{"id":4331,"date":"2020-09-11T21:48:12","date_gmt":"2020-09-11T21:48:12","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4331"},"modified":"2021-05-27T03:58:07","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:07","slug":"indonesia-brazil-bertukar-ilmu-pengolahan-biofuel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/indonesia-brazil-bertukar-ilmu-pengolahan-biofuel\/","title":{"rendered":"Indonesia-Brazil Bertukar Ilmu Pengolahan Biofuel"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Gatra.com | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Indonesia-Brazil Bertukar Ilmu Pengolahan Biofuel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah melalui Deputi Bidang Penguatan Inovasi, Kementerian\nRiset dan Teknologi\/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek\/BRIN)\nmenjalin kerjasama dengan Kedutaan Besar Brasil di Jakarta untuk berbagi ilmu\nterkait inovasi pengembangan bahan bakar nabati (Biofuel). Keberhasilan\nPertamina dan ITB mengujicoba produksi green diesel D100 dari Refined Bleached\nDeodorized Palm Oil (RBDPO) kelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari di\nKilang Pertamina Dumai telah memberi secercah harapan akan bangkitnya kemandirian\nenergi terbarukan di Indonesia.&nbsp; Disampaikan Menteri Riset dan\nTeknologi\/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek\/Kepala BRIN),\nBambang PS Brodjonegoro, mengatakan bahan bakar nabati berbasis sawit akan\nmenjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat untuk pemulihan ekonomi\nmengingat sektor energi memiliki peranan yang penting dan strategis bagi\nperekonomian nasional. &#8220;Indonesia perlu untuk berubah terhadap\nketergantungan akan bahan bakar fosil menjadi pada bahan bakar terbarukan. Kita\nperlu meningkatkan kapasitas bahan bakar terbarukan dalam energi campuran\nsekitar 23% di tahun 2025 dan harapannya dapat mencapai 31% pada tahun 2050,\nujar Menristek\/Kepala BRIN Bambang PS Brodjonegoro saat hadir secara daring,\nKamis (10\/9). Selain itu, Bambang juga menyampaikan bahwa pemerintah Indonesia\nberkomitmen kuat mendorong inovasi bahan bakar nabati biohidrocarbon sebagai\nsolusi pemenuhan kebutuhan konsumsi bahan bakar dalam negeri yang sejak 2014\nmencapai 1,790,000 barrel per hari. <\/p>\n\n\n\n<p>Selain bahan bakar biohidrocarbon berbasis sawit akan berperan\ndalam substitusi impor, bahan bakar ini juga memberi peluang pemberdayaan\nkorporatisasi petani sawit rakyat dalam industrialisasi IVO (bahan baku\nbiohidrocarbon) dan kilang-kilang bahan bakar biohidrocarbon stand alone kecil\nterintegrasi dengan kebun sawit yang tentunya hal ini akan meningkatkan\nkesejahteraan hidup para petani rakyat. Bahan bakar nabati biohidrocarbon\nberbasis sawit merupakan komoditas sumber daya alam terbarukan di Indonesia\nyang potensi jumlahnya berlimpah. &#8220;Hari ini Indonesia dikenal sebagai\nnegara terbesar penghasil dan pengekspor kelapa sawit, bersaing dengan\nMalaysia. Namun permainan sudah berubah, kita tidak boleh hanya sekedar ekspor\nmaka diperlukan adanya penambahan nilai dari hasil produksi kelapa sawit,&#8221;\ntambah Bambang. Bambang juga mengapresiasi kesempatan yang diberikan pihak\nKedutaan dan Pemerintahan Brazil atau kesediaan untuk bertukar pikiran soal\npengelolaan Biofuel tersebut. Sebagai negara yang telah lebih dulu mengembangkan\nbiofuel, Bambang menyebut ingin banyak belajar dari Brazil. Dia ingin adanya\nperubahan pola pikir masyarakat Indonesia agar lebih memilih energi biofuel\ndari pada energi fosil. &#8220;Kami melihat keberhasilan Brazil yang\nmenghasilkan energi biofuel dari tebu yang menghasilkan gula, lalu menjadi\nethanol sebagai bahan bakar,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/489910\/teknologi\/indonesia-brazil-bertukar-ilmu-pengolahan-biofuel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>JPNN.com | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bambang Brodjonegoro Apresiasi Kolaborasi ITB dan Pertamina<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Riset dan Teknologi (Kemenristek)\/Kepala Badan Riset dan\nInovasi Nasional (BRIN) Bambang Brodjonegoro memberikan apresiasi terhadap\nkolaborasi ITB dan Pertamina dalam mengembangkan inovasi bahan bakar biofuel\nyang berbahan minyak sawit. Keberhasilan Pertamina dan ITB menguji coba\nproduksi green diesel D100 dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO)\nkelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari di Kilang Pertamina Dumai telah\nmemberi secercah harapan akan bangkitnya kemandirian energi terbarukan di\nIndonesia.&nbsp; Dirediksi bahan bakar nabati berbasis sawit akan menjadikan\nperekonomian Indonesia bergerak lebih cepat untuk pemulihan ekonomi mengingat\nsektor energi memiliki peranan penting dan strategis bagi perekonomian\nnasional. &#8220;Indonesia harus melepaskan diri dari ketergantungan bahan bakar\nfosil dan beralih pada bahan bakar terbarukan. Kita perlu meningkatkan\nkapasitas bahan bakar terbarukan dalam energi campuran sekitar 23% di tahun\n2025 dan harapannya dapat mencapai 31% pada 2050,\u201d ujar Bambang Brodjonegoro\nsaat memberikan sambutan dalam Webinar The Development of Biofuels Indonesia &#8211;\nBrazil, Rabu (9\/9) malam. Dia melanjutkan, bahan bakar nabati berbasis sawit\ndiprediksi akan menjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat dan bisa\nmeminimalisir dampak perlambatan ekonomi yang kini mulai melanda banyak negara\ndi dunia.&nbsp; Konsumsi bahan bakar dalam negeri mencapai 1.790.000 barrel\nperhari. Namun kini Pertamina dan ITB telah berhasil memproduksi green diesel\nD100 dari 100% Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) yang di-cracking\nmenggunakan katalis merah putih hasil pengembangan ITB dan Pertamina dengan\nkelapa sawit berkapasitas 1.000 barel perhari. <\/p>\n\n\n\n<p>Dengan demikian dapat membantu kebutuhan bahan bakar fosil dalam\nnegeri yang sangat tinggi. \u201cBahan bakar minyak sawit merupakan komoditas sumber\ndaya alam terbarukan di Indonesia yang jumlahnya berlimpah. Biofuel juga\nmemberi peluang terhadap pemberdayaan petani sawit rakyat dalam industri bahan\nbaku biohidrocarbon, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup mereka,\u201d\npaparnya. Penggunaan bahan bakar green diesel D100 pada kendaraan tidak akan\nmenurunkan kinerja mesin atau menuntut dilakukan modifikasi tertentu pada mesin\nsebagaimana yang terjadi pada kendaraan yang menggunakan bahan bakar biodiesel\nB30 yang berbasis Fatty Acid Methyl Ester (FAME). Pada kesempatan sama Plt.\nDeputi Bidang Penguatan Inovasi Kemenristek\/BRIN Jumain Appe menyampaikan,\nkolaborasi Indonesia dan Brasil dalam webinar ini bertujuan untuk mengetahui\ncara Brasil mengimplementasikan kebijakan pemanfaatan bahan bakar nabati\nberbasis tebu. Brasil akan menyajikan teknologi yang digunakan dalam\nmemproduksi bahan bakar nabati. \u201cKita belajar bagaimana cara Brasil membuat\nkebijakan penentuan harga tebu dan gula. Dengan demikian Indonesia dapat tips\nmembuat regulasi dalam penentuan harga sawit dan minyak sawit. Setelah industri\nbahan bakar nabati sudah stabil, Brasil pun bersedia membeli bahan bakar milik\nkita,\u201d tutur Jumain.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.jpnn.com\/news\/bambang-brodjonegoro-apresiasi-kolaborasi-itb-dan-pertamina\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Menristek: Bahan Bakar Nabati Sawit Jadi Harapan Baru Indonesia<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bahan bakar kendaraan pasti identik dengan bensin atau solar.\nTentunya, bahan bakar itu berasal dari minyak bumi atau fosil yang berasal dari\nbumi. Kerena kebutuhan akan minyak bumi terus meningkat, maka minyak yang ada\ndi bumi pasti lama kelamaan bisa habis. Karena itu dibutuhkan upaya dan inovasi\nagar bahan bakar bisa diperbaharui. Belum lama ini, Pertamina dan ITB berhasil\nmengujicoba produksi green diesel D100 dari Refined Bleached Deodorized Palm\nOil (RBDPO) kelapa sawit.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jadi harapan baru Indonesia <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Per hari, Kilang Pertamina Dumai berhasil memproduksi sebanyak\n1.000 barel. Karenanya hal ini menjadi harapan baru akan bangkitnya kemandirian\nenergi terbarukan di Indonesia. Demikian diungkapkan Menteri Riset dan\nTeknologi\/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional ( Menristek\/Kepala BRIN)\nBambang PS Brodjonegoro pada Webinar The Development of Biofuels\nIndonesia-Brazil: &#8220;Lesson Learned from The Development of Brazilian\nBioethanol-Based Biofuel&#8221; secara virtual pada Rabu (9\/9\/2020) malam. Acara\ntersebut hasil kerjasama Kemenristek\/BRIN melalui Deputi Bidang Penguatan\nInovasi dengan Kedutaan Besar Brasil untuk Indonesia. Menurut Menristek\nBambang, dengan adanya kabar baik itu maka diprediksi bahan bakar nabati\nberbasis sawit akan menjadikan perekonomian Indonesia yang bergerak lebih\ncepat. Tentunya untuk pemulihan ekonomi, mengingat sektor energi memiliki\nperanan yang penting dan strategis bagi perekonomian nasional Indonesia.\n&#8220;Indonesia perlu berubah terhadap ketergantungan akan bahan bakar fosil\nmenjadi pada bahan bakar terbarukan,&#8221; ujar Bambang. Dijelaskan, Indonesia\nperlu meningkatkan kapasitas bahan bakar terbarukan dalam energi campuran\nsekitar 23 persen di tahun 2025, dan harapannya dapat mencapai 31 persen pada\n2050.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Berdampak pada kesejahteraan petani sawit <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Perlu diketahui, kebutuhan konsumsi bahan bakar dalam negeri sejak\n2014 mencapai 1.790.000 barrel per hari. Karena itu dibutuhkan komitmen untuk\nberinovasi pada bahan bakar nabati biohidrocarbon. Dampak dari pengembangan\nbahan bakar biohidrocarbon berbasis sawit ini tentu pada petani sawit rakyat.\nSebab memberi peluang pemberdayaan korporatisasi dalam industrialisasi IVO\n(bahan baku biohidrocarbon). Serta kilang-kilang bahan bakar biohidrocarbon\nstand alone kecil terintegrasi dengan kebun sawit. Ini akan meningkatkan\nkesejahteraan hidup para petani rakyat. Jadi, bahan bakar nabati biohidrocarbon\nberbasis sawit merupakan komoditas sumber daya alam terbarukan di Indonesia\nyang potensi jumlahnya berlimpah. &#8220;Hari ini Indonesia dikenal sebagai\nnegara terbesar penghasil dan pengekspor kelapa sawit, bersaing dengan Malaysia,&#8221;\nkatanya. &#8220;Namun permainan sudah berubah, kita tidak boleh hanya sekedar\nekspor maka diperlukan adanya penambahan nilai dari hasil produksi kelapa\nsawit,&#8221; Imbuh Menteri Bambang. Duta Besar Brasil H.E. Jose Amir da Costa\nDornelles menjelaskan, Brasil yang telah terlebih dulu mengimplementasikan tebu\nmenjadi bahan bakar nabati berproduksi dalam skala komersial. &#8220;Ini\nkesempatan yang luar biasa untuk bisa saling bertukar pengalaman dalam sektor\npengolahan bahan bakar nabati. Nantinya akan dapat memberi keuntungan kedua\nnegara,&#8221; terang Jose Amir da Costa.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/edukasi.kompas.com\/read\/2020\/09\/10\/103329271\/menristek-bahan-bakar-nabati-sawit-jadi-harapan-baru-indonesia?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kemenristek: Green Diesel D100, Bahan Bakar Terbarukan dari\nSawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Bangsa Indonesia terus melakukan inovasi agar minyak bumi dari\nfosil bisa dikurangi. Sebab, jika diambil terus menerus minyak bumi akan habis.\nTetapi, belum lama ini Pertamina dan ITB berhasil mengujicoba produksi Green\nDiesel D100 dari Refined Bleached Deodorized Palm Oil (RBDPO) kelapa sawit.\nSehingga ini menjadi kabar baik bagi bangsa Indonesia karena mampu menghasilkan\nsumber daya alam yang dapat diperbaharui. Hal itu diungkapkan Menteri Riset dan\nTeknologi\/Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (Menristek\/Kepala BRIN)\nBambang PS Brodjonegoro pada Webinar The Development of Biofuels\nIndonesia-Brazil: &#8220;Lesson Learned from The Development of Brazilian\nBioethanol-Based Biofuel&#8221; secara virtual pada Rabu (9\/9\/2020) malam.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dari bahan baku sawit <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Menristek Bambang, karakteristik green diesel D100 sama sekali\nberbeda dengan biodiesel yang ada di pasaran saat ini yang dikenal dengan\nistilah B20 atau B30. Tapi, Green Diesel D100 diproduksi dari bahan baku 100\npersen RBDPO yang diolah menggunakan Katalis Merah Putih hasil pengembangan ITB\ndan Pertamina. Hasilnya, biohidrocarbon beroktan sangat tinggi dengan\nkarakteristik fisika dan kimia sama persis dengan solar yang diproduksi dari\nbahan bakar fosil. &#8220;Indonesia perlu berubah terhadap ketergantungan akan\nbahan bakar fosil menjadi pada bahan bakar terbarukan,&#8221; ujar Bambang.\nTentunya, penggunaan bahan bakar green diesel D100 pada kendaraan: <\/p>\n\n\n\n<p>1. Tidak akan menurunkan kinerja mesin. <\/p>\n\n\n\n<p>2. Kendaraan tidak perlu dilakukan modifikasi tertentu pada mesin\nsebagaimana yang terjadi pada kendaraan-kendaraan yang diberi asupan biodiesel\nB30 yang berbasis FAME.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Belajar dari Brasil <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Oleh karena itu dengan keberhasilan Indonesia menguji coba\nproduksi green diesel D100 skala industri, selanjutnya Indonesia akan mengambil\npelajaran dari keberhasilan Brasil. Kenapa Brasil? Karena Brasil telah terlebih\ndulu mengimplementasikan tebu menjadi bahan bakar nabati berproduksi dalam\nskala komersial. Brasil sendiri telah mengimplementasikan kebijakan pemanfaatan\nbahan bakar nabati berbasis tebu. Maka Indonesia akan belajar dari negara Brasil\nkhususnya didalam pengaturan kebijakan penentuan harga Tebu-Gula-Etanol.\nNantinya akan diadaptasi oleh Indonesia ke dalam kebijakan regulasi penentuan\nharga Sawit-Minyak Sawit (Industrial Vegetable Oil)- Bahan Bakar Biohidrocarbon\nserta pemberian dukungan riset dan pengembangan DNA sawit unggul berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Di Brasil pakai tebu <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Duta Besar Brasil H.E. Jose Amir da Costa Dornelles mengatakan,\nkesempatan yang luar biasa ini nantinya bisa saling bertukar pengalaman dalam\nsektor pengolahan bahan bakar nabati yang nantinya dapat memberi keuntungan\nkedua negara. &#8220;Tebu saat ini merupakan bahan baku energi yang sangat\npenting di Brasil di bawah minyak bumi. Tebu dapat menghasilkan etanol untuk\nmenggantikan 46 persen pemakaian bensin di Brazil,&#8221; jelas Jose Amir. Sementara\nitu Plt. Deputi Bidang Penguatan Inovasi Jumain Appe menyampaikan bahwa agenda\nini merupakan kesempatan belajar bersama Indonesia dan Brasil. Harapannya bisa\nuntuk meningkatkan kompetensi sumber daya manusia, pengembangan teknologi, dan\nmodel bisnis bahan bakar nabati di masa depan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/edukasi.kompas.com\/read\/2020\/09\/10\/132021271\/kemenristek-green-diesel-d100-bahan-bakar-terbarukan-dari-sawit?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tagar.id | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program Biodiesel Dinilai Minim Keterlibatan Petani<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Manajer Riset Traction Energy Asia Ricky Amukti mengatakan\nkebijakan pemerintah dalam program biodiesel masih terkesan reaktif dan kurang\nmemperhitungkan dampak kerugiannya terutama terhadap petani kelapa sawit.\nMenurut dia, indikasi tersebut nampak melalui keputusan menaikkan pungutan\nekspor crude palm oil (CPO) sebesar US$ 5 tiap kenaikan US$ 25 pertonnya. \u201cJika\npemerintah tetap pada rencananya untuk menaikkan bauran biodiesel, maka\ninsentif yang perlu dikeluarkan oleh negara akan semakin tinggi, padahal\npemerintah seharusnya mengambil langkah mundur ke B20 dalam situasi ekonomi\nseperti ini, apalagi sampai saat ini belum ada manfaat langsung yang diterima\npetani sawit swadaya dari program biodiesel,\u201d ujarnya kepada Tagar dalam\nketerangan resmi, Kamis, 10 September 2020. Dalam catatannya, pemerintah kini\ngencar dalam menjalankan program biodiesel. Tingka bauran minyak kelapa sawit\natau CPO pun terus ditingkatkan dari B20, B30, bahkan kini mengejar target\nmenjadi B40 hingga B50. Ricky menambahkan, pengeluaran terbesar Badan Pengelola\nDana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), saat ini adalah untuk intensif biodiesel\natau membayar gap harga CPO dan solar ke perusahaan kelapa sawit. Dari Rp 33,6\ntriliun penyaluran dana BPDPKS pada 2019, setidaknya Rp 29,2 triliun\ndialokasikan untuk intensif biodiesel. Dari jumlah tersebut, kata dia, manfaat\nyang diterima petani masih minim. Padahal petani selalu digadang-gadang akan\nmendapatkan manfaat dari program biodiesel pemerintah. \u201cIni dapat dilihat dari\ntidak adanya direktorat tertentu di BPDPKS yang mengurus petani swadaya.\nKontribusi petani terhadap komoditas kelapa sawit tidaklah sedikit. Data Dirjen\nPerkebunan mencatat petani swadaya memasok 34 persen dari total produksi sawit\nnasional,\u201d tutur Ricky. Dalam kesempatan yang sama, Sekretaris Jenderal Serikat\nPetani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus Darto menilai apabila biodiesel belum\nkelihatan menguntungkan kenapa harus buru-buru ditambah baurannya. <\/p>\n\n\n\n<p>Bahkan biodiesel yang sekarang pun belum menguntungkan buat\npetani. \u201cBPDPKS juga perlu untuk dievaluasi terkait apa saja yang sudah\ndilakukan selama 5 tahun berdiri, termasuk evaluasi masalah penyaluran dananya\nyang mayoritas justru lari ke perusahaan kelapa sawit dan tak berdampak pada\nkesejahteraan petani maupun rakyat,\u201d ungkap dia. Darto juga menjelaskan bahwa\nrencana pemerintah untuk menaikkan pungutan ekspor pun, melalui BPDPKS juga\nmerupakan langkah yang gegabah karena menaikkan pungutan ekspor dapat berdampak\npada menurunnya harga tandan buah segar (TBS) kelapa sawit sehingga petani akan\nmenjadi pihak yang paling terdampak. \u201cSetidaknya pemerintah perlu memastikan\nagar perusahaan kelapa sawit wajib membeli sebagian TBS-nya dari pekebun\nmandiri supaya program biodiesel bisa menciptakan pasar bagi pekebun,\u201d\ntutupnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.tagar.id\/program-biodiesel-dinilai-minim-keterlibatan-petani\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program B30 dan Nasib Petani Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak tahun 2016, Pemerintah sangat agresif mengembangkan program\nbiodiesel melalui program B30 dari sawit. Program ini diklaim menguntungkan\nnegara melalui penambahan devisa sebesar Rp 48 triliun sebab 30 persen bahan\nbaku untuk pembuatan solar diperoleh dari komoditas kelapa sawit Indonesia. Sektor\nswasta telah mengambil bagian dalam mendukung program yang dicetus oleh Bapak\nPresiden Joko Widodo ini, sementara petani belum merasakan langsung manfaatnya.\nTapi untuk melihat kekuatan pengembangan EBTKE (Energi Baru Terbarukan dan\nKonservasi Energi) ini perlu melihat posisi BUMN sawit seperti PT Perkebunan\nNusantara alias PTPN. BUMN sawit ini mati ditelan perkembangan zaman. Di saat\nsektor swasta bergeser ke sektor hilir, perusahaan negara ini masih betah dan\ntidak bergerak ke hilir. Dari puluhan industri biodiesel, tidak ada satu pun\nPTPN memiliki industri biodiesel. Akibatnya, BUMN ini terkucilkan bersama\npetani kelapa sawit dalam program B30. Pertanyaan kemudian muncul, mengapa\nprogram pemerintah untuk hilirisasi sawit menimbulkan banyak masalah di sektor\nhulu dan bagaimana kepentingan nasional di dalam proyek ambisius itu? <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Monopoli bos besar <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Perkebunan sawit tidak hanya dikuasai oleh petani akan tetapi\ndikelola juga oleh perusahaan perkebunan swasta yang menguasai sekitar 9,7 juta\nha dan perusahaan negara (PTPN) seluas 6 ratus ribu hektare. Luas tersebut\nhanya dikuasai oleh sekitar 2.494 perusahaan yang mengelola IUP (Ijin Usaha\nPerkebunan). Monopoli perkebunan besar telah dimulai sejak orde baru dan makin\nmenggurita di era reformasi sebab penguasa lahan itu berjejaring dalam rantai\npolitik yang sangat kuat di Jakarta hingga daerah. Kemudahan akses perusahaan\nswasta ke berbagai Lembaga keuangan menjamin mereka terus perluas lahan sawit.\nBermodalkan IUP, mereka mampu membarternya dengan kredit investasi dan didukung\npemerintah melalui kemudahan berinvestasi. Sementara di sisi lain perusahaan\nnegara secara perlahan tersingkirkan. Semestinya pemerintah harus memiliki\nroadmap agar pengembangan EBTKE ini dipegang oleh perusahaan negara. Sebab\nindustri energi adalah untuk hajat hidup orang banyak sehingga harus menjadi\nindustri strategis negara. Dikuasai oleh swasta apalagi asing akan berujung\nhilangnya daulat negara pada aset-aset strategis. Dukungan modal terbatas dan\nkonglomerasi birokrasi membuat BUMN makin terkucilkan ditambah perusahaan\nnegara ini kebanyakan menjadi sapi perah para elit. Rantai bisnis sawit sangat\nberpaku pada perusahaan raksasa yang memiliki jejaring dengan para pembeli\nturunan minyak sawit di dunia.<\/p>\n\n\n\n<p>Mereka adalah Wilmar, Musim Mas, Sinar Mas, Cargill dan Salim\nGroup. Mereka adalah kelompok empat serangkai (produsen, pengolah, pembeli,\npenjual). Perusahaan kecil dan BUMN termasuk petani kelapa sawit, sangat\ntergantung pada bos-bos besar ini. Sudah sejak lama, pembeli minyak sawit dari\nberbagai belahan dunia seperti Unilever, Kelogs, P&amp;G, Neste, Pepsico serta\nbanyak lainnya memperoleh dari para pemain besar empat serangkai. Model ini\nditerapkan kembali dalam dalam rantai bisnis energi terbarukan. Perusahaan\ndengan identitas penguasa hulu-hilir adalah penerima manfaat paling besar.\nHasil olahan minyak sawit mereka ditampung oleh pertamina, PT AKR Coorporindo\ndan PT Exxonmobil Lubricans untuk kemudian disalurkan ke semua pom bensin di\ntanah air. Pemerintah sebagai pengatur bisnis ini sejatinya berkesempatan untuk\nmemperkuat PTPN sawit dan petani dalam tiga tahun mendatang. Sayangnya, negara\nmati kutu terhadap industri dan bersikap pragmatis dengan hadirnya devisa\nnegara yang menggiurkan dari para konglomerat. UU Komisi Persaingan Usaha tidak\ncukup kuat untuk mengatur monopoli para rentenir minyak sawit. Mayoritas\nperusahaan biodiesel berjejaring yang memiliki hubungan patron client sejak\nlama termasuk perusahaan asing yang beroperasi dan berlahan besar di Indonesia.\nBeberapa perusahaan asing tersebut adalah Simedarby, Kuala Kepong Berhard,\nGenting Plantation Berhard, Goodhope Asia Holding dan banyak lagi. Beberapa\nperusahaan asing ini menjadi penyuplai bahan baku untuk pengembangan EBTKE di\ntanah air ke industri-industri biodiesel. Petani kelapa sawit mestinya lebih\ndiprioritaskan ketimbang perusahaan asing dalam rantai pasok B30. Pemerintah\ntidak memiliki strategi khusus untuk memastikan rantai pasok yang bersumber\ndari warga Indonesia alias petani sawit. Carut marut rantai pasok biodiesel ini\nmembuat Badan Usaha Milik Negara (BUMN) merana bersama petani kelapa sawit.\nSebab PTPN sawit hanya bergantung pada perusahaan swasta sementara petani hanya\nmenjadi penonton dan pembeli minyak solar. Monopoli swasta dalam pengembangan\nEBTKE makin mapan sebab mendapat dukungan pemerintah dan beberapa menteri kunci\nerat kaitannya dengan industri biodiesel.<\/p>\n\n\n\n<p>Risikonya kemudian, pemerintah tidak memiliki security system bagi\npetani sawit yang mengelola komoditas yang rentan krisis akibat orientasi\nekspor dan harga komoditas ini ditentukan oleh situasi ekonomi politik global.\nSemestinya pemerintah mulai menata secara baik dan adil sebelum makin\nmembesarnya konglomerasi dalam usaha strategis negara. Awal mulanya,\npengembangan biodiesel diklaim oleh para pengusaha untuk menyejahterakan petani\nkelapa sawit. Para teknokrat kebijakan menyusun serangkaian konsep untuk\nmeyakinkan publik. Klaim mereka, dengan adanya pasar baru, mampu menjinakkan\nharga CPO di pasar sehingga dalam waktu bersamaan meningkatkan harga TBS di\ntingkat petani. Namun, justru sebaliknya. Harga TBS tidak tertolong oleh\nprogram ini. Baru-baru ini Kemenko Perekonomian ingin menaikkan pungutan\neksport minyak sawit dengan strategi setiap kenaikan 25 dolar AS harga crude palm\noil, maka pungutan akan dinaikkan menjadi 5 dollar AS\/ton. Namun bentuk-bentuk\nini adalah model pembajakan pendapatan petani dan perusahaan-perusahaan kecil.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Negara dibajak <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah akan mencoba menaikkan B30 saat ini menjadi B40 dalam\nwaktu dekat. Baru-baru ini, industri biodiesel mengusulkan penambahan anggaran\nnegara sebesar Rp 20 triliun. Ini merupakan bentuk pembajakan yang dilakukan\noleh industri biodiesel. Menaikkan menjadi B40 atauB50 tidak akan menghadirkan\nsolusi bagi sawit Indonesia. Sebab di hulu telah terjadi over produksi karena\nstok tersisa 2019 sebesar 4,5 juta ton. Akibat covid19 di berbagai belahan\ndunia, stok ini diperkirakan tidak akan berkurang hingga perdagangan akhir\ntahun 2020. Di sisi lain, masih terdapat land bank seluas 4 juta hektar dan\nprogram peremajaan sawit rakyat. Jika izin tersebut dibuka sawit dan kemudian\nproduktivitas sawit rakyat meningkat maka akan terjadi over produksi yang lebih\nbesar lagi. Strategi pemerintah untuk menyediakan pasar penampungnya melalui\nprogram B30 ini, tentu tetap tidak akan cukup dan kemungkinan pemerintah akan\nmenolong industri ini dengan menggunakan uang negara. Sementara pemerintah\ntidak memiliki strategi intervensi di hulu untuk menghentikan ekspansi. Di sisi\nlain, keran investasi melalui pemberian izin baru masih terus berlangsung.\nUntuk pengembangan hingga B40 maka setidaknya membutuhkan dana yang besar.\nSebab biodiesel harganya tingggi. Cara yang paling mudah untuk mendukungnya\nadalah dengan menaikkan pungutan hingga 70 dolar AS\/ton CPO dari 55 dolar AS\nsaat ini.<\/p>\n\n\n\n<p>Risikonya akan ke petani. Harga akan makin turun karena negara\nmemotong harga CPO yang merupakan dasar dari penilaian harga TBS petani. Jika\ntidak maka, negara akan di bajak oleh industri dengan menjustifikasi devisa\nnegara yang sudah dihasilkan oleh konglomerat. Langkah pemerintah pasti akan\nmenaikkan biodiesel hingga B50. Sebab para konglomerat sawit ini sudah masuk\ndalam ranah birokrasi dan hampir menguasai politik dan ekonomi di Indonesia.\nTentunya tidak ada pilihan lain, sebab telah menjadi bisnis para elit juga.\nBisnis biodiesel harus dibingkai dalam kepentingan nasional. Terlepas dari\nbisnis ini telah menyumbang devisa negara yang diklaim para cukong namun\nsewajarnya perlu memperkuat aktor-aktor negara seperti BUMN. Sayangnya,\nPertamina, Kemenko Perekonomian, dan kementerian ESDM tidak memiliki strategi\nuntuk memperkuat PTPN agar di tangan mereka industri biodiesel dapat diolah.\nIni justru sebaliknya, perusahaan negara sebagai pengemis jatah ke perusahaan\nswasta. Ke depan pemerintah harus merancang kepentingan nasional dalam\nmemperkuat BUMN sawit memiliki industri hilir sendiri dan dapat bekerjasama\ndengan petani kelapa sawit. Ini harus dilakukan oleh pemerintah, untuk\nmengamankan keuangan negara dari pemburu rente swasta. Perluasan lahan sawit\ntidak akan menyelesaikan masalah tata kelola sawit di Indonesia. Karena itu,\nperlu langkah cepat sebelum ketelanjuran makin besar. Caranya, intervensi di\nsektor hulu dengan menghentikan ekspansi sawit skala besar dan melakukan\nreforma agraria pada lahan sawit yang bermasalah. Dengan cara ini, akan terjadi\nkeseimbangan antara hulu dan hilir. Sehingga pada akhirnya memberi dampak\npositif bagi petani kelapa sawit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/money.kompas.com\/read\/2020\/09\/10\/115938126\/program-b30-dan-nasib-petani-sawit?page=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Kamis, 10\nSeptember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Prospek menjanjikan, Mahkota Group (MGRO) kejar produksi sekitar\n110.000 ton RBDPO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Emiten sawit PT Mahkota Group Tbk ingin memacu bisnis produk\nturunan sawit. Buktinya, hingga akhir tahun nanti, emiten sawit berkode saham\nMGRO tersebut menargetkan bisa memproduksi sekitar 110.000 ton Refined,\nBleached and Deodorized Palm Oil (RBDPO). Bukan tanpa alasan perusahaan\nmembidik target tersebut. Sekretaris Perusahaan MGRO Elvi menjelaskan, potensi\npasar RBDPO sangat besar, sebab produk turunan sawit tersebut dibutuhkan\nsebagai bahan baku dasar dalam pembuatan produk-produk akhir seperti margarin,\nminyak goreng, serta kebutuhan-kebutuhan dasar lainnya. \u201cAkhir-akhir ini oleh\nanak bangsa Indonesia, RBDPO telah dapat diolah menjadi bahan baku bakar\nbiodiesel B100,\u201d tambah Elvi kepada <a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>,\nKamis (10\/9). Proses produksi RBDPO dilakukan di pabrik refinery anyar\nperusahaan yang berlokasi di Bengkalis, Riau. Pabrik tersebut dibangun pada\nakhir tahun 2018 dan mulai beroperasi pada paruh pertama tahun ini. Mulanya,\npabrik tersebut digunakan untuk memproduksi sebanyak 3.000 ton. Jumlah tersebut\nlebih kecil dari kapasitas terpasang pabrik anyar yang mampu memproduksi 1.500\nton RBDPO dalam sehari.&nbsp; Sampai Juli 2020 lalu, total volume produksi\nRBDPO MGRO telah mencapai 6.143 ton. Di mana, dari total produksi tersebut 60%\ndijual untuk pasar ekspor dan 40% lokal.&nbsp; Pembeli lokal RBPDO MGRO terdiri\natas perusahaan oleochemical yang menjadikan RBDPO sebagai bahan baku untuk\ndiolah menjadi produk akhir seperti margarin, minyak goreng, dan lain-lain.\nSementara itu, mayoritas pembeli RBDPO MGRO di pasar ekspor merupakan\nperusahaan perdagangan atau trader. Elvi belum menyebut berapa proyeksi\nkontribusi lini penjualan RBDPO dalam total penjualan sampai akhir tahun nanti.\nElvi hanya bilang, perusahaan belum berencana memproduksi produk turunan sawit\nlain selain RBDPO. \u201cSampai akhir tahun 2020 ini perseroan masih fokus pada\nRBDPO, untuk turunan lainnya seperti minyak goreng masih dalam proses\npengurusan legalisasi,\u201d pungkas Elvi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/prospek-menjanjikan-mahkota-group-mgro-kejar-produksi-sekitar-110000-ton-rbdpo\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Akurat.co | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tarif Punggutan Ekspor CPO Naik, SPKS: Ini Sama Halnya dengan\nMembunuh Petani Kelapa Sawit!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sekretaris Jenderal Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) Mansuetus\nDarto menilai rencana pungutan ekspor minyak sawit dengan setiap kenaikan US$25\nharga crude palm oil, maka pungutan akan dinaikkan menjadi US$5 per ton, hanya\nakan menguntungkan industri. &#8220;Di tengah @PerekonomianRI ingin menaikkan\npungutan biodiesel, dengan setiap kenaikan US$25 per ton CPO akan dinaikkan\npungutan US$5 per ton CPO. Akhirnya, petani tidak akan merasakan naiknya harga\nTBS dari kenaikan CPO itu jelas untungkan industri,\u201d kata Mansuetus lewat akun\nTwitter-nya @dartowojtyla yang dikutip Akurat.co, Jakarta, Kamis (10\/9\/2020).\nMenurutnya, kenaikan pungutan biodiesel tersebut sama halnya dengan membunuh\ndan memiskinkan para petani kelapa sawit. &#8220;Dan menguntungkan industri\nbiodiesel. Payahnya lagi, beberapa orang industri hadir dalam kementerian\nterkait,\u201d katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Seperti diketahui Indonesia saat ini telah berupaya\nmengimplementasikan program B30 dan terus melakukan ekspansi program biodiesel\nmenjadi B40, B50, hingga B100. Program ini dimaksudkan agar konsumsi domestik\nCPO sebagai bahan bakar transportasi makin meningkat sehingga impor bahan bakar\nfosil dapat diminimalisasi. Pemerintah Indonesia berencana untuk meningkatkan\npungutan ekspor minyak kelapa sawit sebagai bentuk dukungan terhadap perluasan\nprogram campuran biodiesel tersebut. Mengutip laman Reuters, adanya pungutan\natau retribusi ekspor oleh pemerintah Indonesia bertujuan untuk membantu\nmembiayai kebijakan minyak sawit dalam bentuk subsidi biodiesel dan replanting\nkebun sawit rakyat. Saat ini, pemerintah telah menetapkan pungutan ekspor\nmaksimal sebesar US$50 per ton tergantung pada jenis produk kelapa sawit dan\ntingkat harga referensi yang ditetapkan setiap bulannya. Meskipun demikian,\nrencana kenaikan pungutan ini masih diperhitungkan, apakah akan menjadi\npeningkatan yang sifatnya datar atau progresif. &#8220;Pungutan tersebut\nmenyebabkan perbedaan harga antara biodiesel yang mengandung campuran minyak\nsawit dengan diesel fosil biasa makin lebar,\u201d kata Menteri Koordinator Bidang\nPerekonomian, Airlangga Hartarto.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/akurat.co\/ekonomi\/id-1210390-read-tarif-punggutan-ekspor-cpo-naik-spks-ini-sama-halnya-dengan-membunuh-petani-kelapa-sawit\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Tribunnews.com | Kamis, 10 September 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Olahan Limbah Jelantah Bisa Diolah Jadi Produk Ekonomis, Begini\nCaranya<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berangkat dari&nbsp; adanya kendala mengelola limbah minyak\njelantah&nbsp; sisa produksi Resto Seba dan rumah tangga di Kampung Ikan Asap,\nPT Pertamina Gas Operation East Java merespons dan mengenalkan konsep zero\nwaste di kampung binaan Pertagas ini. Selain melibatkan kelompok Resto,&nbsp;\nPertagas juga menggandeng&nbsp; Kader PKK Desa Penatarsewu dan Desa Kalitengah,\nKec Tanggulangin, Sidoarjo. Selasa (8\/9) dilakukan pelatihan pengelolaan minyak\njelantah menjadi produk bermanfaat seperti sabun dan lilin. Edukasi dan\npelatihan ini&nbsp; bekerjasama dengan Akademi Minim Sampah, Sidoarjo. Minyak\njelantah merupakan minyak bekas pemakaian, bisa dalam kebutuhan rumah tangga,\nkebutuhan restoran dan lain-lain. Minyak ini meliputi minyak sawit dan segala\nminyak goreng lainnya. Bila ditinjau dari komposisi kimianya, minyak jelantah\nmengandung senyawa-senyawa yang bersifat karsinogenik yang terjadi selama\nproses penggorengan. Jadi pemakaian minyak jelantah yang dipakai berkali-kali,\ndapat merusak kesehatan tubuh kita, misalnya timbul berbagai penyakit seperti\nkanker. Ketua PKK Desa Penatarsewu, Nurul Huda menuturkan bahwa selama ini\nibu-ibu di Desa Penatarsewu tidak pernah menyimpan minyak goreng setelah\nbeberapa kali dipakai dan belum mengetahui jika bisa dimanfaatkan kembali. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cDi sini kami terbiasa membuang atau diserahkan ke penampung jika\nminyak goreng sudah beberapa kali dipakai. Dengan adanya pelatihan mengolah\njelantah ini, diharapkan kami bisa memanfaatkan puluhan liter minyak menjadi\nsabun detergen atau cuci tangan,\u201d ujarnya. Lain halnya di Desa Kalitengah,\nibu-ibu di desa yang berdekatan dengan kawasan Lumpur Sidoarjo ini mengaku\ntelah memanfaatkan jelantah sebagai peluang penghasilan. &nbsp;\u201cKami biasa\nmengumpulkan jelantah dari beberapa RT, lalu kami jual ke pabrik untuk\ndimanfaatkan sebagai biodiesel melalui pengepul. Alhamdulillah hasil penjualan\ndapat dimanfaatkan untuk kas PKK,\u201d ujar Iftatus Solichah selaku perwakilan anggota\nPKK Desa Kalitengah.&nbsp; Menurutnya, kegiatan edukasi dari Pertagas ini mampu\nmembuka wawasan ibu-ibu untuk berkreasi dan lebih produktif lagi. Proses\npengolahan jelantah menjadi sabun dan lilin pun tegolong murah dari segi\nketersediaan bahan dan mudah untuk dipraktekkan. Cukup sediakan jelantah mulai\ndari 250ml, \u00bd sendok teh gula, beberapa gram soda api, air pandan, dan beberapa\nbahan pelengkap lainnya. &#8220;Setelah itu dipanaskan lalu diaduk, dan\nditempatkan dalam sebuah cetakan sesuai selera.\u201d ujar Vivi Sofiana selaku\npemateri dari Akademi Minim Sampah. Vivi menambahkan, proses pembuatan dibuat\nmudah dan menarik agar ibu-ibu tidak kerepotan ketika menerapkan di\nrumah.&nbsp; \u201cTujuan kami agar mulai tumbuh kesadaran warga untuk mengolah\nlimbah rumah tangga menjadi lebih bernilai guna,\u201d pungkasnya Secara terpisah,\nManager Communication, Relation, &amp; CSR Pertagas, Zainal Abidin menuturkan\nbahwa antusias ibu-ibu dalam menerapkan Zero Waste Lifestyle patut\ndidukung.&nbsp; &#8220;Selain itu, kemampuan mengolah limbah rumah tangga menjadi\nproduk lain seperti sabun dan lilin ini berpotensi menjadi sumber pendapatan\nlain bagi warga di Penatarsewu dan Kalitengah,\u201d harapnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/jabar.tribunnews.com\/2020\/09\/10\/olahan-limbah-jelantah-bisa-diolah-jadi-produk-ekonomis-begini-caranya?page=all\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gatra.com | Kamis, 10 September 2020 Indonesia-Brazil Bertukar Ilmu Pengolahan Biofuel Pemerintah melalui Deputi Bidang Penguatan Inovasi, Kementerian Riset dan Teknologi\/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek\/BRIN) menjalin kerjasama dengan Kedutaan Besar Brasil di Jakarta untuk berbagi ilmu terkait inovasi pengembangan bahan bakar nabati (Biofuel). Keberhasilan Pertamina dan ITB mengujicoba produksi green diesel D100 dari Refined [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4331","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4331","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4331"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4331\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4908,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4331\/revisions\/4908"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4331"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4331"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4331"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}