{"id":4308,"date":"2020-09-01T14:04:05","date_gmt":"2020-09-01T14:04:05","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4308"},"modified":"2021-05-27T03:58:07","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:07","slug":"bbm-dicampur-sama-tanaman-mobil-tetap-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/bbm-dicampur-sama-tanaman-mobil-tetap-jalan\/","title":{"rendered":"BBM Dicampur Sama Tanaman, Mobil Tetap Jalan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Liputan6.com | Senin, 31 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>BBM Dicampur Sama Tanaman, Mobil Tetap Jalan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ternyata di dalam bahan bakar minyak solar yang dijual di SPBU\ndicampur minyak dari tanaman. Campurannya bahkan sebanyak 30% dan 70% lainnya\nadalah minyak solar. Lho kok bisa? Banyak orang yang belum tahu, apa\nmanfaatnya. Minyak dari tanaman tersebut adalah minyak dari tanaman sawit yang\ndiproses sehingga menjadi senyawa bernama fatty acid methyl ester (FAME). FAME\ninilah yang disebut sebagai biodiesel dan digunakan untuk campuran minyak solar\ndi SPBU dan menjadi bahan bakar kendaraan bermesin diesel. Manfaat luar biasa\nkonsumsi minyak solar di dalam negeri jadi berkurang dan impor solar berkurang.\nSehingga neraca perdagangan migas lebih sehat. Sekarang lagi dilakukan uji coba\nagar pencampuran bisa lebih banyak dari 30 persen menjadi 40%. Per Januari\n2020, pemanfaatan sawit sebagai campuran BBM sudah sampai 30 persen, dikenal\nsebagai B30 (campuran 30% FAME dan 70% solar). Tak hanya menghemat devisa\nkarena mengurangi impor BBM, melalui pemanfaatan sawit untuk B30 memberikan\nmultiplier effect pada penyerapan tenaga kerja (petani sawit), peningkatan\nnilai tambah CPO menjadi biodiesel, pengurangan emisi, hingga peningkatan\nkonsumsi domestik biodiesel. Tak berhenti sampai B30, Badan Penelitian dan\nPengembangan (Balitbang) Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM)\ntengah melakukan kajian terhadap pencampuran 40 persen biodiesel atau B40. Saat\nini sedang dilakukan uji ketahanan 1.000 jam pada engine test bench di\nlaboratorium Pusat Penelitian dan Pengembangan Teknologi Minyak dan Gas Bumi\n&#8220;LEMIGAS&#8221; terhadap dua formulasi B40.<\/p>\n\n\n\n<p>Formulasi yang pertama adalah B40, yakni campuran 60% solar dengan\n40% FAME. Formulasi yang kedua adalah campuran 60% solar dengan 30% FAME dan\n10% Distillated Fatty Acid Methyl Esther (DPME).&nbsp; Setelah uji ketahanan\n1.000 jam selesai, tim kajian B40 akan melakukan persiapan dan pelaksanaan uji\npresipitasi dan stabilitas penyimpanan. Usai seluruh tahapan kegiatan uji\nselesai, akan dilakukan segera melakukan evaluasi, pelaporan, dan penyusunan\nrekomendasi terkait hasil kajian penerapan B40 ini. Selain informasi terkait\nB30 dan B40, ternyata banyak juga yang belum tahu fakta menarik terkait sawit.\nBerikut fakta sawit yang berhasil dihimpun tim Liputan6.com: Pertama, Indonesia\nmemiliki perkebunan kelapa sawit terbesar di dunia dengan jumlah lebih dari 700\nperkebunan kelapa sawit yang dikembangkan di seluruh wilayah Indonesia. Total\nluas lahan sawit sekitar 14,68 juta hektar, dimana 40% dimiliki petani kecil.\nMayoritas produksi sawit Indonesia saat ini diekspor dan menghasilkan devisa\nlebih dari USD20 miliar per tahun. Kedua, produksi sawit secara nasional pada\n2015 sebesar 31,07 juta ton, lalu 2016 sebesar 31,73 ton dan terus meningkat\nsetiap tahunnya. Pada 2019, produksi sawit nasional mencapai 42,87 juta ton.\nPeningkatan produksi sawit nasional tersebut diikuti dengan peningkatan\nproduksi biodiesel berbasis sawit nasional. Adapun produksi biodiesel berbasis\nsawit nasional pada tahun 2016, 2017, 2018 dan 2019 adalah sebesar 3,65 juta\nKL, 3,41 juta KL, 6,16 juta KL, dan 8,37 juta KL. Ketiga, kelapa sawit bukanlah\npenyebab deforestasi. Konvensi hutan primer untuk pemanfaatan lain telah\ndimulai sebelum ekspansi perkebunan kelapa sawit dimulai. Perkebunan sawit\ntumbuh dan menempati lahan yang sudah terdegradasi. Menariknya, kelapa sawit\njustru mengubah lahan terdegradasi menjadi area produktif. Perkebunan kelapa\nsawit yang dikonversi langsung dari hutan produksi hanya sekitar 3%.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.liputan6.com\/bisnis\/read\/4344317\/bbm-dicampur-sama-tanaman-mobil-tetap-jalan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Riauonline.co.id\">Riauonline.co.id<\/a> | Senin,\n31 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Banyak Kebun Sawit, Edwin Pratama Dorong Riau Jadi Pusat\nProduksi B30<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketua DPD RI lakukan kunjungan kerja ke Pekanbaru, bersama jajaran\npemerintah Provinsi Riau dan pemerintah daerah lainnya, Senin, 31 Agustus 2020.\nDalam hal ini ada pembahasan penting terkait produksi B30 atau biosolar.\nMengingat, seluruh pendapatan yang ada di Riau masih ditopang sebagian besar\noleh minyak bumi fosil dan gas bumi. Kebijakan B30 saat ini sedang digalakan\noleh pemerintah pusat melalui Kementrian ESDM. Senator Edwin Pratama Putra dari\nProvinsi Riau terus mendorong pemerintah pusat agar Provinsi Riau mampu menjadi\npusat produksi B30. &#8220;Salah satu agenda kunjugan kerja ini yaitu melihat ke\nPertamina dan Chevron secara langsung, sebab kita dapat informasi di Dumai saat\nini ada produksi B100,\u201d kata Edwin kepada Riau Online. Edwin yang saat ini\nberada di komite dua mencoba mendorong bagaimna pengelolaan ini bisa berada di\nProvinsi Riau. Alasannya menurut Edwin, dilihat dari peta Sumatera, Riau\nmenjadi daerah titik tengah atau pusatnya Sumatera. &#8220;Riau untuk CPO nya\npaling tinggi, dan kenapa pengelolaan itu saat ini di Pulau Jawa? Padahal Riau\nmemiliki potensinya,\u201d tegas senator muda ini. Lanjut Edwin, karena dari\nKementerian ESDM saat ini masih ada tahap pengembangan oleh pemerintah dan UPT\nuntuk ini bisa dikomersilkan B30 tersebut. \u201cSaat ini dari B30 menuju B40, dan\ndari hasil penelitian yang disampaikan oleh pemerintah pusat sebetulnya kita\nsudah bsa B100,\u201d lanjut Edwin. Dijelaskannya lagi, jika hal ini bisa\nditerapkan, maka untuk kedepannya pemerintah daerah tidak perlu lagi ekspor\nkeluar untuk kebutuhan bahan bakar dan minyak. B30 adalah pencampuran antara\nbahan bakar diesel atau solar dengan FAME (Fatty Acid Methyl Ester).\nKomposisinya yaitu 70% solar dan 30% FAME. FAME ini didapatkan dari kelapa\nsawit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.riauonline.co.id\/riau\/read\/2020\/08\/31\/banyak-kebuh-sawit-edwin-pratamadorong-riau-jadi-pusat-produksi-b30\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Merdeka.com | Senin, 31 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah Diminta Tak Bebankan Kinerja Perusahaan BUMN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ekonom Senior, Faisal Basri meminta pemerintah tidak menekan\nkinerja perusahaan Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Sebab, tekanan dan\nbanyaknya tuntutan yang berlebih justru akan mempengaruhi kinerja BUMN menjadi\nburuk. &#8220;Jangan paksa macem-macem, cakep banget buat BUMN. Jangan ada beban\ntambahan. Kan sekarang ini ada beban tambahan,&#8221; kata dia saat rapat dengan\nKomisi XI DPR RI, di Jakarta, Senin (31\/8). Dia khawatir, jika pemerintah\nmendorong BUMN melebihi normal, dunia usaha dan swasta justru akan\nberbondong-bondong keluar. Bahkan, semakin besar peranan BUMN nantinya justru\nsemakin turun pula pertumbuhan ekonominya. Dia mencontohkan. Misalnya saja\nterjadi di PT Pertamina (Persero). Perseroan didorong pemerintah menciptakan\nbahan bakar hayati atau biofuel seperti B100. Sementara B100 itu harganya\nRp18.000. Di tambah, Pertamina harus menanggung biaya subsidi tersebut.\n&#8220;Subsidinya berapa? pemerintah kan tidak punya kemampuan subsidi. Tanggung\nsendiri Pertamina. yang untung siapa? Yang punya biofuel,&#8221; kata dia.\nFasial menambahkan, jika kemudian Menteri BUMN, Erick Thohir menargetkan\nperusahaan pelat merah meningkat PDB-nya itu bukan sama sekali tujuan BUMN dan\nbangsa. Sebab, BUMN jadi ujung tombak. &#8220;Pertamina bisa jual dengan harga\nkompetitif. jadi saya amat takut dengan cara-cara (penekanan). Jadi ayo kita\nlihat BUMN sebagai katalisator yang perannya lebih fair, akan meningkat lebih\nnatural. Jangan sampai membahayakan,&#8221; tandas dia. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.merdeka.com\/uang\/pemerintah-diminta-tak-bebankan-kinerja-perusahaan-bumn.html\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Merdeka.com | Senin, 31 Agustus 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Biodiesel Dinilai Bukan Solusi Kurangi Defisit Perdagangan\nBidang Energi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan biodiesel bukan solusi untuk\nmenghemat dan mengurangi defisit perdagangan energi Indonesia. Menurutnya,\nsalah satu tujuan pengembangan biodiesel adalah untuk menekan impor minyak,\nsehingga memperbaiki transaksi perdagangan dan current account defisit. Namun,\nkenyataannya justru bertolak belakang. &#8220;Untuk menghemat, agar uang kita\ntidak terlalu banyak untuk mengimpor maka diperkenalkan biodiesel.\nItung-itungan kami berdasarkan opportunity cost boro-boro menghemat dan\nmengurangi defisit perdagangan, akibat dari kebijakan biofuel ini malahan naik\ndefisit perdagangannya, dari tahun 2018 Rp 72,1 triliun, dan 2019 Rp 85,2\ntriliun, jadi tidak benar kalau biofuel itu membantu neraca perdagangan,&#8221;\njelas Faisal dalam diskusi bersama dengan Komisi VI DPR RI, secara virtual di\nJakarta, Senin (31\/8). Selain itu, petani sawit sangat dirugikan karena harga\nsawit ditingkat petani semakin tertekan, pengusaha biodiesel menikmati rente\n(zero sum game). &#8220;Jadi petani penderita keuntungannya diambil pengusaha\nbiodiesel,&#8221; ujarnya. Dia menjelaskan, subsidi beralih dari Bahan Bakar\nMinyak (BBM) menjadi subsidi Biodiesel. Dana BPDPKS bulan depan habis,\nakibatnya subsidi sudah dianggarkan tahun ini untuk program B30 sebesar Rp 2,78\ntriliun menjadi atas nama pandemi. &#8220;Pandemi dijadikan alat memberikan\nsubsidi untuk biofuel karena dana BPDPKS nya habis,&#8221; ujarnya. Maka\nmenurutnya butuh tambahan lahan sekitar 5 juta hektar untuk merealisasikan\nprogram B30 dan B40. &#8220;Lahan darimana lagi, lahan di Indonesia sudah\nhabis,&#8221; pungkasnya. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.merdeka.com\/uang\/biodiesel-dinilai-bukan-solusi-kurangi-defisit-perdagangan-bidang-energi.html\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Liputan6.com | Senin, 31 Agustus 2020 BBM Dicampur Sama Tanaman, Mobil Tetap Jalan Ternyata di dalam bahan bakar minyak solar yang dijual di SPBU dicampur minyak dari tanaman. Campurannya bahkan sebanyak 30% dan 70% lainnya adalah minyak solar. Lho kok bisa? Banyak orang yang belum tahu, apa manfaatnya. Minyak dari tanaman tersebut adalah minyak dari [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4308","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4308","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4308"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4308\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4916,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4308\/revisions\/4916"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4308"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4308"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4308"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}