million metric tons of palm oil\nevery year, with 11.5 percent of the amount is used to make biodiesel.&nbsp;\nNIcke said Pertamina was constructing a green diesel production unit with a\ncapacity of 20,000 barrels per day at the company&#8217;s Plaju refinery in South\nSumatra. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/jakartaglobe.id\/business\/pertamina-announces-breakthrough-in-100-biofuel-manufacturing\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Katadata.co.id\">Katadata.co.id<\/a> | Kamis, 16 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina Produksi D100, Apa Bedanya dengan B100?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>(D100 terbuat dari pengolahan minyak sawit dan katalis. Sifat\nbahan bakarnya serupa dengan bahan bakar minyak solar(<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kilang Dumai milik Pertamina berhasil memproduksi D100 atau green\ndiesel (solar hijau) sebanyak seribu barel per hari. Bahan bakar nabati atau\nBBN itu merupakan hasil pengolahan refined, bleached, and deodorized palm oil\n(RBDPO). Produknya 100% berasal dari minyak sawit mentah atau CPO yang diproses\nhingga hilang getah, impurities (kotoran), dan baunya. Uji coba pengolahan\nproduksinya dilaksanakan pada 2 sampai 9 Juli lalu. Direktur Utama Pertamina\nNicke Widyawati mengatakan pengujian ini menunjukkan kilang dan katalis\nPertamina sudah siap memproduksi BBM ramah lingkungan. \u201cKami perlu memikirkan\nagar sisi keekonomiannya juga dapat tercapai,\u201d katanya dalam siaran pers, Rabu\n(15\/7). Hadirnya produk green energy ini menjadi jawaban untuk menyediakan\nenergi ramah lingkungan di Indonesia. Selain itu, kehadiran D100 akan membuat\npenyerapan produksi minyak kelapa sawit domestik menjadi lebih optimal. Saat\nini produksi minyak kelapa sawit di Indonesia berada di angka 42 juta hingga 46\njuta metrik ton per tahun. Serapannya untuk minyak sawit yang diolah memakai\nmetanol atau fatty acid methyl ester (FAME) untuk biodiesel sekitar 11,5%.\nPertamina sedang membangun unit green diesel dengan kapasitas produksi sebesar\n20 ribu barel per hari. \u201cKami mampu memproduksi bahan bakar renewable yang\npertama di Indonesia dan hasilnya tidak kalah dengan perusahaan kelas dunia,\u201d\nujar Nicke. Pengolahan RBDPO menjadi D100 di kilang Dumai, Riau, dapat\nterealisasi dengan bantuan katalis bernama Katalis Merah Putih. Produk ini\ndiproduksi oleh Pertamina Research and Technology Center bekerja sama dengan\nInstitut Teknologi Bandung.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Beda B100 dan D100? <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah saat ini sedang berupaya mempercepat bauran energi,\ntermasuk program B100 dan D100. Lantas, apa beda keduanya? Melansir dari situs\nKementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), biodiesel 100 atau B100\nadalah BBN atau biofuel untuk aplikasi mesin atau motor diesel berupa FAME yang\ndihasilkan dari bahan baku hayati dan biomassa lainnya yang diproses secara\nesterifikasi. Pemerintah awalnya mewajibkan pencampuran 20% biodiesel dengan\n80% BBM jenis solar alias B20. Program yang berjalan sejak Januari 2016 itu\nsesuai dengan Peraturan Menteri ESDM Nomor 12 Tahun 2015 tentang penyediaan,\npemanfaatan, dan tata niaga BBN (biofuel) sebagai bahan bakar lain. Sementara,\nD100 adalah istilah 100% green diesel atau solar hijau. BBN ini diolah dari\nminyak sawit dengan katalis. Mengutip dari Majalah Sawit Indonesia, sifat bahan\nbakar ini sama dengan solar dari minyak bumi. Karena itu D100 pun dapat dibuat\ncampurannya, seperti B20D25. Artinya, bahan bakar itu mengandung FAME 20%,\ngreen diesel 25%, dan sisanya solar minyak bumi.&nbsp;&nbsp; Ada pula istilah\nG100, yaitu bensin dengan kandungan 100% green gasoline. Bahan bakar ini\nterbuat dari minyak sawit dan katalis. Jika tertulis G25 artinya bahan bakar\nitu mengandung gasoline 25%, sisanya bensin berbasis minyak bumi. Terakhir,\nyaitu J100. BBN ini adalah avtur yang mengandung 100% green jetfuel dari minyak\ninti sawit atau PKO dengan katalis. BBN J10 berarti 10% kandungannya adalah\ngreen jetfuel dan sisanya kerosen minyak bumi.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jalan Panjang BBN Indonesia <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pertamina masih mencari celah membuat harga B100 menjadi\nkompetitif. Karena itu, perusahaan pelat merah ini meminta dukungan pemerintah\nagar ada kewajiban bagi produsen sawit untuk memasok kebutuhan dalam negeri\natau domestic market obligation (DMO). Nicke mengatakan, aturan DMO harus\ndibuat agar ketersediaan pasokan CPO terpenuhi dan harga jualnya menjadi lebih\nmurah ketimbang ekspor. \u201cKeberlangsungan green diesel dan green gasoline perlu\ndukungan DMO, baik volume maupun harga,\u201d ujarnya pada 29 Januari lalu.\nPerusahaan sawit Indonesia memang lebih memilih mengekspor komoditas CPO.\nPasalnya, komoditas ini lebih menguntungkan ketimbang mengolahnya menjadi\nbiodiesel. Hal ini yang membuat capaian produksi BBN Indonesia di 2019 hanya\n75% dari target atau sebanyak 6,26 juta kiloliter. Menurut data TradeMap, pada\n2018 Indonesia memenuhi 63,9% pasar di India dan 59% di Tiongkok. Kecenderungan\nekspor CPO ini menjadi salah satu penghambat Indonesia sulit memenuhi target\npemakaian BBN. Usaha mengurangi ketergantungan energi fosil dilakukan pada 2016\nmelalui kebijakan B20. Pada 2018, Presiden Joko Widodo pernah mengeluarkan\nperintah agar mandatory pemakaian bahan bakar itu dijalankan secara masif di\nsemua sektor. Mandatori B20 itu tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM Nomor 41\nTahun 2018 juncto 45 Tahun 2018. Produksi biofuel terutama biodiesel mengalami\npeningkatakan signifikan. Selanjutnya, pemerintah meningkatkan pemanfaatan\nbiofuel sebesar 30% atau B30. Hal ini tercantum dalam Peraturan Menteri ESDM\nNomor 12 Tahun 2015 yang memuat mandatori B30 mulai 2020. Setelah B30,\nPertamina lalu memproduksi biodiesel B100.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/katadata.co.id\/berita\/2020\/07\/16\/pertamina-produksi-d100-apa-bedanya-dengan-b100\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Jum\u2019at, 17 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina Siap Produksi Solar dari 100 Persen Minyak Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) menyatakan kesiapannya untuk memproduksi\nGreen Gasoline dan Green Avtur dari kilang dalam negeri dalam beberapa tahun\nmendatang untuk digunakan pada kendaraan dan kebutuhan serupa. Direktur Utama\nPertamina, Nicke Widyawati, menyatakan bahwa tekad tersebut dibulatkan usai\nsukses memproduksi Green Diesel (D-100) melalui pengolahan minyak sawit 100\npersen. Di samping itu, langkah ini juga sesuai arahan Presiden Joko Widodo\nyang menekankan pentingnya menghasilkan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan\nmendayagunakan sumber daya alam domestik untuk membangun ketahanan,\nkemandirian, dan kedaulatan energi nasional. \u201cPertamina menyampaikan terima\nkasih atas dukungan pemerintah dan semua pihak agar Pertamina terus\nmengembangkan green energy seperti B30 dan B50 serta D-100,&#8221; katanya dalam\nketerangan tertulis, Kamis (16\/7\/2020). &#8220;Pertamina telah menyelesaikan\npenyiapan kilang dan katalis merah putih, yang nantinya akan dilanjutkan dengan\nkajian keekonomian\u201d lanjut Nicke. Adapun Green Gasoline ini, lanjut Wakil\nDirektur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Budi Santoso Syarif,\nsebenarnya sudah dilakukan uji coba sejak 2018 lalu. \u201cNamun uji coba tersebut\nbaru mampu mengolah minyak sawit RBDPO sebesar 20 persen. Sedangkan ujicoba\nmengolah minyak sawit menjadi Green Avtur akan dilakukan di akhir tahun 2020,\u201d\nungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun ujicoba Green Gasoline yang dilakukan Pertamina baru\nmampu mengolah minyak sawit sebesar 20 persen, namun hal ini adalah yang\npertama di dunia mengingat mengolah minyak sawit menjadi Green Gasoline belum\npernah dilakukan dalam skala operasional. \u201cMengolah minyak sawit menjadi green\ndiesel sudah dilakukan juga oleh beberapa perusahaan lain di dunia, namun\nmengolah minyak sawit menjadi green gasoline belum pernah dilakukan di dunia\ndan Pertamina adalah yang pertama karena selama ini hal tersebut masih sebatas\nskala laboratorium untuk riset\u201d lanjut Budi Budi menambahkan, tantangan ke\ndepan, Pertamina tidak hanya mengembangkan green energy dari CPO atau sawit,\ntetap juga dari sumber daya lainnya seperti algae, gandum, sorgum dan\nsebagainya. Pertamina akan terus mendayagunakan segala sumber daya alam\ndomestik, untuk mendukung kemandirian dan kedaulatan energi nasional.\nSebagaimana diketahui, Pertamina telah menggunakan FAME untuk program biodiesel\nsejak tahun 2006 dan hingga tahun 2017, selama 11 tahun, penyerapan FAME\nmencapai 9,2 juta KL. Pada tahun 2018, Pertamina menjalankan Program B20 dimana\npenyerapan FAME sebesar 3,2 juta KL yang pencampurannya dilakukan di 69 lokasi.\nMelalui Program B30, pada tahun 2019, penyerapan FAME meningkat tajam sebesar\n5,5 juta KL dan tahun 2020 ditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL.\nImplementasi program B20 dan B30 di tahun 2019 telah menghemat devisa negara\nsebesar Rp 43,8 triliun dan tahun 2020, Pertamina menargetkan penghematan\ndevisa sebesar Rp 63,4 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta\norang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/otomotif.kompas.com\/read\/2020\/07\/17\/070200415\/pertamina-siap-produksi-solar-dari-100-persen-minyak-sawit-\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Katadata.co.id\">Katadata.co.id<\/a> | Kamis, 16 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Minyak Jelantah, dari Limbah Jadi Biodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong><em>(Sebesar 1,6 miliar liter minyak jelantah berpotensi mampu\nmencukupi 32 persen produksi biodiesel nasional)<\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Limbah minyak jelantah atau used cooking oil (UCO) merupakan\nalternatif bahan baku biodiesel yang menjanjikan. Potensi ini terlihat dari\nbesarnya produksi dan konsumsi minyak goreng di Indonesia yang berakhir menjadi\nminyak jelantah. Publikasi Indonesia Oilseeds and Products Annual 2019\nmenyebutkan, konsumsi minyak goreng rumah tangga Indonesia mencapai 13 juta ton\natau setara 16,2 miliar liter pada 2019. Hal ini menunjukkan potensi produksi\nminyak jelantah juga cukup besar. Studi International Council on Clean\nTransportation (ICCT) menunjukkan bahwa potensi produksi minyak jelantah di tahun\n2018 mencapai 1,6 miliar liter dengan rata-rata potensi per tahun mencapai 3\nmiliar liter. Selain itu, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku\nbiodiesel juga memiliki manfaat lingkungan dan ekonomi yang besar. Sebanyak 1,6\nmiliar liter minyak jelantah mampu mencukupi 32 persen produksi biodiesel\nnasional. Ini mampu membuat pemerintah berhemat anggaran produksi biodiesel Rp\n345 miliar per tahun. Seperti yang diketahui, pemerintah menggalakan program\nbiodiesel B30 sebagai alternatif untuk menekan konsumsi bahan bakar fosil. Di\ntahun ini, target pemerintah bahkan ditingkatkan menjadi program biodiesel B50.\nBiodiesel minyak jelantah dapat mengurangi 91,7 persen emisi CO2 dibanding\npenggunaan solar biasa. Jenis bahan bakar ini bahkan telah memenuhi standar\nbiodiesel ramah lingkungan Eropa. Serta mengurangi terjadinya pencemaran pada\ntanah. Meski demikian, penggunaan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel\nbelum mendapat perhatian. Implementasi produksi biodiesel nasional selama ini\nmasih bertumpu pada penggunaan bahan baku yang berasal dari minyak kelapa\nsawit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/katadata.co.id\/infografik\/2020\/07\/16\/minyak-jelantah-dari-limbah-jadi-biodiesel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Kamis, 16 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Begini tanggapan Mahkota Group (MGRO) soal kebijakan DMO minyak\nsawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Mahkota Group Tbk (MGRO) menilai bahwa kebijakan Domestic\nMarket Obligation (DMO) minyak sawit&nbsp; dapat meningkatkan penjualan sawit\nke dalam negeri. Namun, pemerintah juga perlu mengkaji beberapa hal penting\nagar tidak merugikan pelaku usaha sawit.&nbsp; Sekretaris Perusahaan MGRO, Elvi\nmemaparkan kebijakan DMO minyak sawit yang saat ini masih dibahas di\nkementerian ESDM perlu dikaji secara khusus karena menyangkut harga, volume\nkebutuhan dan sumber pasokan.&nbsp; Adapun Elvi menjelaskan Pertamina selaku\nprodusen biodiesel yang mewakili perusahaan pelat merah telah berkomitmen, siap\nmelaksanakan program B100. Tentunya ini memerlukan jaminan ketersediaan pasokan\nCPO dari produsen dengan harga jual yg lebih murah dibandingkan dengan harga\nekspor sehingga nantinya harga biodisel B100 dapat kompetitif.&nbsp; &#8220;Sedangkan\ndari sisi pelaku usaha sawit baik hulu maupun hilir tentunya juga tidak mau\ndirugikan akibat adanya DMO ini terutama dari sisi harga,&#8221; tegas Elvi\nkepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>, Kamis (16\/7). Namun Elvi\ntidak menampik bahwa penerapan DMO ini tentunya bisa membuat penjualan domestik\nmeningkat secara drastis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/begini-tanggapan-mahkota-group-mgro-soal-kebijakan-dmo-minyak-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Jawapos.com | Kamis, 16 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemkab-EMP Malacca Straits Bahas Eksplorasi Minyak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bupati Siak Alfedri didampingi Asisten Ekbang Setdakab Siak\nHendrisan, menerima kunjungan GM EMP Malacca Straits beserta anggota di Komplek\nAbdi Praja Kediaman Bupati Siak, Selasa (14\/7) petang. Kunjungan tersebut untuk\nsilaturahmi, sekaligus membahas eksplorasi minyak di anjungan lepas pantai (off\nshore) Selat Lalang,&nbsp; Kecamatan Sungai Apit. Bupati mengatakan, ada\npotensi eksplorasi dan eksploitasi di off shore Selat Lalang. Jika dilakukan\npenambangan, bisa menambah pendapatan daerah begitu juga potensi gas di KITB\nyang juga luar biasa. Ke depan mudah-mudahan ada kerja sama antara Malacca\nStraits dengan BOB traktor bergerak di CPP Blok antara BSP dengan Pertamina\nHulu, yang tentu sumber gasnya berasal dari Malacca Straits untuk power plant\nyang ada di Pusako. \u201cSaya harapkan bisa membantu untuk ketersediaan energi\nlistrik dan operasional di BOB,&#8221; sebutnya. Bupati Alfedri berharap ke depan\nMalacca Straits bisa mengembangkan biodiesel di Siak. Begitu juga dengan lahan\nKITB yang bisa dikerjasamakan be to be antara Malacca Straits dengan pengelola\nKITB. Tentunya Siak punya bahan baku untuk biodiesel ini, salah satunya dari\nCPO pabrik-pabrik kelapa sawit yang ada di Kabupaten Siak. &#8220;Mudahan\npertemuan hari ini bisa ditingkatkan, dan dilanjutkan di masa yang akan datang.\nSaya harapkan sinergi yang baik bagi pengembangan daerah, dan juga untuk\npeningkatan kemampuan pengelolaan perminyakan dan gas yang ada di Malacca\nStraits,&#8221; katanya. GM EMP Malacca Straits Kelik Rudi Sunarya mengatakan,\nkehadiran mereka di Kabupaten Siak bersilaturahmi, juga berkomitmen untuk\nmeningkatkan produksi minyak dan gas terutama yang berada di wilayah Siak. &#8220;Saat\nini kami sedang fokus melakukan eksplorasi di wilayah Kabupaten Meranti. Tahun\ndepan kami akan fokus eksplorasi di anjungan lepas pantai (offshore) untuk\nmelakukan studi dan kegiatan.&nbsp; &nbsp;Terakhir, Kelik mengharapkan dengan\nditemukannya cadangan minyak yang baru bisa menambah PAD maupun lapangan\npekerjaan untuk masyarakat sekitar, terutama dalam kondisi pandemi Covid-19\nseperti ini.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/riaupos.jawapos.com\/siak\/16\/07\/2020\/234975\/pemkabemp-malacca-straits-bahas-eksplorasi-minyak.html\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Oto.com | Kamis, 16 Juli\n2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Penerapan Euro 4 Diesel di Indonesia Ditunda, Ini Tanggapan\nPabrikan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Lantaran pandemi COVID-19, pemerintah akhirnya menunda kebijakan\nEuro 4 untuk mesin diesel. Semula dijadwalkan April 2021 harus mundar menjadi\nApril 2022. Sebelumnya KLHK pada 2017 merilis aturan emisi Euro 4 yang diatur\ndalam P.20\/MENLHK\/SETJEN\/KUM.1\/3\/2017. Isinya tentang baku mutu emisi gas buang\nkendaraan bermotor tipe baru kategori M, N, dan O atau standar emisi Euro 4.\nDan agen pemegang merek setuju dengan regulator lantaran ada sejumlah kendala.\nNah, dalam beleid itu, penggunaan minimal angka oktan (RON) yang digunakan\nkendaraan berbahan bakar bensin minimal 91. Sedangkan untuk diesel adalah\ndengan cetane number (CN) minimal 51. Kemudian keluarlah revisi penundaan KLHK.\nNo S 786\/MENLHKPPKL\/SET\/PKL.3\/5\/2020 per Mei kemarin. Karena sejumlah sektor\nterimbas, uji coba pun ikut mundur. Isuzu Astra Motor Indonesia (IAMI) sebagai\nanggota Gaikindo, mengikuti aturan berlaku. Hal ini didasari pada loyonya\nekonomi yang membuat pebisnis enggan berinvestasi pada kendaraan niaga. APM\nmelihat, itu bisa memberatkan pelaku usaha karena ongkos modal untuk\npenggantian seluruh armada tidak murah. &nbsp;\u201cSejak pemerintah mengatakan\nbakal mengimplementasi Euro 4, maka kami segera bersiap diri. Begitu pula\ndengan kebijakan bahan bakar bio diesel B30. Seluruh engineer kami di Indonesia\nkerja bareng prinsipal di Jepang, untuk segera menyiapkan produk yang sesuai\nketentuan,\u201d ungkap Ernando Demily, Presiden Direktur PT Isuzu Astra Motor\nIndonesia. Meski demikian, sebagai perusahaan manufaktur kendaraan niaga, IAMI\nmengaku tetap mendukung aturan pemerintah. Khusus pada penerapan standardisasi\nEuro 4. Sebab, menurut mereka, dalam jangka panjang regulasi itu dapat\nmeningkatkan daya saing industri otomotif Indonesia di level global. Pabrikan\nbahkan siap dengan teknologi mesin commonrail sejak 2011 yang menjadi standar\npada saat kebijakan emisi gas buang diterapkan. \u201cKami memiliki Isuzu Giga,\nmedium truk pertama di Indonesia yang sudah menggunakan mesin commonrail. Jadi\nsangat siap dengan Euro 4. Walau begitu, saat ini kami sedang menyiapkan segala\nsesuatunya. Sehingga pada saat penerapan aturan berlangsung, seluruh ekosistem\nkami telah siap,\u201d tambah pria yang karib dipanggil Nando.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tantangan Bisnis<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berdasar data Bloomberg Economic Growth Forecast (survey Juni\n2020). Proyeksi pertumbuhan kuartal kedua 2020 memburuk di semua negara.\nTermasuk Indonesia yang diperkirakan bakal dekaden 3,1 persen. Maka tuntukan\nbisnis ke depan ialah keseimbangan antara isu kesehatan dan ekonomi. Untuk itu\nsebuah manufaktur mesti ambil pola pikir dan pendekatan bisnis berbeda. Isuzu\nmengaku, dalam menghadapi disrupsi akibat COVID-19 bakal mengaplikasi strategy\n4R. Yaitu Reaction, Recession, Rebound dan Reimagine. Kata krisis, ungkap\nNando, terdiri dari dua makna yaitu thread (ancaman) dan opportunity\n(kesempatan). Saat ini titik keseimbangan antara keduanya sedang bergerak\nsangat kuat. Isuzu mengaku ingin mengambil dari sisi positif. Artinya, ada\ntantangan plus kesempatan untuk bertumbuh. Asalkan memiliki kemampuan untuk\nberadaptasi dengan tetap memiliki fondasi yang kuat . Perusahaan yakin, antara\nindustri logistik dan otomotif kendaraan komersial tetap punya kesempatan.\nKarena pada saat apapun, tetap ada kebutuhan logistik. Dan selama logistik\nberjalan maka kebutuhan pada kendaraan komersial masih ada. \u201cPada segmen logistik\ndalam menghadapi kondisi baru. Selain peningkatan biaya operasional untuk\nprotokol kesehatan, ditambah juga dengan peraturan pemerintah seperti ODOL,\nemisi gas buang pada 2022. Maka penggunaan teknologi digitalisasi yang semakin\ngencar tentu saja dapat beimplikasi pada peningkatan nilai investasi,\u201d imbuh\ndia. Dalam sudut pandang manufaktur, solusinya dalam meningkatkan produktivitas\nyaitu melalui tiga cara. Pertama, memiliki unit yang sesuai dengan kebutuhan\nbisnis. Pastikan kemudahan dan kecepatan dalam after sales agar tidak langsam.\nTerakhir, berusaha menciptakan biaya operasional kian kompetitif.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.oto.com\/berita-truk\/penerapan-euro-4-diesel-di-indonesia-ditunda-ini-tanggapan-pabrikan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Kamis,\n16 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sukses D-100, Pertamina Siap Produksi Green Energy<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sukses memproduksi Green Diesel (D-100) melalui pengolahan\nminyak sawit 100%, PT Pertamina (Persero) terus melangkah maju dan siap\nmemproduksi green energy lainnya, seperti Green Gasoline dan Green Avtur dari\nkilang dalam negeri pada tahun-tahun mendatang. Direktur Utama Pertamina, Nicke\nWidyawati menjelaskan Pertamina memiliki tugas dan peran penting menjalankan\namanah dari pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional, untuk itu\nPertamina terus berupaya menghadirkan inovasi-inovasi yang dapat berdampak luas\nbagi bangsa dan negara Indonesia. Langkah ini sesuai arahan Presiden Joko Widodo\nyang menekankan pentingnya menghasilkan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan\nmendayagunakan sumber daya alam domestik untuk membangun ketahanan,\nkemandirian, dan kedaulatan energi nasional. &#8220;Pertamina menyampaikan\nterima kasih atas dukungan pemerintah dan semua pihak agar Pertamina terus\nmengembangkan green energy seperti B30 dan B50 serta D-100. Pertamina telah\nmenyelesaikan penyiapan kilang dan katalis merah putih, yang nantinya akan\ndilanjutkan dengan kajian keekonomian&#8221; ujar Nicke di sela-sela kunjungan\nke fasilitas pengolahan RBDPO di Kilang Dumai, Riau, Rabu (15\/7). Saat\nkunjungan ke Kilang Dumai, Wakil Direktur Utama PT Kilang Pertamina\nInternasional, Budi Santoso Syarif mengatakan bahwa selain Green Diesel saat\nini Pertamina juga tengah mengembangkan BBN lain berbahan sawit yaitu Green\nGasoline dan Green Avtur &#8220;Untuk Green Gasoline, Pertamina sudah melakukan\nuji coba sejak 2018, 2019 dan 2020 di Kilang Plaju dan Cilacap. Namun uji coba\ntersebut baru mampu mengolah minyak sawit RBDPO sebesar 20%. Sedangkan ujicoba\nmengolah minyak sawit menjadi Green Avtur akan dilakukan di akhir tahun 2020\njuga di Kilang Cilacap&#8221; ungkapnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Budi, walaupun ujicoba Green Gasoline yang dilakukan\nPertamina baru mampu mengolah minyak sawit sebesar 20% namun hal ini adalah\nyang pertama di dunia mengingat mengolah minyak sawit menjadi Green Gasoline\nbelum pernah dilakukan dalam skala operasional. &#8220;Mengolah minyak sawit\nmenjadi green diesel sudah dilakukan juga oleh beberapa perusahaan lain di\ndunia, namun mengolah minyak sawit menjadi green gasoline belum pernah\ndilakukan di dunia dan Pertamina adalah yang pertama karena selama ini hal\ntersebut masih sebatas skala laboratorium untuk riset&#8221; lanjut Budi Selain\nDumai, Pertamina juga akan membangun Standalone Biorefinery di Cilacap dengan\nkapasitas 6.000 barel per hari dan Standalone Biorefinery di Plaju dengan\nkapasitas 20.000 barel per hari. Kedua standalone Biorefinery ini kelak akan\nmampu memproduksi Green Diesel maupun Green Avtur dengan berbahan baku 100%\nminyak nabati. Budi menambahkan, tantangan ke depan, Pertamina tidak hanya\nmengembangkan green energy dari CPO atau sawit, tetap juga dari sumber daya\nlainnya seperti algae, gandum, sorgum dan sebagainya. Pertamina akan terus\nmendayagunakan segala sumber daya alam domestik, untuk mendukung kemandirian\ndan kedaulatan energi nasional. Sekarang ini, lanjut Budi, Pertamina terus\nberusaha untuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di Indonesia dengan\nmengoptimalkan market yang ada dalam negeri, karena cukup besar. Mengolah\nkelapa sawit menjadi bahan bakar memiliki TKDN (Total Kandungan Dalam Negeri)\nyang amat sangat tinggi dan berpotensi mengurangi defisit transaksi negara,\nkarena sawit adalah bahan baku domestik yang transaksinya dilakukan dengan mata\nuang rupiah, dengan begitu akan berdampak positif pada pertumbuhan perekonomian\nnasional. Sebagaimana diketahui, Pertamina telah menggunakan FAME untuk program\nbiodiesel sejak tahun 2006 dan hingga tahun 2017, selama 11 tahun, penyerapan\nFAME mencapai 9,2 juta KL. Pada tahun 2018, Pertamina menjalankan Program B20\ndimana penyerapan FAME sebesar 3,2 juta KL yang pencampurannya dilakukan di 69\nlokasi. Melalui Program B30, pada tahun 2019, penyerapan FAME meningkat tajam\nsebesar 5,5 juta KL dan tahun 2020 ditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL.<\/p>\n\n\n\n<p>Implementasi program B20 dan B30 di tahun 2019 telah menghemat\ndevisa negara sebesar Rp 43,8 triliun dan tahun 2020, Pertamina menargetkan\npenghematan devisa sebesar Rp 63,4 triliun dengan serapan tenaga kerja sebanyak\n1,2 juta orang. &#8220;Seiring berjalannya waktu terdapat trend shifting pada\npenggunaan bahan bakar, yaitu semula bahan bakar fosil perlahan bergeser ke\nbahan bakar terbarukan. Pola pemenuhan energi nasional pun mengalami perubahan\ndari sebelumnya mengandalkan foreign supply menjadi domestik supply. Untuk itu\nkita harus terus berupaya memaksimalkan dalam hal pemberdayaan dan pengelolaan\nsumber daya lokal yang kita miliki,&#8221; pungkas Budi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20200716224025-4-173394\/sukses-d-100-pertamina-siap-produksi-green-energy\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sawitindonesia.com | Kamis,\n16 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pungutan Ekspor dan B30 Penopang Industri Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah menunjukkan keberpihakannya untuk mendukung\nkeberlangsungan industri sawit. Agar program B30 tetap berjalan, pungutan\nekspor dinaikkan. Di sisi lain, peremajaan sawit terus digenjot mencapai target\n500 ribu ha. Di pertengahan Juni 2020, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto,\nmenjelaskan upaya pemerintah menjaga industri sawit di kala pandemi. Fokus\npemerintah melanjutkan program strategis seperti Peremajaan Sawit Rakyat dan\nB30. Melalui Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDP-KS), pemerintah\nakan mengucurkan tambahan dana sebesar Rp2,78 triliun bagi pengembangan di\nsektor hulu yang mencakup peremajaan, sarana dan prasarana, serta pembinaan\nsumberdaya manusia di sektor sawit. Menurut Airlangga, kegiatan replanting ini\ndiharapkan menjadi cara menyuplai kebutuhan minyak sawit sebagai bahan baku\nbiodiesel campuran 30% atau B30. Program B30 ditargetkan akan selesai sampai\npengujung 2020. Selanjutnya, campuran biodiesel ditingkatkan menjadi 40% atau\nB40 dengan teknologi destilasi diharapkan berjalan pada 2022. Pengembangan\nGreen Refinery (D100 atau green diesel) akan berjalan pada 2026. Dalam\npandangan Airlangga, pemerintah tetap melanjutkan program strategis seperti B30\nyang telah berjalan semenjak awal tahun ini. Program ini dinilai mampu menghemat\ndevisa negara untuk impor solar.<\/p>\n\n\n\n<p>Walaupun, saat ini harga minyak bumi jatuh sehingga memperlebar\nselisih harga minyak bumi dengan FAME. Sebagai informasi, Harga Indeks Pasar\n(HIP) untuk jenis Bahan Bakar Nabati (BBN) Biodiesel bulan Mei 2020 sebesar Rp\n8.494\/liter. Sedangkan Harga Indeks Pasar solar sebesar Rp 3.083,14\/liter.\nBesarnya selisih harga solar dan biodiesel inilah sebagai insentif yang akan\ndibayarkan BPDP-KS. Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kemenkeu Febrio\nKacaribu mengatakan bahwa kondisi adanya gap atau jarak antara harga indeks\npasar (HIP) bahan bakar nabati (BBN) dan HIP solar pada saat ini membuat\nkebutuhan subsidi meningkat. Adanya gap yang besar tersebut membuat insentif\nyang seharusnya diberikan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit\n(BPDP-KS) tak lagi mencukupi karena kondisi keuangan yang tidak baik \u201cSaat ini\nposisi keuangannya tidak mungkin untuk meng-cover insentif itu hingga akhir\ntahun, cukup besar gapnya antara HIP,\u201d ujarnya seperti dilansir dari <a href=\"http:\/\/bisnis.com\">bisnis.com<\/a> pada Mei 2020. Solusinya adalah\npemerintah telah menaikkan pungutan ekspor sawit dan mengucurkan dana untuk\nmenopang program sawit di bawah BPDP Kelapa sawit termasuk B30. Kebijakan\nmenaikkan pungutan ekspor telah dimulai semenjak 1 Juni 2020. Peraturan Menteri\nKeuangan Nomor 57\/ PMK. 05\/ 2020 tentang Tarif Layanan Badan LayananUmum dan\nBadan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit pada Kementerian Keuangan. Beleid\nitu ditandatangani Sri Mulyani, Menteri Keuangan pada 29 Mei 2020 lalu. Merujuk\nlampiran PMK 57\/2020, Kementerian Keuangan menetapkan 24 jenis layanan dengan\ntarif tunggal berkisar US$0 hingga US$55 per ton. Dalam aturan pendahulunya,\ntarif pungutan maksimal US$50 per ton. \u201cIni (pungutan ekspor) seperti\ndisebutkan presiden, sharing the pain, diantara pemerintah, masyarakat, dan\npelaku usaha sehingga industri sawit bertahan saat Covid-19 ini,\u201d ucap Dr.\nFadhil Hasan, Ekonom INDEF, dalam sebuah diskusi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-majalah-sawit-indonesia\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/sawitindonesia.com\/pungutan-ekspor-dan-b30-penopang-industri-sawit\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Kamis, 16 Juli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tak cuma Diesel 100% sawit, Pertamina siap produksi Bensin &amp;\nAvtur dari 100% sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setelah sukses memproduksi Green Diesel (D-100) melalui pengolahan\nminyak sawit 100%, PT Pertamina (Persero) terus melangkah maju dan siap\nmemproduksi green energy lainnya, seperti Green Gasoline dan Green Avtur dari\nkilang dalam negeri pada tahun-tahun mendatang. Direktur Utama Pertamina, Nicke\nWidyawati menjelaskan Pertamina memiliki tugas dan peran penting menjalankan\namanah dari pemerintah untuk menjaga ketahanan energi nasional, untuk itu\nPertamina terus berupaya menghadirkan inovasi-inovasi yang dapat berdampak luas\nbagi bangsa dan negara Indonesia. Langkah ini sesuai arahan Presiden Joko\nWidodo yang menekankan pentingnya menghasilkan Bahan Bakar Nabati (BBN) dengan\nmendayagunakan sumber daya alam domestik untuk membangun ketahanan,\nkemandirian, dan kedaulatan energi nasional. \u201cPertamina menyampaikan terima\nkasih atas dukungan pemerintah dan semua pihak agar Pertamina terus\nmengembangkan green energy seperti B30 dan B50 serta D-100. Pertamina telah menyelesaikan\npenyiapan kilang dan katalis merah putih, yang nantinya akan dilanjutkan dengan\nkajian keekonomian\u201d ujar Nicke di sela-sela kunjungan ke fasilitas pengolahan\nRBDPO di Kilang Dumai, Riau, Rabu (15\/7).<\/p>\n\n\n\n<p>Saat kunjungan ke Kilang Dumai, Wakil Direktur Utama PT Kilang\nPertamina Internasional, Budi Santoso Syarif mengatakan bahwa selain Green\nDiesel saat ini Pertamina juga tengah mengembangkan BBN lain berbahan sawit\nyaitu Green Gasoline dan Green Avtur \u201cUntuk Green Gasoline, Pertamina sudah\nmelakukan uji coba sejak 2018, 2019 dan 2020 di Kilang Plaju dan Cilacap. Namun\nuji coba tersebut baru mampu mengolah minyak sawit RBDPO sebesar 20%. Sedangkan\nujicoba mengolah minyak sawit menjadi Green Avtur akan dilakukan di akhir tahun\n2020 juga di Kilang Cilacap\u201d ungkapnya. Menurut Budi, walaupun ujicoba Green\nGasoline yang dilakukan Pertamina baru mampu mengolah minyak sawit sebesar 20%\nnamun hal ini adalah yang pertama di dunia mengingat mengolah minyak sawit\nmenjadi Green Gasoline belum pernah dilakukan dalam skala operasional.\n\u201cMengolah minyak sawit menjadi green diesel sudah dilakukan juga oleh beberapa\nperusahaan lain di dunia, namun mengolah minyak sawit menjadi green gasoline\nbelum pernah dilakukan di dunia dan Pertamina adalah yang pertama karena selama\nini hal tersebut masih sebatas skala laboratorium untuk riset\u201d lanjut Budi<\/p>\n\n\n\n<p>Selain Dumai, Pertamina juga akan membangun Standalone Biorefinery\ndi Cilacap dengan kapasitas 6.000 barel per hari dan Standalone Biorefinery di\nPlaju dengan kapasitas 20.000 barel per hari. Kedua standalone Biorefinery ini\nkelak akan mampu memproduksi Green Diesel maupun Green Avtur dengan berbahan\nbaku 100% minyak nabati. Budi menambahkan, tantangan ke depan, Pertamina tidak\nhanya mengembangkan green energy dari CPO atau sawit, tetap juga dari sumber\ndaya lainnya seperti algae, gandum, sorgum dan sebagainya. Pertamina akan terus\nmendayagunakan segala sumber daya alam domestik, untuk mendukung kemandirian\ndan kedaulatan energi nasional. Sekarang ini, lanjut Budi, Pertamina terus berusaha\nuntuk mengoptimalkan sumber daya yang ada di Indonesia dengan mengoptimalkan\nmarket yang ada dalam negeri, karena cukup besar. Mengolah kelapa sawit menjadi\nbahan bakar memiliki TKDN (Total Kandungan Dalam Negeri) yang amat sangat\ntinggi dan berpotensi mengurangi defisit transaksi negara, karena sawit adalah\nbahan baku domestik yang transaksinya dilakukan dengan mata uang rupiah, dengan\nbegitu akan berdampak positif pada pertumbuhan perekonomian nasional.\nSebagaimana diketahui, Pertamina telah menggunakan FAME untuk program biodiesel\nsejak tahun 2006 dan hingga tahun 2017, selama 11 tahun, penyerapan FAME\nmencapai 9,2 juta KL.<\/p>\n\n\n\n<p>Pada tahun 2018, Pertamina\nmenjalankan Program B20 dimana penyerapan FAME sebesar 3,2 juta KL yang\npencampurannya&nbsp; dilakukan di 69 lokasi. Melalui Program B30, pada tahun\n2019, penyerapan FAME meningkat tajam sebesar 5,5 juta KL dan tahun 2020\nditargetkan meningkat menjadi 8,38 juta KL. Implementasi program B20 dan B30 di\ntahun 2019 telah menghemat devisa negara sebesar Rp 43,8 triliun dan tahun\n2020, Pertamina menargetkan penghematan devisa sebesar Rp 63,4 triliun dengan\nserapan tenaga kerja sebanyak 1,2 juta orang. \u201cSeiring berjalannya waktu\nterdapat trend shifting pada penggunaan bahan bakar, yaitu semula bahan bakar\nfosil perlahan bergeser ke bahan bakar terbarukan. Pola pemenuhan energi\nnasional pun mengalami perubahan dari sebelumnya mengandalkan foreign supply\nmenjadi domestik supply. Untuk itu kita harus terus berupaya memaksimalkan\ndalam hal pemberdayaan dan pengelolaan sumber daya lokal yang kita miliki,\u201d\npungkas Budi<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/tak-cuma-diesel-100-sawit-pertamina-siap-produksi-bensin-avtur-dari-100-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Media Indonesia | Jum\u2019at, 17\nJuli 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menperin Pacu Produksi Green Diesel Berkualitas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PEMERINTAH berkomitmen untuk konsisten menerapkan kebijakan\nmandatory biodiesel 30% (B30) sejak Desember 2019 hingga saat ini. Bahkan,\npemerintah bertekad untuk meningkatkannya sampai 40%, 50%, hingga 100%. Hal itu\ndilakukan untuk mengurangi tingginya impor bahan bakar minyak (BBM).\n&#8220;Presiden (Joko Widodo) juga telah memerintahkan untuk menambah komposisi\npencampuran bahan bakar nabati untuk jenis diesel sampai dengan 40%, 50%,\nhingga 100% untuk menunjukkan kedaulatan energi nasional yang mandiri dan\nberdikari,&#8221; kata Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang\nKartasasmita melalui keterangan resminya, kemarin. Guna mewujudkan instruksi\nPresiden Joko Widodo tersebut, sambung Agus, rekayasa produk serta proses\nproduksi diesel hijau yang berkualitas tinggi dan keekonomian yang bersaing\nmerupakan kunci utama. Dalam hal ini, tim peneliti dari PT Pertamina (Persero)\ndan Institut Teknologi Bandung (ITB) telah berhasil melakukan rekayasa\nco-processing minyak sawit, yang membuat Indonesia menjadi salah satu referensi\nteknologi produksi biofuel dunia. Menperin menyampaikan hal tersebut ketika\nmelakukan kunjungan kerja di PT Pertamina (Persero) Refinery Unit II Dumai,\nProvinsi Riau. Di Dumai, Menperin menyaksikan langsung hasil karya riset dan\naplikasi teknologi produksi green diesel (bahan bakar diesel hijau) dari minyak\nsawit. &#8220;Kami sangat mengapresiasi hasil kerja keras, ketekunan, dan kepiawaian\ntim dari ITB di bawah pimpinan Prof Dr Soebagjo beserta tim peneliti PT\nPertamina yang telah berhasil mewujudkan teknologi produksi green diesel secara\nstand alone dengan katalis Merah Putih made in Indonesia,&#8221; paparnya. Agus\nmenambahkan, pengembangan industri diesel hij au merupakan salah satu program\npemerintah untuk meningkatkan kelas petani rakyat sebagai stakeholder utama\nindustri sawit nasional. &#8220;Artinya, program ini akan lebih banyak\nmemberikan kesejahteraan bagi para petani kelapa sawit. Selain itu, program\nmandatory biodiesel, termasuk B30, juga telah dirancang dan dijalankan secara\nkonsisten untuk mencegah turunnya harga CPO global akibat fenomena oversupply\ndunia,&#8221; tuturnya. Dia menambahkan, selain memacu produksi bahan bakar\nnabati, Ke-menperin juga akan fokus pada program pengembangan sistem kemitraan\nagrobisnis antara sektor industri pengolahan sebagai pengguna minyak nabati dan\nkelompok tani atau koperasi tani sebagai penyedia bahan baku. <\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Kontan.co.id | Kamis, 16 Juli 2020 Soal wacana DMO sawit, pelaku industri sarankan perlunya kajian terlebih dahulu Wacana kewajiban pasokan dalam negeri (Domestic Market Obligation\/DMO) minyak sawit mentah (CPO) mulai bergulir. Setelah dikabarkan Pertamina telah mampu memproduksi Biodiesel 100 atau B100 yang seratus persen bahan baku dari nabati. Pertamina meminta pemerintah dapat membuat aturan DMO [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4242","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4242","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4242"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4242\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4939,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4242\/revisions\/4939"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4242"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4242"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4242"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}