{"id":4434,"date":"2020-11-10T05:42:41","date_gmt":"2020-11-10T05:42:41","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4434"},"modified":"2021-05-27T03:58:06","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:06","slug":"harga-biodiesel-di-eropa-mahal-tetap-dibeli-demi-jaga-kesehatan-dan-lingkungan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/harga-biodiesel-di-eropa-mahal-tetap-dibeli-demi-jaga-kesehatan-dan-lingkungan\/","title":{"rendered":"Harga Biodiesel di Eropa Mahal Tetap Dibeli Demi Jaga Kesehatan dan Lingkungan"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bensinkita.com | Senin, 9 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Harga Biodiesel di Eropa Mahal Tetap Dibeli Demi Jaga Kesehatan\ndan Lingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Parulian\nTumanggor, mengatakan, di Eropa harga biodiesel lebih mahal dari Indoneia,\nyakni&nbsp; mencapai Rp 15 ribu per liter. Meski mahal, warga Eropa tetap\nmembeli green energy demi menjaga kesehatan dan lingkungan. Namun, kata\nTumanggor, kesadaran semacam itu belum terbangun di Indonesia karena umumnya\nbelum memikirkan dampak buruk polusi udara terhadap kesehatan dan kerusakan\nlingkungan. Untuk itu, Tumanggor sangat mengapresiasi peran Presiden Joko\nWidodo dalam pengembangan biodiesel dengan mencanangkan produksi B30, B40,\nhingga B100. Menurut Tumanggor, penggunaan biodiesel penting dilakukan karena\nIndonesia kini telah menjadi negara net importir minyak mentah. Padahal,\nIndonesia memiliki kekayaan melimpah berupa CPO yang dapat diolah menjadi bahan\nbakar nabatai yang ramah lingkungan. \u201cKita harus bersyukur menjadi produsen CPO\nterbesar di dunia, karena tidak semua negara bisa menanam sawit, sehingga cinta\nsawit itu perlu kita terapkan kemudian, cinta penggunaan BBN juga makin\ndiketatkan,\u201d ujar Tumanggor. Disebutkan, Aprobi saat ini memiliki 19 perusahaan\nanggota yang membeli membeli CPO untuk diproduksi menjadi unsur nabati FAME\n(fatty acid methyl ester) yang kemudian dicampurkan dengan solar. Produk akhir\nini dikirimkan ke stasiun bahan bakar yang sudah ditentukan oleh Kementerian\nESDM dan PT Pertamina. Terkait insentif yang didapatkan Aprobi, Tumanggor\nmengatakan dana tersebut bukan dari APBN, tetapi dari BPDPKS yang dihimpun dari\ndana para eksportir sawit. Namun, lanjut Tumanggor, pengembangan biodiesel di\nIndonesia masih perlu diperkuat lagi dan memerlukan dukungan dari masyakat\nserta kerja sinergis multipihak guna mencari solusi soal penentun nila\nkeekonomiannya. \u201cMasyarakat atau pengguna tidak perlu khawatir. Kualitas B30\nsudah teruji dengan cukup baik,\u201d kata Tumanggor. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-bensin-kita\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/bensinkita.com\/harga-biodiesel-di-eropa-mahal-tetap-dibeli-demi-jaga-kesehatan-dan-lingkungan\/\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Tagar.id | Senin, 9 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Konversi BBM ke Energi Bersih, APBN Bisa Hemat Rp 300 Triliun<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Peneliti Alpha Research Database Indonesia, Ferdy Hasiman menilai\npemerintah yang menggalakkan penggunaan energi bersih terbarukan dalam\ntransportasi merupakan keputusan tepat. Sebab, upaya tersebut bisa menghemat\nkonsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan APBN. &#8220;Ini belum ditotal\nkeseluruhan, kalau kemarin kan sudah kelihatan penghematan penggunaan B20,\npokoknya gede itu penghematannya. Penggunaan minyak diesel saja bisa menghemat\nRp 110 triliun APBN, karena penggunaa B20 sudah 6 juta kiloliter,&#8221; kata\nFerdy saat dihubungi Tagar, Minggu, 8 November 2020. Terlebih, kata Ferdy, saat\nini penggunaan B30 ditingkatkan menjadi 9,5 juta Kiloliter. Dengan demikian\ndiharapkan penghematannya bisa mencapai Rp 200 triliun dengan penggunaan\nbiodiesel. &#8220;Jadi itu baru dari biodiesel saja belum yang lain-lain, karena\nkita belum ada hitungannya ya, itu baru dari satu sisi saja, kita sudah hemat\nkok,&#8221; ucap pengamat energi itu.&nbsp; Sementara dari yang lain, kata dia,\nseperti dari tenaga uap, tenaga surya, tenaga angin lebih murah.Nantinya bisa\nmenghemat APBN mencapai Rp 300 triliun jika direalisasikan semua. &#8220;Itu\nbelum penghematan dari yang lain-lain. Jadi lumayan menghemat, karena harganya\nmurah, potensinya besar, dan ada daerah yang potensi energi baru terbarukannya\nbesar salah satunya NTT,&#8221; ujar Ferdy. Sebagai informasi, pemerintah terus\nmenggalakkan penggunaan energi bersih terbarukan. Sebab, energi bersih\nterbarukan dinilai lebih ramah lingkugan dan bisa mengurangi dampak kerusakan\nlingkungan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.tagar.id\/konversi-bbm-ke-energi-bersih-apbn-bisa-hemat-rp-300-triliun\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Borneo24.com | Senin, 9 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Setiap Desa di PPU Bakal Dibangun Pertashop, Apa itu?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Setiap desa di Kabupaten Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur\nbakal bangun Pertashop atau Pertamina Shop. Pembangunan tersebut akan memilih\nyang jaraknya jauh dari stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Sekretaris\nDinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (DPMD) Kabupaten Penjam Paser Utara Usep\nSupriyatna mengatakan, pada tahun ini pembangunan Pertashop desa baru sebatas\nsosialisasi, dan akan dilanjutkan pada tahun 2021. \u201cKami mulai sosialisasikan\nrencana pembangunan petrashop di desa untuk mudahkan warga dapatkan bahan bakar\nminyak,\u201d katanya, Senin (9\/11). \u201cPembangunan Petrashop itu mulai digagas pada\ntahun ini, khususnya untuk wilayah perdesaan yang jauh dari lokasi SPBU,\u201d\nimbuhnya. Nantinya, jenis BBM yang dijual di Pertashop kelasnya berbeda dengan\nyang di SPBU. Untuk BBM jenis pertalite dan pertamax menggunakan RON92. Adapun\nBBM jenis solar atau dexlite menggunakan HSE sehingga memudahkan masyarakat\nuntuk mendapatkan BBM. Jika terealisasi, Pertashop di setiap resa dikelola oleh\nmasing-masing badan usaha milik desa (BUMDes). Menurut dia, sosialisasi terus\nberjalan dan ada beberapa desa yang berminat. Ketika BUMDes membuat unit baru,\nmenurut dia, harus melakukan studi kelayakan dan memasukkannya dalam perencanaan\ndesa. Pertashop, kata Usep Supriyatna, juga bisa menaikkan pendapatan asli desa\ndan menjadi salah satu usaha yang dapat menyokong kegiatan pembangunan\nperekonomian desa. Ia menegaskan bahwa Pertamina Shop merupakan lembaga\npenyaluran di tengah desa yang resmi dari pemerintah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-borneo-24-com-berita-terbaru-dan-terkini-di-kalimantan\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/borneo24.com\/seputar-borneo\/kalimantan-timur\/setiap-desa-di-ppu-bakal-dibangun-pertashop-apa-itu\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>IndoPos | Senin, 9 November 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Mesin Pakai biodiesel Bikin Boros Filter (Industri Belum\nSepenuhnya Terima B20 dan B30)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Undang-Undang Omnibus Law Cipta Kerja (Ciptaker) memang sudah\nditandatangani oleh Presiden Joko Widodo. Namun, setelah publik bisa mengakses\nUU tersebut, justru mencuatkan tanda tanya lantaran banyak penulisan di produk\nhukum tersebut yang tidak tepat (baca: typo). Yang menarik dibahas warganet di\nsosial media ada pada pasal 40 UU Ciptaker mengatur tentang perubahan UU no 22\ntahun 2001 tentang Minyak dan Gas Bumi. Pasal 1 ayat 3 UU Migas terdapat\npengertian &#8220;Minyak dan Gas Bumi adalah Minyak Bumi dan Gas Bumi&#8221;\nKerancuan arti kalimat tersebut lantas menimbulkan banyak asumsi. Misalnya\nsaja, muncul pertanyaan jika kalimat hukumnya demikian, apakah bio-solar\n(biodiesel) bukan bagian dari minyak bumi? Padahal, sejak 15 Agustus 2018 lalu,\npemerintah menerbitkan Perpres Nomor 66 Tahun 2018 tentang Perubahan Kedua Atas\nPeraturan Presiden Nomor 61 Tahun 2015 Tentang Penghimpunan dan Penggunaan Dana\nPerkebunan Kelapa Sawit. Per- pres ini menjadi payung hukum bagi perluasan\npenerapan B20 untuk sektor Publik Service Obligation (PSC maupun non-PSO. Dalam\nprakteknya, 1 engembangan mandatory 1 rluasan biodiesel 20 dan yi persen\nmenampilkan sejum ah risiko, keuntungan, dan potensi dari penggunaan balian\nnabati ini dalam mesin industri. Salah satu risikonya adalah penggantian filter\nakan lebih sering, namun mesin akan menjadi lebih bersih. Perusahaan pelat\nmerah PT PLN (Persero) menjadi salah satu pemakai bahan bakar biodiesel. PLN\nmemakai biodiesel untuk kebutuhan mesin pembangkit listrik. Executive Vice\nPresident Corporate Communication PT PLN (Persero) Agung Murdifi yang\ndikonfirmasi INDOPOS mengatakan, pada prinsipnya pihaknya mendukung program\nPemerintah RI menggunakan biodiesel. Sebab penggunaan bahan bakar nabati\ntersebut memberi dampak ramah lingkungan dan dapat menghemat devisa negara. Dia\nmenambahkan, saat ini PLN menggunakan jenis biodiesel FAME (Fatty Acid Methyl\nEster). Hal tersebut sesuai dengan spesifikasi pada Keputusan Direktur Jenderal\nEnergi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi No 189K\/10\/DJE\/2019 pada 5\nNovember 2019 yang dicampur-kan bersama HSD (High Speed Diesel) dengan\nperbandingan 30 persen FAME. Perbandingan campuran ini sesuai Keputusan\nDirektur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konversi Energi No\n197K\/10\/DJE\/2019 pada 18 November 2019) dan 70 persen HSD murni sejak 1 Januari\n2020. &#8220;Penggunaan biodiesel sudah kami lakukan dan pembangkit kami tetap\ndapat beroperasi,&#8221; akunya di Jakarta, Minggu (8\/11). Namun, dia juga tidak\nmemungkiri, ada perubahan dalam hal efisiensi sejak pembangkit memakai energi\nbiodiesel. Sebab, nilai tara kalor biodiesel lebih rendah dibandingkan nilai\ntara kalor pada HSD murni. Agung juga mengakui, penggunaan biodiesel memang\nmenambah biaya pemeliharaan pembangkit khususnya untuk penyediaan filter.<\/p>\n\n\n\n<p>Karena spesifikasi biodiesel berbeda dengan HSD murni. &#8220;Namun\ndemikian, kami pastikan ini tidak mengganggu cashflow PLN,&#8221; yakinnya. Dia\nhanya berharap, ke depannya agar spesifikasi biodisel yang diproduksi oleh\nprodusen dapat ditingkatkan kualitasnya. &#8220;Sehingga penggunaan biodiesel\nuntuk pengoperasian pembangkit PLN menjadi lebih baik,&#8221; harapnya. Beberapa\ndampak yang mungkin timbul dari penggunaan biodiesel pada pembangkit listrik\nadalah, periode pemeliharaan pembangkit listrik atau untuk mesin industri jadi\nlebih pendek, frekuensi penggantian filter jadi lebih banyak, dan penggunaan\nba-han bakar lebih tinggi. Peneliti dari Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia\n(LIPI) Dieni Mansur mengungkapkan, sejumlah tantangan penggunaan bahan bakar\nbiodiesel untuk industri di tanah air. Menurutnya, penerapan biodiesel itu ada\ndua. Biodiesel di Indonesia saat ini adalah mandatory atau diproduksi\nberdasarkan mandat dari Presiden RI. &#8220;Mandatnya yaitu buat B20 (campuran\n20 persen biodiesel dengan 80 persen solar), lalu naikin ke B30, lalu naikin\nlagi ke B40. Artinya bahan bakarnya harus dimodifikasi dengan mencampurkan\nbiodiesel dengan solar,&#8221; ungkapnya kepada INDOPOS di Jakarta, Minggu\n(8\/11). Upaya tersebut ditempuh untuk menyesuaikan mesin yang sebelumnya\nmenggunakan bahan bakar solar. Sedangkan biodiesel voluntary belum dapat\nditerapkan di Indonesia. Sebab, saat ini di dalam negeri belum ada mesin yang\ncocok dijalankan B100 atau biodiesel 100 persen yang sudah diproduksi. Bahkan,\nditambahkannya, di luar negeri pun belum ada mesin industri yang seratus persen\ncocok menggunakan B100. &#8220;Untuk itulah jika nanti ada industri yang\nmesinnya sertus persen cocok dengan penggunaan B100 maka industri tersebut akan\nmendapat pengurangan pajak (insentif) dari pemerintah,&#8221; sebutnya. Dirinya\njuga mengatakan, B100 yang diproduksi saat ini adalah methyl ester yang\nberbahan baku kelapa sawit. Ma- salahnya saat ini belum ada mesin yang bisa\ndijalankan dengan methyl ester. Dikatakan, methyl ester bersifat pelarut yang\ndapat merusak sejumlah komponen mesin berbahan tertentu. Seperti seal-seal yang\nberbahan karet akan mudah rusak oleh methyl ester. Sejumlah industri mengaku,\nmesinnya menjadi kotor setelah mengganti bahan bakar solar ke biodiesel. Apakah\nbetul biodiesel bisa mengotori mesin? Dia mengatakan sebaliknya. Justru bahan\nbakar biodiesel membuat ruang bakar mesin menjadi bersih. Kenapa terlihat gas\nbuang menjadi kotor itu karena proses pelarutan kotoran-kotoran yang di ruang\nbakar mesin. Kotoran-kotoran itu adalah karban yang dihasilkan dari solar. Dia\njuga menyebut, tenaga mesin yang dihasilkan dari ba-han bakar biodiesel juga\nlebih rendah dibandingkan bahan bakar solar. Berdasarkan pengalaman pelaku\nindustri, penggunaan bakar biodiesel lebih boros dibandingkan solar. <\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bukan Memaksa Industri<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah telah memperluas pemanfaatan bauran minyak sawit dalam\nsolar sebesar 30 persen (Biodiesel 30\/B30), ke sejumlan sektor non PSO (Public\nService Obligation). Seperti industri dan pertambangan. Kebijakan itu sukses\nmenurunkan impor solar. Impor solar digadang-gadang menjadi salah satu penyebab\nneraca perdagangan defisit. Namun saat Pandemi C0V1D-19, penerapan B30 mendapat\ntantangan. Sebab, harga BBM anjlok saat pandemi. Selain itu, juga timbul banyak\npertanyaan bahwa industri terkesan dipaksakan menggunakan B30. Ada juga yang\nmempertanyakan bauran energi tersebut dengan dampak terhadap mesin. Direktur\nEksekutif Energy Watch Mamit Setiawan mengatakan, memang agak ber- beda\nmenggunakan solar biasa dengan bio solar dari tumbuhan nabati. Kadar air\nmenjadi lebih banyak. &#8220;Jadi dari pengguna harus sering-sering membersihkan\nmesinnya. Filternya. Jadi harus lebih intens dalam melakukan perawatan terhadap\nmesin. Misalnya ganti filter lebih cepat. Mesin sering dicek supaya jangan\nsampai mesin terganggu. Sebenarnya lebih ke situ,&#8221; sarannya. Lebih lanjut,\ndia menjelaskan, biosolar salah satu upaya pemerintah untuk mengurangi energi\nfosil. Sebab energi fosil tidak bisa diperbaharui. Termasuk, ini adalah upaya\nmemenuhi target bauran energi 2025 sebesar 23 persen. Yang hingga saat ini\npemanfaatan energi baru terbarukan masih jauh dari target. &#8220;Biosolar\nataupun biofuel ini menjadi salah satu upaya pemerintah untuk menjalankan\nketertinggalan tersebut. Disamping memang, saat ini kalau bicara sawit itukan\nsaat ini sedang ada kampanye hitam yang dilakukan sejumlah negara di\nEropa,&#8221; bebernya. Program mandatory B30, kata dia juga salah satu upaya\npemerintan membantu pengusaha dan petani sawit. Sehingga produknya masih bisa\nterus digunakan. &#8220;Jadi bukan karena memaksakan ke industri. Sebenarnya\nsemua sudah dilakukan ujicoba. Di tes, diteliti semuanya. Dan saya kira dengan\nprogram multi tes yang dilakukan oleh Kementerian ESDM, BPPT, dan Pertamina\nharusnya sudah pada tahapan konklusi bahwa biofuel ini layak digunakan untuk\nmesin. Memang harus ada perawatan ekstra dan lebih yang harus dilakukan,&#8221;\nterangnya lagi. Dia menambahkan, penggunaan biofuel secara jumlah dibandingkan\nenergi fosil, belum banyak. Namun saat ini sudah berjalan. &#8220;Paling tidak\npemerintah \/ I 1 J W telah mengupayakan digunakan di BUMN, seperti PLN, Pelni,\nKereta Api dan PLN. Perusahaan-perusahaan tambang sekarang juga sudah banyak\nmenggunakan biosolar ini. Swasta juga sudah banyak,&#8221; jelas Mamit. Ketua\nUmum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono saat\ndikonfirmasi mengatakan, kebijakan pemerintah terkait biosolar berbahan dasar\nsawit terus berjalan. Dari pembuatan B7,5, B20, dan tahun ini B30. &#8220;Untuk\nsuplai enggak ada masalah. Karena secara produksi kita berlimpah,&#8221; ujar\nJoko Supriyono kepada INDOPOS, Jumat (6\/11) lalu. Dia mengatakan, produksi\nsawit domestik sebelumnya dominan untuk kepentingan ekspor. Karena ada peluang\ndalam negeri, maka peluang domestik tersebut diutamakan. Lebih jauh ia\nmengungkapkan, dalam hal suplai demand sawit domestik tidak ada kendala. Tapi\nkarena program pemerintah B30 maka sawit berpeluang berkembang di industri\nhilir dalam negeri. Sehingga ada nilai tambah di dalam negeri. &#8220;Dengan\nbiosolar dari sawit ini berpotensi mengurangi impor solar secara\nlangsung,&#8221; ungkapnya. Impor solar secara langsung tersebut, lanjutnya,\nselama ini ditengarai penyebab defisit transaksi perdagangan bisa ditekan. Dia\nmenambahkan, sawit produksi domestik tergantung pada kondisi suplai pasar\nglobal. Hal ini kemudian menyebabkan sawit menjadi over, salah satunya pada\n2017 lalu. Namun, kondisi tersebut, menurutnya tidak terjadi setiap tahun.\n&#8220;Tergantung situasi kondisi. Seperti tahun ini ekspor kita mengalami\nhambatan karena pandemi. Tapi produksi bio solar dalam negeri terus berjalan.\nTadinya terjadi over suplai, bisa penyaluran domestik yang terus tumbuh,&#8221;\nbebernya.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bensinkita.com | Senin, 9 November 2020 Harga Biodiesel di Eropa Mahal Tetap Dibeli Demi Jaga Kesehatan dan Lingkungan Ketua Umum Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia (Aprobi), Parulian Tumanggor, mengatakan, di Eropa harga biodiesel lebih mahal dari Indoneia, yakni&nbsp; mencapai Rp 15 ribu per liter. Meski mahal, warga Eropa tetap membeli green energy demi menjaga kesehatan dan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4434","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4434","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4434"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4434\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4874,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4434\/revisions\/4874"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4434"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4434"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4434"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}