{"id":4384,"date":"2020-10-13T06:28:42","date_gmt":"2020-10-13T06:28:42","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4384"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"kurangi-polusi-menhub-angkutan-umum-pakai-bahan-bakar-nabati","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/kurangi-polusi-menhub-angkutan-umum-pakai-bahan-bakar-nabati\/","title":{"rendered":"Kurangi Polusi, Menhub: Angkutan Umum Pakai Bahan Bakar Nabati"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bisnis.com | Senin, 12 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kurangi Polusi, Menhub: Angkutan Umum Pakai Bahan Bakar Nabati<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah terus mengembangkan transportasi yang ramah lingkungan\ndi kota-kota besar Indonesia. Salah satunya, melalui sejumlah kebijakan dalam rangka\nmengurangi pencemaran atau polusi udara dengan mengembangkan bahan bakar\nnabati. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan dukungannya bagi pengembangan\ntransportasi yang ramah lingkungan di kota-kota besar. Menurutnya, pencemaran udara\nmerupakan isu global yang sangat mengkhawatirkan sehingga perlu diselesaikan\nsecepat mungkin.Aplikasi <a href=\"http:\/\/airasia.com\">airasia.com<\/a>\nBeri Diskon 50 Persen, Ini Kode Promonya Lebih lanjut, pihaknya telah memiliki\nsejumlah rencana strategis untuk menerapkan diversifikasi energi di bidang\ntransportasi dan mengurangi ketergantungan impor migas, di antaranya melalui\npenggunaan bahan bakar nabati (BBN) seperti biodiesel untuk moda transportasi\ndarat, kendaraan BBG, dan bus listrik. \u201cRencananya penerapan bahan bakar nabati\natau BBN akan diproyeksikan untuk angkutan berat seperti truk dan angkutan umum\nseperti bus. Demikian pula dengan angkutan berbasis rel dan listrik seperti MRT\ndan LRT yang tengah dikembangkan di Jakarta dan Palembang,&#8221; katanya, Senin\n(12\/10\/2020). Menhub mengatakan kemacetan yang terjadi di kota-kota besar merupakan\npenyumbang utama pencemaran udara. Oleh karenanya, dia sangat memperhatikan pembangunan\nintegrasi antarmoda transportasi publik di Palembang untuk mengurangi kemacetan.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurutnya, saat ini Kota Palembang telah memiliki Light Rail\nTransit (LRT) dan Bus Rapid Transit (BRT) yang keduanya telah terintegrasi\ndengan cukup baik yang bisa dijadikan contoh untuk dikembangkan juga di tempat\nlain. Keprihatinan pada masalah pencemaran udara ini diperkuat dengan hasil\nkajian International Energy Agency (IEA) yang menyebutkan, buruknya kualitas\nudara akibat pencemaran, menyebabkan kematian 6,5 juta jiwa per tahun yang\nmayoritas menimpa kota-kota di Asia dan Afrika. Angka ini diperkirakan bakal\nmengalami peningkatan drastis jika tidak ada langkah nyata untuk menyediakan\nenergi bersih. Sektor transportasi darat baik berupa mobil pribadi, motor\nmaupun kendaraan umum menyumbangkan 90 persen pencemaran udara dan perubahan\niklim sebagai akibat penggunaan BBM oktan rendah seperti premium yang berdampak\nburuk secara signifikan bagi kesehatan. Melihat permasalahan tersebut,\nKementerian Perhubungan meningkatkan langkah-langkah yang bersifat pull policy\natau kebijakan menarik penggunaan angkutan umum seperti meningkatkan\nketersediaan angkutan umum massal berbasis rel, meningkatkan integrasi dan juga\ntahun ini telah meluncurkan program Bus Buy The Service (BTS) di 5 kota besar\nyaitu Solo, Palembang, Medan, Denpasar dan Yogyakarta dan menyediakan 45 unit\nbus untuk melayani 3 koridor. BTS atau beli layanan adalah sistem membeli\nlayanan untuk angkutan massal perkotaan kepada operator dengan mekanisme lelang\nyang berbasis standar pelayanan minimal atau quality licensing. Bus BTS\nmemiliki enam standar layanan yang mencakup keamanan, keterjangkauan,\nkeselamatan, kesetaraan, kenyamanan, dan ketertiban.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20201012\/98\/1304027\/kurangi-polusi-menhub-angkutan-umum-pakai-bahan-bakar-nabati\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a>\n| Senin, 12 Oktober 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemerintah berupaya memperluas pasar energi terbarukan (EBT)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT) sebagai sumber energi\nyang ramah lingkungan akan dipercepat dengan menciptakan pasar baru EBT.\nMenteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengungkapkan,\npasar baru EBT tersebut dilakukan melalui program renewable energy base\nindustry development (Rebid) dan renewable energy base on economic development\n(Rebed). Program ini dirancang untuk mempercepat pemanfaatan EBT di kawasan\nindustri, Kawasan Ekonomi Khusus (KEK), dan mendukung kawasan ekonomi lokal di\nwilayah terpencil, terluar dan terdepan Indonesia (3T). Upaya tersebut\ndilakukan beriringan dengan penerbitan rancangan Peraturan Presiden (Perpres)\nyang mengatur pembelian listrik EBT oleh PT Perusahaan Listrik Negara\n(Persero). Menurut Arifin, sudah saatnya Indonesia mengikuti tren masyarakat\ndunia yang mulai mengoptimalkan pemanfaatan EBT untuk mengurangi dampak\nperubahan iklim, sesuai kesepakatan Protokol Kyoto Tahun 1997 yang mana\nkomunitas internasional bertekad akan mengurangi emisi gas karbondioksida dan\ngas rumah kaca. \u201cKomunitas internasional bertekad untuk mengurangi emisi\nkarbondioksida dan gas rumah kaca lainnya, termasuk pengurangan emisi dari\nsektor energi sehingga terjadi transformasi energi untuk mengurangi energi\nfosil pada seluruh sektor, termasuk di antaranya sektor transportasi ke energi\nbaru terbarukan,&#8221; ungkap Arifin dalam siaran pers di situs Kementerian\nESDM, Sabtu (10\/10).<\/p>\n\n\n\n<p>Di samping membuka pasar untuk pemanfaatan EBT yang lebih besar, pemerintah\njuga akan memaksimalkan implementasi bioenergi, seperti percepatan pembangunan\nlistrik berbasis sampah di 12 kota, pemanfaatan biomassa dan sampah sebagai\nbahan baku pada co-firing Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) eksisting,\npelaksanaan mandatori B30, serta program pengembangan green refinery dan mendorong\npengembangan panas bumi berbasis kewilayahan melalui program Flores Geothermal Island\nyang targetnya adalah pemenuhan beban dasar listrik di Pulau Flores.\n&#8220;Optimalisasi pemanfaatan tidak langsung energi panas bumi perlu dilakukan.\nUntuk mengurangi risiko eksplorasi oleh para pengembang, pemerintah juga telah\nmembuat pengembangan panas bumi melalui government drilling atau kegiatan\neksplorasi dilakukan oleh pemerintah,&#8221; jelas Arifin. Pada kesempatan yang\nsama, Direktur Aneka Energi Kementerian ESDM Harris Yahya mengatakan, transisi\ndari energi berbasis fosil ke EBT diperlukan karena karkateristik energi\ntersebut yang ramah terhadap lingkungan. Ia pun menyebut, kunci untuk pemanfaatan\nEBT yang optimal adalah harga yang lebih kompetitif. Harris menjelaskan, saat\nini pemerintah telah berupaya menyelesaikan Perpres tentang pembelian energi listrik\nEBT. Perpres ini akan mengatur harga EBT yang didasarkan kepada aspek keekonomian\ndari teknologi EBT tersebut dan juga berdasarkan lokasi EBT itu akan dibangun.\n\u201cHarganya akan berbeda dan harga yang sudah dimasukkan dalam rancangan Perpres\nini akan lebih menarik untuk memberikan daya tarik kepada pelaku bisnis supaya\ndatang berinvestasi ke Indonesia,&#8221; ujar Harris. Nantinya, ada 11\nkementerian dan lembaga yang terlibat dan memberikan peran dalam mendorong\npengembangan EBT, mulai dari Kementerian ESDM, Kementerian Keuangan, Badan\nKoordinasi Penanaman Modal (BKPM), BUMN, Kementerian Perindustrian, dan banyak\nlagi.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/pemerintah-berupaya-memperluas-pasar-energi-terbarukan-ebt\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisnis.com | Senin, 12 Oktober 2020 Kurangi Polusi, Menhub: Angkutan Umum Pakai Bahan Bakar Nabati Pemerintah terus mengembangkan transportasi yang ramah lingkungan di kota-kota besar Indonesia. Salah satunya, melalui sejumlah kebijakan dalam rangka mengurangi pencemaran atau polusi udara dengan mengembangkan bahan bakar nabati. Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi menyampaikan dukungannya bagi pengembangan transportasi yang ramah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4384","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4384","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4384"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4384\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4889,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4384\/revisions\/4889"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4384"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4384"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4384"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}