{"id":4295,"date":"2020-08-26T02:41:02","date_gmt":"2020-08-26T02:41:02","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4295"},"modified":"2021-05-27T03:58:07","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:07","slug":"pemerintah-perlu-kelola-risiko-proyek-lumbung-pangan-biodiesel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/pemerintah-perlu-kelola-risiko-proyek-lumbung-pangan-biodiesel\/","title":{"rendered":"Pemerintah Perlu Kelola Risiko Proyek Lumbung Pangan &#038; Biodiesel"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Katadata.co.id\">Katadata.co.id<\/a> | Selasa, 25\nAgustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Perlu Kelola Risiko Proyek Lumbung Pangan &amp;\nBiodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah tengah menggarap mega proyek Lumbung Pangan dan\nBiodiesel guna menjaga ketahanan pangan dan energi. Head of Environmental\nStudies LPEM UI Alin Halimatussadiah mengingatkan kedua proyek ini memiliki\nrisiko terhadap lingkungan, bahkan sosial jika tidak dikelola dengan baik.\n&#8220;Ada beberapa pertanyaan yang perlu dijawab dalam pengelolaan risiko,\nmisalnya apakah kita perlu 1 juta hektare. Bagaimana meningkatkan produktifitas\ndari lahan yang sudah ada untuk mega rice project ,&#8221; ujar Alin\nHalimatussadiah dalam Webinar Sustainable Economic Recovery in Indonesia :\nOpportunities and Challanges bagian dari SAFE Forum 2020 yang diselengarakan <a href=\"http:\/\/Katadata.co.id\">Katadata.co.id<\/a>, Selasa (25\/8). Selain itu,\npemerintah juga perlu menjamin proyek ini tak merusak hutan dan menganggu\nkonsevasi hewan liar melalui regulasi dan perencanaan tata ruang. Pemerintah\njuga perlu memastikan apakah proyek ini terintegrasi dengan program reformasi\nagraria. Sementara pada proyek biodiesel, pemerintah perlu memastikan apakah\nproyek B30 hingga B11 dapat dicapai tanpa memperluas area penanaman sawit dan\napakah moratorium kebun sawit tetap akan berlanjut.<\/p>\n\n\n\n<p>Keberlanjutan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit juga\nperlu dijaga agar tak memerlukan suntikan anggaran dari pemerintah. Selain itu,\nperlu ada keberpihakan bagi para petani kecil. &#8220;Seluruh safeguard ini\npenting untuk mengelola risiko,&#8221; katanya. Pemerintah tengah bersiap\nmenjalankan proyek lumbung pangan atau food estate di Kalimantan Tengah. Tahap\npertama dimulainya proyek ketahanan pangan ini akan ditandai dengan penanaman\npadi perdana pada Oktober 2020. Penanaman padi tahap pertama di atas lahan\nseluas 30.000 hektare. Selain menanam padi sebagai komoditas utama pemerintah\njuga akan menanam produk hortikultura, perkebunan, hingga peternakan itik.\nPemerintah juga tengah mendorong ketahanan energi antara lain melalui penerapan\nprogram biodiesel 30% atau B30 demi menekan impor minyak. Pada tahun ini,\nPertamina juga telah menciptakan katalis untuk pembuatan D100 yakni bahan bakar\ndiesel yang 100% dibuat dari mintak sawit dan tengah memasuki tahap uji\nproduksi di dua kilang.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/katadata.co.id\/agustiyanti\/berita\/5f44bcd2b1c9b\/pemerintah-perlu-kelola-risiko-proyek-lumbung-pangan-biodiesel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Selasa, 25\nAgustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Astra Otoparts (AUTO) sedang kaji komponen kendaraan ramah\nlingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Astra Otoparts Tbk (AUTO) akui tengah mempelajari sejumlah\nkomponen otomotif yang dibutuhkan untuk implementasi kebijakan B20 hingga B100\ndan kendaraan listrik. Hal ini dilakukan untuk mempersiapkan perubahan\nkebutuhan komponen kendaraan di masa yang akan datang.&nbsp; Presiden Direktur\nAUTO, Hamdhani Dzulkarnaen Salim mengatakan dengan dijalankannya kebijakan\nBiodiesel 20 (B20) hingga B100 nanti serta adanya kendaraan listrik akan\nmengubah kebutuhan komponen otomotif. &nbsp;&#8220;Untungnya kami punya divisi\nriset dan pengembangan (R&amp;D) yang dari beberapa tahun lalu terus berusaha\nmempersiapkan diri dengan mengidentifikasi kira-kira komponen apa saja yang\ndibutuhkan pada saat sampai B100. Tentu akan ada perubahan apalagi untuk\nkendaraan listrik,&#8221; jelasnya dalam paparan publik secara virtual, Selasa\n(25\/8).&nbsp; Hamdhani menjelaskan perihal komponen mobil listrik tentu saja\nAstra Otoparts berkeinginan menjadi pemain komponen utama. Agar mencapai\nharapannya tersebut, saat ini perusahaan dalam tahap studi dan riset serta\nmelaksanakan kolaborasi dengan berbagai instansi dalam negeri dan luar\nnegeri.&nbsp; &#8220;Kami juga mempelajari peluang yang akan timbul nanti apakah\nitu di komponen kendaraan listrik, apakah itu baterai, komponen elektronik\nseperti battery management system dan sebagainya. Itu semua ada di studi kami\nsaat ini,&#8221; kata Hamdhani.&nbsp; Hamdhani berharap saatnya nanti, Astra\nOtoparts tetap berkiprah menjadi pemain komponen utama di Indonesia dan di\nkawasan regional.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/astra-otoparts-auto-sedang-kaji-komponen-kendaraan-ramah-lingkungan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Katadata.co.id\">Katadata.co.id<\/a> | Selasa, 25\nAgustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Aksi Kolektif Ubah Jelantah Jadi Berharga<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel telah banyak\ndiimplementasikan di berbagai tempat. Upaya ini dilakukan oleh berbagai pihak\nmulai dari NGO, badan usaha, hingga komunitas desa. Beberapa di antaranya\nadalah Lengis Hijau yang merupakan NGO lingkungan di Denpasar, gerakan Jelantah4Change\ndi Balikpapan, GenOil di Makassar, dan Belijelantah.com di Jakarta. Ada juga\nBadan Usaha Milik Desa (BUMDes) seperti BUMDes Panggung Lestari di Kabupaten\nBantul dan BUMDes Berkah Bersama di Kabupaten Tabalong. Selain itu, terdapat\nKelompok Swadaya Masyarakat (KSM) seperti KSM Peduli Lingkungan di Tarakan,\nKalimantan Utara. Sedangkan badan usaha yang melakukan penyaluran minyak\njelantah menjadi biodiesel ialah CV. Artha Metro Oil yang berpusat di Jakarta\ndan Kabupaten Sidoarjo. Daur ulang minyak jelantah menjadi bahan baku biodiesel\nini memberi manfaat ekonomi. Studi International Council on Clean\nTransportation (ICCT) pada 2018 menunjukkan, minyak jelantah di berbagai kota\ndijual dengan harga beragam. Mulai dari harga Rp 2.500 hingga Rp 4.700 per\nliternya. Pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel telah sejak lama dimulai\ndi Indonesia. Beberapa wilayah sudah memulai langkah ini melalui pembentukan\nperaturan daerah. Di antaranya adalah DKI Jakarta melalui Peraturan Gubernur\nDKI Nomor 167\/2016 tentang Pengelolaan Limbah Minyak Goreng. Sebelumnya, Bogor\njuga telah menerapkan peraturan serupa melalui Peraturan Daerah Kota Bogor\nNomor 1\/2014 tentang Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup. Daur ulang\njelantah untuk biodiesel juga dilakukan pada operasional shuttle bus di Bandara\nSoekarno-Hatta. Sejak 2016, pihak pengelola bandara terbesar di Indonesia ini\ntelah memanfaatkan limbah jelantah dari restoran di kawasan tersebut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/katadata.co.id\/jeany\/infografik\/5f44919c5e8e4\/aksi-kolektif-ubah-jelantah-jadi-berharga\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tempo.co | Selasa, 25 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menko Luhut Akui Ekonomi RI Melambat: Tapi Nasib Lebih Baik dari\nNegara Lain<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar\nPandjaitan mengakui bahwa Indonesia tidak bisa terhindar dari perlambatan\nekonomi dunia akibat dampak pandemi Covid-19. &#8220;Ekonomi Indonesia melambat,\nnamun masih bernasib lebih baik dibandingkan dengan negara berpenghasilan\nmenengah lainnya atau middle income countries,&#8221; ujar Luhut dalam\nkonferensi video, Selasa, 25 Agustus 2020. Untuk mengatasi dampak dari\nCovid-19, Luhut mengatakan pemerintah terus meningkatkan pengujian dan protokol\nkesehatan di masyarakat. Dengan demikian, pemulihan kesehatan meningkat dan\nangka kematian bisa turun secara signifikan. &#8220;Kita berdoa semoga ini dapat\nberepengaruh baik kepada pengembangan ekonomi.&#8221; Guna meningkatkan\nperekonomian Indonesia ke depan, ujar Luhut, pemerintah juga tengah fokus untuk\nmenarik investasi anyar. Caranya, antara lain dengan mengesahkan Omnibus Law,\nkebijakan industrialisasi hilir, dan investasi pada sektor UKM. \u201cDan kita\nberharap hal ini dapat berjalan dengan baik, dan akan mendorong lebih banyak\nlagi investasi ke Indonesia,\u201d tuturnya. Dari sisi kebijakan fiskal, Luhut\nmenuturkan pemerintah tetap memegang prinsip kehati-hatian, dan prinsip\ntersebut sudah dilaksanakan selama bertahun-tahun. Menurut dia, ada dua hal\npenting dalam kebijakan fiskal yang dilaksanakan pemerintah, yakni mengalihkan\nbelanja dari subsidi ke belanja modal, serta Bank Sentral juga bisa mendukung\nperekonomian dengan membeli obligasi pemerintah. &nbsp;\u201cKami mengurangi\nketergantungan pada energi fosil, yakni salah satunya dengan jalan menggunakan\nbio diesel atau B30, dan impor kami terhadap crude oil menurun, oleh karena\nitu, kami memiliki kelonggaran untuk meningkatkan stimulus dan sementara\nmeningkatkan defisit. Bank Indonesia juga mendukung perekonomian dengan membeli\nobligasi pemerintah,\u201d kata Luhut.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/bisnis.tempo.co\/read\/1379459\/menko-luhut-akui-ekonomi-ri-melambat-tapi-nasib-lebih-baik-dari-negara-lain\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Katadata.co.id | Selasa, 25 Agustus 2020 Pemerintah Perlu Kelola Risiko Proyek Lumbung Pangan &amp; Biodiesel Pemerintah tengah menggarap mega proyek Lumbung Pangan dan Biodiesel guna menjaga ketahanan pangan dan energi. Head of Environmental Studies LPEM UI Alin Halimatussadiah mengingatkan kedua proyek ini memiliki risiko terhadap lingkungan, bahkan sosial jika tidak dikelola dengan baik. &#8220;Ada beberapa [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4295","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4295","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4295"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4295\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4920,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4295\/revisions\/4920"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4295"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4295"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4295"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}