{"id":4374,"date":"2020-10-08T04:36:06","date_gmt":"2020-10-08T04:36:06","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4374"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"perkenalkan-namanya-tom","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/perkenalkan-namanya-tom\/","title":{"rendered":"Perkenalkan, Namanya TOM!"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Gatra.com | Rabu, 7 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perkenalkan, Namanya TOM!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebenarnya, dari dulu orang di Indonesia sudah mencari tahu apa\nsaja yang bisa dibikin dari minyak kelapa sawit. Selain lantaran luas kebun\nkelapa sawit itu sekarang sudah mencapai 16,3 juta hektar, yang butuh hasil\nolahan minyak sawit ini di Indonesia juga tergolong bongsor; lebih dari 250\njuta jiwa. Setelah bisa dijadikan ragam bahan makanan dan non makanan, sejak\ntiga tahun lalu, Laboratorium CaRE Institut Teknologi Bandung (ITB) sudah\nmengujicoba minyak sawit tadi menjadi minyak solar, bensin dan bahkan minyak pesawat\nterbang. Berhasil! Alhasil, bulan depan, CaRE ITB bersama alumni Teknik Kimia\n(TK)-ITB seperti Sahat Sinaga, Sapto Tranggono dan rekannya yang lain bakal\nmenguji coba pabrik penghasil Bensin Super Biohydrocarbon di Kudus, Jawa\nTengah. Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS) yang membiayai\nuji coba ini, termasuk untuk pengembangannya, Dibilang Biohydrocarbon lantaran\nBensin Super (BS) ini dibikin dari minyak kelapa sawit berupa bio dan produk\nyang dihasilkan adalah hidrokarbon. Hydrocarbon ini serupa dengan minyak yang\nbersumber dari fosil. Asal tahu saja, bensin biohydrokarbon ini identik juga\ndengan bensin yang dipakai oleh mobil balap Formula 2 (F2). Jadi nanti, yang\nsenang racing di Circuit Sentul, enggak perlu lagi membeli bahan bakar super-car\nimpor yang di dalam Negeri dibanderol Rp56 ribu seliter. Sebab Bensin\nBiohydrokarbon ini cuma Rp38.500 seliter. &#8220;Bensin Super (BS) ini Octane\nNumber (ON) nya 110. Jadi sudah setara minyak pesawat terbang yang ON nya\n100\/130. Pertamax Plus ON nya cuma 95, Pertamax apalagi, hanya 92,\u201d cerita\nSahat Sinaga kepada Gatra.com, kemarin.<\/p>\n\n\n\n<p>Pabrik uji coba yang di Kudus itu kata Ketua Masyarakat\nBiohydrokarbon Indonesia (MBI) ini, masih berkapasitas kecil; baru akan\nmenghasilkan 1000 liter sehari. Walau pabrik kecil, ayah tiga anak ini\nmemastikan kalau 99 persen dari semua piranti pabrik itu teknologi dalam\nnegeri, begitu juga dengan para pekerjanya. Hanya saja, lantaran ON nya\nsetinggi itu, otomatis enggak bakal bisa langsung dijual ke masyarakat umum. ON\nnya musti diturunkan dulu. Untuk inilah kemudian Kementerian Riset dan\nTeknologi\/Badan Riset dan Inovasi Nasional (Kemenristek\/BRIN), Care ITB dan\nPemkab Musi Banyuasin (Muba) Sumatera Selatan (Sumsel) berencana membikin\npabrik berkapasitas 2.500 barrel per hari di Muba. Di Pelalawan Provinsi Riau\njuga bakal dibangun, tapi kapasitasnya lebih kecil; 1.500 barrel per hari. Dua\ndaerah ini dipilih lantaran sama-sama dekat dengan sumber minyak fosil. Di\nBanyu Asin &#8212; kabupaten pemekaran dari Muba &#8212;- kata Sahat, ada ratusan\ntambang minyak fosil rakyat yang produksinya bisa dibeli. &#8220;Setelah\ndisuling, minyak fosil itu bisa kita beli seharga Rp4500 per liter. Inilah yang\nakan kita bikin campuran Bensin Super itu supaya ON nya bisa turun menjadi 92.\nPremium setara Pertamax ini bakal kita jual Rp9.100 seliter,\u201d rinci Direktur\nEksekutif Gabungan Industri Minyak Nabati Indonesia (GIMNI) ini. Tapi untuk\ntahap awal ini katanya, yang bakal dibikin di Muba maupun di Pelalawan itu baru\npabrik penghasil produk Industry Vegetable Oil (IVO). \u201cIVO ini adalah minyak\nCPO+ untuk tujuan bahan bakar yang sudah bebas dari komponen perusak oleh\nkatalist \u201cmerah-putih\u201d produksi CaRE ITB,\u201d terang Sahat.<\/p>\n\n\n\n<p>Kalau mau membikin Kilang Biohydrokarbon berkapasitas 2.500 barrel\nIVO perhari tadi kata Sahat, musti dibangun dulu 3 pabrik Palm Oil Mill (POM).\nLalu luas lahan sumber bahan baku yang dibutuhkan sekitar 25 ribu hektar.\n&#8220;Jadi, jelang tiga pabrik itu ada, minyak sawit IVO yang dihasilkan di\nMuba, dikirim dulu ke kilang Pertamina di Plaju, Palembang. Terus yang di\nPelalawan dikirim ke Kilang Pertamina Dumai. Yang bekerjasama dengan Pertamina,\nkoperasi petani. Sebab koperasi itulah nanti yang jadi pemilik pabrik IVO itu,\u201d\nkatanya. Bagi Sahat, unit pengolahan Tandan Buah Segar (TBS) menjadi minyak IVO\nitu disebut Traga Oil Mill (TOM), ini generasi kedua setelah PO Mill. TOM lah\nyang menghasilkan IVO itu untuk diolah di kilang Biohydrocarbon untuk menjadi\nBensin Super. Ongkos membangun TOM ini kata Sahat lebih kecil dari PKS\nkonvensional. Sudah itu, lebih efisien dan ongkos pengolahan TBS nya pun lebih\nrendah. &#8220;Investasinya 90% dari belanja modal Capital expenditure (Capex)\nPKS konvensional. Nah, kalau ongkos olah TBS di PKS biasanya berkisar Rp153 per\nkilogram, di TOM hanya Rp95-Rp110 per kilogram,&#8221; rinci jebolan Teknik\nKimia Institut Teknologi Bandung 1973 ini. Lima tahun lagi kata Sahat, IVO ini\nsangat dibutuhkan. Kalau misalnya kilang Biohydrocarbon yang ada hanya\nberkapasitas 2500-3000 barrel IVO per hari, maka di tahun itu, dibutuhkan 158\nunit kilang biohydrocarbon untuk memenuhi bauran energi 23% dari kebutuhan\nbensin. \u201cItulah makanya kilang biohydrocarbon ini akan kita bagun di seluruh\nwilayah Indonesia yang ada kebun kelapa sawit petaninya. Sebab sasaran kita\nmemang petani kelapa sawit,\u201d ujar Sahat.<\/p>\n\n\n\n<p>Misi ini akan jalan terus, sebab selain semuanya asli dalam\nnegeri, sawit rakyat terbeli dan minyak pun lekas terjual lantaran rentang\nkendalinya yang pendek. \u201cBiaya distribusi Bensin Biohydrokarbon ini ekonomis.\nSebab itu tadi, bikinnya di kabupaten itu, jualnya juga di wilayah itu,&#8221;\nkatanya. Apakah Kilang Biohydrokarbon ini kelak akan menjadi saingan Pertamina?\n&#8220;Enggak sama sekali, sebab semuanya bertujuan memasarkan bahan bakar yang\naffordable (terjangkau), bisa Pertamina, bisa juga Koperasi . Kalau Fatty Acid\nMethy Ester (FAME) &#8212; biodiesel &#8212; biarlah urusan perusahaan besar.\nBiohydrokarbon urusan rakyat yang komandonya Kementerian Koperasi,&#8221; tegas\nSahat. Jika apa yang dikatakan Sahat ini segera terwujud, bukan tidak mungkin\nekspor biodiesel ke Eropa maupun Amerika, dihentikan. Soalnya, kebutuhan solar\nuntuk domestik begitu besar. Dampaknya tentu, minyak kelapa sawit akan habis\ndikonsumsi di dalam Negeri. &#8220;Kalau sekarang harga CPO tinggi, jangan\nsenang dulu, sebab harga CPO yang tinggi ini justru jadi racun atau narkoba\nyang membikin petani tidak produktif berkebun dan mereka akan banyak tidur.\nJangan ternina bobokkan dengan itu,&#8221; pinta Sahat. Sahat kemudian berpesan,\nsupaya harga IVO bisa affordable, satu-satunya jalan adalah produktivitas kebun\nmusti di atas 20 Ton TBS per hektar per tahun. Untuk ini, kreatifitas petani\nsangat dibutuhkan. \u201cTOM mengolah TBS menjadi IVO dengan tingkat rendemen atau\nOER (Oil Extraction Rate) yang tinggi. Ini sangat menguntungkan petani. Kalau\nkoperasi-koperasi petani sudah punya TOM, dipastikan mereka akan semakin\nkreatif, sebab mereka merasakan manfaat lebih dan mereka akan disebut petani\nmodern lantaran sudah masuk ke generasi kedua POM bernama TOM itu,\u201d ujar Sahat.\nBiar proses kreatifitas itu tidak terganjal demi memenuhi kebutuhkan dalam\nNegeri yang semakin tinggi, \u201cPemerintah musti bersikap, lahan-lahan perkebunan\nyang berada di dalam klaim kawasan hutan, dilepaskan atau diputihkan saja,\u201d\npinta Sahat.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.gatra.com\/detail\/news\/492317\/info-sawit\/perkenalkan-namanya-tom\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Harian Seputar Indonesia | Kamis, 8 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Inovasi untuk Kemandirian Energi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pencemaran udara dan efek gas rumah kaca yang diakibatkan emisi\ngas buang masih menjadi isu besar dalam sektor lingkungan. Indonesia sebagai\nnegara dengan populasi terbesar ke empat di dunia menjadi salah satu negara\ndengan tingkat konsumsi energi terbesar di dunia. Tak hanya konsumsi energi\nrumah tangga saja tetapi juga untuk kendaraan bermotor pribadi maupun\ntransportasi. Berbagai langkah dilakukan oleh pemerintah dan\nparastake-holderlainnya untukmenemukan formula yang tepat agar konsumsi energi\ndi dalam negeri bisa dikeda-likan bahkan dihemat. Tak hanya itu, energi yang\ndikonsumsi pun juga ramah lingkungan, khususnya un tukkendaraan bermotor. Pada\nkendaraan bermotor, sejatinya telah ditemukan teknologi yangmampu menghemat\nenergi dan ramah lingkungan dengan tingkat emisi gas buang nol, yakni kendaraan\nlistrik (electric vehicle). Sejumlah negara telah telah membuat regulasi\nterkait kendaraan listrik tersebut. Seperti Amerika Serikat (AS), negara-negara\ndi kawasan Eropa, Jepang, China hingga negara-negara di kawasan Asia Tenggara\ntermasuk Indonesia. Jikadinegara-negara maju seperti AS, Jepang dan China,\npengembangan kendaraan listrikyanghemat energi dengan emisi nol cukup masif,\ntetapi di negara-negaraberkembangter-masuk kawasan Asia Tenggara\npengembangannya lambat. Salah satupenyebabnya, masih belum siapnya\ninfrastrukturseperti&#8217; stasiun pengisian listrik umum, juga instalasilistrik di\nrumah-rumah yang masih belum sesuai dengan standar pengisian energi untuk\nkendaraan listrik.<\/p>\n\n\n\n<p>Meskipun masih belum siap dalam hal infrastruktur kendaraan\nlistrik, namun angin segar berem-bus tatkala PT Pertamina (Persero) mengumumkan\nsukses mem-produksiGreen Diesel (D-100) dengan bahan baku dari minyak sawit\n100%. Bahan bakar ini menjadi solusi di tengah penantian akan hadirnya energi\nbersih un tuk kendaraan bermotor melalui energi listrik. Hasil road test atau\nuji performa D-lOOyang dilakukan Pertamina pada mobil jenis multi purpose\nvehicle (MPV) bermesin diesel dengan usia tiga tahun menunjukkan performa yang\nbaik. Penggunaan D-100 dalam campuran bahan bakar kendaraan dapat meningkatkan\ncetane number dan menurunkan kepekatan asap yang dibuang. Bahan bakar yang\ndigunakan dalam uji performa tersebut adalah campuran D-100 sebanyak 20%,\nDexlite sebanyak 50% dan FAME (Fatty Acid Methyl Ester) sebesar 30%. Angka\ncetane number campuran D-100 dan Dexlite yang digunakan tersebut mencapai angka\nminimal 60 atau lebih tinggi dari Dexlite yang memiliki cetanenumber51.\nDemikian juga hasil uji emisi kendaraan yang di uji coba menunjukkan opacity\n(kepekatan asap gas buang) turun menjadi 1,7% dari sebelumnya 2,6% saat tidak\ndicampur dengan D-100. Penggunaan bahan bakar green diesel D-100 pada kendaraan\ntidakakan menurunkan kinerja mesin atau memerlukan modifikasi tertentupada\nmesin. Ujiperforma dengan hasil yang bagus tersebut, membuktikan bahwa D-100\nyang diproduksi perdana di kilang milik Pertamina, Dumai provinsi Riau itu\nmampu menjawab kebutuhan green energy di Indonesia. D-100 dibuat dari 100%\nbahan nabati turunan dari CPO (crude palm oil) atau kelapasawityangbanyak\nterdapat di Indonesia. Dengan demikian, selain ramah lingkungan, D-100 juga\nmenghasilkan penghematan yang sangat besar, karena tak perlu melakukan\nimporbahanbaku. Inovasiyangdilakukan oleh perusahaan energi milik negara itu\ndinilai menjadi salah satu solusi jangka menengah untuk mengatasi dampakburuk\nakibat emisi gas buag dari kendaraan bermotor. &#8220;Itu merupakan langkah jitu\ndalam mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil dan mengejar\nketertinggalan Indonesia dalam hal dean energy,&#8221;tegas Direktur Eksekutif\nEnergy Watch Mamit Setiawan di Jakarta, kemarin. Menurut dia, langkah jitu\nPertamina tersebut juga harus dibarengi dengan jaminan pasokan bahanbaku.\nSehingga ke depan, Pertamina tak dihadapkan pada kekurangan pasokan bahan baku.\n&#8220;Misalnya kelak harga sawit naik, bukan tidak mungkin harga D-lOOakanlebih\nmahal dari Dexlite atau Pertadex. Sehingga perlu ada jaminan pasokan bahan\nbakunya,&#8221;tegasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain itu, lanjut Mamit, perlu melibatkan stakeholder lain\nseperti produsen kendaraan bermotor, sehingga bahan bakar D-100 tersebut bisa\nsesuai dengan spesifikasi kendaraan yang di produksi pabrikan di Tanah Air.\nPabrikan kendaraan bermotor di dalam negeri, sejatinya telah mengikuti\nperkembangan inovasi yang dilakukan oleh Pertamina. &#8220;Itu sebuah langkah\nmaju, kami sudah mencoba B20 dan B30. Per-formanya cukup bagus, termasuk emisi\ngas buangnya. Untuk D-100 menurut perkiraan kami tentu akan lebih bagus\nlagi,&#8221;uj ar Direktur PT Toyota Motor Manufacturing Indonesia (TMMIN) Bob\nAzam. Sebagai salah satu pabrikan terbesar yang memproduksi mobil di Indonesia,\ntermasuk mobil bermesin diesel, Toyota menilai, sudah saatnya Indonesia\nmenggunakan energi altematif secara masif. Karena selain ramah lingkungan, juga\nakan menghasilkan penghematan secara ekonomi. &#8220;Penggunaan energi altematif\nseperti biofuel maupun yang lainnya sudah harus di ting-ka tkan,&#8221;ujar Bob.\nSaat ini, terdapat trendshiftingpadapeng-gunaan bahan bakar, yakni penggunaan\nbahan bakar fosil perlahan bergeser ke bahan bakar terbarukan. Pola pemenuhan\nenergi nasional pun mengalami perubahan dari sebelumnya mengandalkan foreign\nsupply menjadi domestik supply. Penggunaan energi altematif, tentunya sejalan\ndengan komitmen pemerintahan Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk mengoptimalkan\nsumber daya alam untukmenciptakan kemandirian dan kedaulatan energi.\nPemerintah, telah mencanangkan program Bahan Bakar Nabati (BBN) dalam rangka\nmengoptimalkan sumber daya alam yangberlimpah di Indonesia, khususnya kelapa\nsawit, sehingga, selain menghemat impor bahanbakar juga berdampakpada\nmeningkatnya kesejahteraan para petani sawit.<\/p>\n\n\n\n<p>Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menegaskan, hadirnya\ninovasi yang menghasilkan produk green energy telah menjawab tantangan energi\nyang lebih ramah lingkungan sekaligus tantangan penyerapan minyak\nsawityangsaatiniproduksinya mencapai angka 42 juta hingga 46 juta metrik ton\ndengan serapannyasebagai FAME sekitar 11,5 %. Di kilang Plaju, Pertamina juga\nakan membangun unit green diesel dengan kapasitas produksi sebesar 20.000 barel\nper hari. &#8220;Hal ini membuktikan Pertamina memiliki kemampuan dan daya saing\ndalam menciptakan inovasi. Terbukti bahwa kami mampumemproduksibahan bakar\nrenewable yang pertama di Indonesia dan hasilnya tidak kalah dengan perusahaan\nkelas dunia,&#8221; tegasnya. Dia menambahkan, Pertamina siap memproduksi green\nenergy lainnya, seperti Green GasoHnedan GreenAvtur dari kilang dalam negeri.\nUntuk Green Gasoline, Pertamina sudah melakukan uji cobasejak 2018,2019 dan\n2020 di kilang Plaju dan Cilacap. Namun, uji coba tersebut baru mampu mengolah\nminyak sawit RBDPO (refined, bleached, and deodorized palm oil) sebesar 20%.\nSedangkan uji coba mengolah minyak sawit menjadi Green Avtur akan dilakukan di\nkilang Cilacap. Mengolah minyak sawit menjadi green diesel sejatinya sudah\ndilakukan oleh beberapa perusahaan lain di dunia. Tetapi mengolah minyak sawit\nmenjadi green gasoline belum pernah dilakukan di dunia dan Pertamina adalah\nperusahaan pertama yang melakukannya. Selain Dumai, Nicke menegaskan, Pertamina\nakan membangun Standalone Biorefinery di Cilacap dengan kapasitas 6.000barel\nperhari dan Standalone Biorefinery di Plaju dengan kapasitas 20.000 barel per\nhari. Kedua standalone Biorefinery ini kelak akan memproduksi Green Diesel\nmaupun Green Avtur dengan bahan baku 100% minyak nabati.<\/p>\n\n\n\n<p>Inovasi yang dilakukan Pertamina tidak hanya mengembangkan green\nenergy dari CPO atau sawit, tetap juga dari sumber daya lainnya seperti algae,\ngandum, sorgum dan bahan baku lainnya. Menurut Nicke, Pertamina terus\nmendayagunakan segala sumber daya alam domestik, untuk mendukung kemandirian\ndan kedaulatan energi nasional. Mengolah Kelapa Sawit menjadi bahan bakar\ntentunya akan mengulangi defisittransaksiberj alan. Sebab, Total Kandungan\nDalam Negeri (TKDN) produk tersebut sangat tinggi. Salah satu buktinya,\nimplementasi program B20dan B30pada2019berhasil menghemat devisa negara sebesar\nRp 43,8 triliun. Pada tahun ini, Pertamina menargetkan penghematan devisa\nsebesar Rp 63,4 triliun. Kementerian Riset dan Teknologi (Kemenristek)\/Badan\nRiset dan Inovasi Nasional (BRIN) memberikan apresiasi terhadap kolaborasi\nPertamina dan Institut Teknologi Bandung (ITB) dengan mengembangkan\ninovasibahan bakar biofuel dengan bahan baku CPO. Menristek\/KepalaBRIN Bambang\nBrodjonegoro mengungkapkan, bahan bakar nabati berbasis sawit diperkirakan akan\nmenjadikan perekonomian Indonesia bergerak lebih cepat dan dapat meminimalisir\ndampak perlambatan ekonomi yang ki ni mulai melanda banyaknegara di dunia.\n&#8220;Kita wajib memberikan apresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam menelurkan\ninovasi tersebut,&#8221; ujar Bambang. Green diesel D-100 yangdi-cracking\nmenggunakan katalis merah putih, kata Bambang, dapat membantu kebutuhan bahan\nbakar fosil dalam negeri yangsangat tinggi. &#8220;Bahan bakar minyak sawit juga\nmemberi peluangpemberdayaan petani sawit rakyat dalam industri bahan\nbakubiohidrocarbon, sehingga akan meningkatkan kesejahteraan hidup\nmereka,&#8221; paparnya. Penggunaan bahan bakar ramah lingkungan sangat penting\nbagi kelestarian lingkungan. Sebab, selama ini, emisi gas buang kendaraan bermotor\nmenjadi kontributor utamapencemaran udara. Direktur Jenderal Pengendalian\nPencemaran dan Kerusakan Lingkungan (PPKL) Kementerian Lingkungan Hidup dan\nKehutanan (KLHK), Karliansyah menyatakan, emisi gas buang kendaraan\nbermotoryangselama ini menjadi moda transportasi sehari-hari masyarakat\nmenyumbang sekitar 80% pencemaran udara. Namun, seiring dengan berkurangnya\nmobilitas masyarakat di masa pandemi, pencemaran udara akibat emisigas buang\nkendaraan bermotor berkurang.&nbsp;DataKLHKmenunjukkan, hingga periode Juli 2020, terdapat penurunan tingkat\nkonsentrasi partikel PM 2,5 di beberapa daerah di Indonesia. PM 2,5 adalah\npartikulat berukuran 2,5 mikrometeryangberadadiasap yangberbahaya bagi\npernapasan manusia. Di Jakarta, angkanya turun 15% dengan nilai rata-rata tahun\n2020 sebesar 26,87 mg\/m3. Tetapi, angka ini masih tinggi karena Indonesia\nmenerapkan standarbaku mutu PM 2,5 sebesar 15\nmg\/m3, sedangkan menurut panduan WHO, standarbaku mutu PM 2,5 sebaiknya 10 mg\/m3. Karenanya, penggunaan bahan bakar yangramahlingkungan wajub dilakukan. Sebab,\ntak hanya akan memberikan dampak positif dari sisi ekonomi saja, tetapi juga\nmemberikan dampak positif bagi kelestarian lingkungan dan kesehatan masyarakat.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Gatra.com | Rabu, 7 Oktober 2020 Perkenalkan, Namanya TOM! Sebenarnya, dari dulu orang di Indonesia sudah mencari tahu apa saja yang bisa dibikin dari minyak kelapa sawit. Selain lantaran luas kebun kelapa sawit itu sekarang sudah mencapai 16,3 juta hektar, yang butuh hasil olahan minyak sawit ini di Indonesia juga tergolong bongsor; lebih dari 250 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4374","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4374","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4374"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4374\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4892,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4374\/revisions\/4892"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4374"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4374"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4374"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}