{"id":4486,"date":"2020-12-10T01:42:31","date_gmt":"2020-12-10T01:42:31","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4486"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"wamendag-optimis-ri-menangi-gugatan-biodiesel-sawit-di-wto","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wamendag-optimis-ri-menangi-gugatan-biodiesel-sawit-di-wto\/","title":{"rendered":"Wamendag Optimis RI Menangi Gugatan Biodiesel Sawit di WTO"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Wamendag Optimis RI Menangi Gugatan Biodiesel Sawit di WTO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kelapa sawit diakui sebagai adalah komoditas yang sangat strategis\nbagi Indonesia. Dalam perspektif perdagangan luar negeri , sawit memberikan\nkontribusi signifikan bagi ekspor Indonesia. Pada tahun 2019, ekspor kelapa\nsawit, crude palm oil (CPO) dan produk turunannya mencapai USD21,79 miliar atau\nmenyumbang sebesar 12,1% terhadap total ekspor non-migas, atau sebesar 11,2%\nterhadap total ekspor Indonesia. Tahun ini, kontribusi sawit meningkat dimana\nsepanjang periode Januari\u2013September 2020, ekspor kelapa sawit, CPO dan\nturunannya mencapai USD14,05 miliar atau ber kontribusi terhadap ekspor\nnonmigas sebesar 12,63%. Sawit juga merupakan sektor padat karya (labor\nintensive) sehingga membantu menciptakan banyak lapangan kerja. Saat ini,\nindustri sawit menyerap tenaga kerja langsung sebanyak 5,3 juta orang atau\nsejumlah 21,2 juta anggota keluarga yang hidup dari sawit. Namun, peran besar\nsawit Indonesia selama ini sering mendapatkan kampanye negatif di luar negeri.\nOleh karena itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Jerry Sambuaga menegaskan\npentingnya untuk terus berkampanye positif mengenai industri sawit.\n&#8220;Informasi mengenai sawit tidak berimbang, lebih banyak dibentuk oleh\nkampanye negatif. Ada beberapa hal yang tidak pas atau tidak mencerminkan\nrealita dan peluang besar sawit itu sendiri. Karena itu, kami bertekad untuk\nterus lanjutkan kampanye positif agar informasi mengenai sawit lebih berimbang\ndan sawit tetap berperan sebagai industri strategis Indonesia,&#8221; kata Jerry\ndalam keterangan tertulisnya, Rabu (9\/12\/2020). Saat ini Indonesia tengah\nmenghadapi gugatan biodiesel sawit dari Uni Eropa di WTO. Wamendag Jerry\nmemimpin tim perundingan beberapa waktu lalu di Jenewa. Jerry juga memimpin tim\nuntuk melakukan pembicaraan intensif baik dengan parlemen Uni Eropa (UE) maupun\nnegara-negara strategis di Eropa. <\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini perkara sudah mulai masuk dalam tahap pembentukan panel.\nMelihat jalannya perkara di Organisasi Perdagangan Dunia (WTO), Jerry sangat\noptimis Indonesia menang. &#8220;Landasan gugatan Uni Eropa tak kuat. Itu sudah\nkita uji dalam sidang konsultasi Januari lalu. Jadi optimis kita akan menang di\ntingkat panel,&#8221; tandasnya. Jerry menjelaskan, isu sentral yang sering\ndialamatkan ke industri sawit adalah isu lingkungan. Padahal, faktanya, sawit\nadalah industri minyak nabati yang paling efisien dibandingkan minyak nabati\nlainnya. Sebagai perbandingan, dari sisi penggunaan lahan, 1 hektare (ha) sawit\nsama dengan 5-6 ha bunga matahari yang dimanfaatkan sebagai sumber minyak\nnabati di Eropa. Selain itu, Indonesia juga sudah berkomitmen untuk menjaga\nhutannya. Banyak negara Eropa yang saat ini tinggal mempunyai tutupan hutan\nsebesar 11%, sementara Indonesia jauh lebih besar dari itu. Menurut Jerry,\nkomitmen lingkungan Indonesia juga terus diperbaharui dalam industri sawit.\nIndonesia punya standardisasi ISPO dan RSPO. Indonesia juga terus memenuhi\nstandardisasi lingkungan di negara-negara tujuan. Dampak positif bagi\nlingkungan dari kelapa sawit juga ada dalam peluang pengembangan energi hijau.\nSaat ini Indonesia tengah menjalankan program penggunaan biodiesel secara\nbertahap mulai dari B20, B30, hingga mencapai biodiesel secara keseluruhan\n(100%). Dengan begitu diharapkan terjadi alih sumber energi secara massif dari\nenergi tak terbarukan menjadi energi yang terbarukan. &#8220;Fakta-fakta itu\nharus diinformasikan secara baik ke publik sehingga perspektif publik menjadi\nmakin positif. Dan itu harus dilakukan secara massif ke berbagai segmen, baik\npembuat kebijakan, kelompok pejuang lingkungan dan dunia pendidikan,&#8221;\ntandasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekbis.sindonews.com\/read\/261588\/34\/wamendag-optimis-ri-menangi-gugatan-biodiesel-sawit-di-wto-1607465555?showpage=all\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Okezone.com | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>B30 Kurangi Defisit Neraca Dagang Sektor Migas dan Impor Solar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kelapa sawit di Indonesia turut berkontribusi menjadikan Indonesia\nsebagai produsen Biodiesel atau energi terbarukan yang lebih ramah lingkungan\ndibandingkan dengan bahan bakar fosil. Biodiesel dengan bahan baku berasal dari\nminyak sawit merupakan hasil pencampuran dengan minyak solar yang menghasilkan\nB30. Plt. Direktur Kemitraan Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit\n(BPDPKS), Edi Wibowo mengatakan, sejak Januari 2020, B30 telah menjadikan\nIndonesia sebagai pionir dalam pemanfaatan campuran Biodiesel dalam BBM Solar\nterbesar di dunia &#8220;(B30) menjadikan Indonesia sebagai pionir dalam\npemanfaatan campuran Biodiesel dalam BBM Solar terbesar di dunia yang\nmengurangi ketergantungan negara kita asal impor minyak solar sekaligus\nmengurangi defisit neraca perdagangan sektor migas,&#8221; ujar Edi dalam\nWebinar bertajuk Prospek Bisnis Vitamin A &amp; E Berbasis Minyak Kelapa Sawit,\nRabu (9\/12\/2020). Selain itu, Edi menyebut, produk kelapa sawit turut mewarnai\nkehidupan sehari hari masyarakat Indonesia, dari mulai yang paling familiar\nminyak goreng dari sawit. Adapun produk turunan minyak sawit lebih luas lagi,\nseperti dalam produk sabun, shampoo, deterjen, lipstik, produk kosmetik,\npersonal care, juga roti, cokelat, biskuit, krimer, margarin, susu formula bayi\ntermasuk vitamin A dan E. &#8220;Penggunaan minyak sawit dan turunannya yang\nmerupakan minyak nabati dengan produktivitas tertinggi menjadikan produk dapat\ndigunakan oleh segenap kalangan masyarakat dengan harga relatif\nterjangkau,&#8221; kata dia. Edi menyampaikan, salah satu program yang dijalankan\nBPDPKS terkait program pendanaan penelitian dan pengembangan adalah dengan\nmendukung pendanaan untuk riset dan sekaligus dapat digunakan untuk melawan\nkampanye hitam kelapa sawit, diantaranya terkait dengan peningkatan aspek\nsustainability dan kesehatan. Adapun riset yang telah didanai BPDPKS adalah\nmitigasi isu kandungan 3-MPCD dan glycidol esters pada minyak sawit dan\npengembangan proses produksi vitamin E dan Magnesium. &#8220;Riset-riset yang\ntelah dilakukan ini diharapkan dapat dimanfaatkan seluruh stakeholder, baik\nperusahaan, pemerintah, masyarakat dan media untuk pengembangan dan menjaga\nkeberlanjutan industri kelapa sawit,&#8221; ucapnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/economy.okezone.com\/read\/2020\/12\/09\/320\/2324541\/b30-kurangi-defisit-neraca-dagang-sektor-migas-dan-impor-solar\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kelapa Sawit Tidak Hanya Bermanfaat untuk Campuran Biodiesel,\nCek Faedah Lainnya!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selain untuk campuran dalam biodiesel atau B30 , ternyata minyak\nkelapa sawit bisa bermanfaat untuk yang lainnya. Dalam dunia farmasi, kegunaan\nminyak kelapa sawit menarik untuk bahan penelitian. Kepala PUI-PT\nNutrasetikal-Pusat Penelitian Biosains dan Bioteknologi ITB Elfahmi mengatakan\nkandungan kelapa sawit bisa dimanfaatkan menjadi bahan baku obat suplemen\nmakanan yang saat ini mayoritas masih diimpor. &#8220;Ini jadi tugas kita\nmengimplementasikannya karena prospeknya luar biasa. Karena selama ini sawit\nitu hanya digunakan minyaknya saja, tapi banyak kandungan yang bisa\ndieksplore,&#8221; ujar Elfahmi dalam Webinar bertajuk Prospek Bisnis Vitamin A\n&amp; E Berbasis Minyak Kelapa Sawit, Rabu (9\/12\/2020). Dalam dunia farmasi,\nElfahmi menjelaskan, senyawa murni dari vitamin A dan E, dari mana pun\nsumbernya memiliki efek yang sama, termasuk yang terdapat dalam kandungan\nkelapa sawit. &#8220;Kalau tidak dalam bentuk murni ini juga bisa dalam bentuk\nekstrak kasar dan bisa dimasukkan dalam obat herbal. Ini peluang yang luar biasa\nlebar. Kesulitan kita adalah bahan baku yang kita produksi ada sertifikat\nanalisis mengikuti high grade,&#8221; kata dia. Elfahmi menuturkan, vitamin A\ndan E merupakan sumber nutrisi dan mempunyai khasiat untuk aktivitas lain.\nAdapun vitamin A dan E sumbernya paling bagus dari minyak kelapa sawit\ndibanding minyak lainnya. Jadi, senyawa kimia dari daun, ampas dan lainnya bisa\ndimanfaatkan. &#8220;Saya ingin garis bawahi di sini, penelitian tentang vitamin\nA dan E terus berkembang dengan sangat cepat pada berbagai aspek. Minyak kelapa\nsawit sebagai sumber dengan kadar vitamin A dan E sangat tinggi mempunyai\nkeunggulan dan pemanfaatan di bidang farmasi secara komersial,&#8221; ucapnya.\n&#8220;Penggunaan senyawa murni vitamin A dan E, apapun sumbernya mempunyai\nsifat dan efek farmalogi yang sama. Penggunaan dalam bentuk material kasar\nmerupakan nilai tambah bagi minyak kelapa sawit karena mengandung beberapa\nkandungan lain yang bisa memberikan efek farmalogis secara sinergis,&#8221;\nsambungnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekbis.sindonews.com\/read\/262230\/34\/kelapa-sawit-tidak-hanya-bermanfaat-untuk-campuran-biodiesel-cek-faedah-lainnya-1607501557\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ekonom Faisal Basri Kritik Pengembangan DME dan Biodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ekonom Senior Faisal Basri menilai kebijakan pengembangan dymethil\nether (DME) dan biodiesel untuk menekan subsidi bukanlah langkah yang tepat.\nMenurutnya, pengembangan DME sebagai subtitusi LPG saat ini belum ekonomis dan\nharganya akan lebih mahal daripada LPG. Dengan demikian, penggunaan bahan bakar\nyang diolah dari batu bara tersebut sebagai subtitusi LPG berpotensi\nmenimbulkan beban subsidi baru. &#8220;Ini tidak mungkin memproses batu bara\njadi DME dapat bersaing dengan gas alam. Tuhan menganugerahi kita gas alam yang\nmurah dan Anda mencoba hal yang berbeda dengan membuat proses yang lebih lama\ndan lebih mahal demi menghemat anggaran subsidi LPG,&#8221; katanya dalam webinar\nIndonesia Energy Transition Dialogue 2020, Rabu (9\/12\/2020). Di sisi lain,\nkebijakan mandatori campuran 30 persen biodiesel (FAME\/fatty acid methyl ester)\ndalam minyak solar atau B30 juga dinilai kurang tepat. Berdasarkan studinya,\nbiaya untuk impor solar lebih rendah dari opportunity cost menggunakan FAME.\nPengembangan B30 yang diharapkan dapat menekan impor solar justru berdampak\nnegatif terhadap neraca perdagangan. &#8220;Kita mau perbaiki neraca perdagangan\natau current acount balance kita tapi nyatanya berkontribusi ke defisit, kalau\ntidak salah US$ 5 miliar,&#8221; ujar Faisal. Dia menambahkan, kebijakan\npengembangan biodiesel juga bertentangan dengan kebijakan moratoriu pembukaan\nlahan perkebunan. Pasalnya, bila B30 terus dikembangkan, setidaknya dibutuhkan\ntambahan lahan sekitar 6-7 juta hektar lahan untuk biofuel pada 2025. &#8220;Ini\nbukan langkah yang tepat untuk transisi energi, transisi dari yang buruk ke\nyang lebih buruk,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20201209\/44\/1328727\/ekonom-faisal-basri-kritik-pengembangan-dme-dan-biodiesel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Antaranews.com | Selasa, 8 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kadin Aceh dorong peningkatan campuran CPO untuk biodiesel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Aceh mendorong\npeningkatan campuran &#8220;crude palm oli&#8221; (CPO) ke biodiesel, sehingga\nbisa menyerap produksi minyak sawit mentah dalam negeri. &nbsp;&#8220;Kami terus\nmendorong campuran CPO dalam biodiesel terus ditingkatkan hingga 50 persen.\nPeningkatan ini akan berdampak pada serapan produksi CPO,&#8221; kata Ketua\nKadin Aceh Makmur Budiman di Banda Aceh, Selasa. Saat ini, kata Makmur Budiman,\ncampuran CPO untuk biodiesel masih berkisar 20 hingga 30 persen. Kadin Aceh\nmendorong agar campurannya bisa mencapai 50 persen. Dengan campuran 50 persen\ntersebut, kata Makmur Budiman, maka bisa menyerap semua CPO produksi dalam\nnegeri, sehingga tidak tergantung dengan pasar luar negeri. &#8220;Jika ini\nterealisasi, maka pasar CPO Indonesia tidak lagi tergantung dengan pasar luar\nnegeri. Dan ini tentu menguntungkan petani karena harga sawit bisa\nditingkatkan,&#8221; kata Makmur Budiman. Selain mendorong peningkatan campuran\nCPO dalam biodiesel, Makmur Budiman juga mengajak kalangan pengusaha di Aceh\nberinvestasi membangun pabrik pengolahan CPO menjadi minyak goreng serta produk\nlainnya. Tujuannya, kata Makmur Budiman, agar Aceh tidak lagi menjual minyak\nmentah sawit, tetapi dalam bentuk pengolahan, sehingga meningkatkan nilai\njualnya. &#8220;Kalau yang dijual CPO ke luar Aceh, kita beli lagi dalam bentuk\nsabun, minyak goreng, dan lainnya. Dan ini tentu menimbulkan biaya lebih besar,\nterutama biaya transportasi,&#8221; kata Makmur Budiman. Kalau pabrik\npengolahannya ada di Aceh, kata Makmur Budiman, biaya transportasi bisa digeser\nuntuk peningkatan harga sawit dan yang diuntungkan adalah petani. &#8220;Biaya\ntransportasi mengangkut CPO ke luar Aceh hampir Rp300 miliar per tahun, jika\nada pabrik pengolahan CPO, biaya transportasi CPO bisa digeser untuk petani,\nsehingga kesejahteraannya bisa meningkatkan,&#8221; kata Makmur Budiman.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/aceh.antaranews.com\/berita\/181592\/kadin-aceh-dorong-peningkatan-campuran-cpo-untuk-biodiesel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Medcom.id | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2021, Pemerintah Targetkan Penyaluran Biodiesel 9,2 Juta KL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah menargetkan penyaluran biodiesel melalui program B30\npada tahun depan sebesar 9,2 juta kiloliter (kl). Pemerintah juga berkomitmen\nmelanjutkan program B30 guna mendukung target bauran energi Indonesia sebesar\n23 persen di 2025. &#8220;Program mandatory B30 yang telah dijalankan\nmenciptakan instrumen pasar domestik sehingga mengurangi ketergantungan\nterhadap pasar ekspor,&#8221; kata Deputi Bidang Koordinasi Pangan dan\nAgribisnis Kemenko Perekonomian Musdhalifah Machmud dalam keterangan resminya,\nRabu, 9 Desember 2020. Dengan terjaganya konsumsi biodiesel dalam negeri\nmelalui program mandatory B30, diharapkan dapat menyerap produksi CPO minimal\nsekitar sembilan juta ton setiap tahunnya. Hal ini dinilai dapat menjaga\nkeberlanjutan industri hulu sampai hilir. &#8220;Selain itu, diharapkan juga\ndapat menciptakan kestabilan harga CPO yang pada akhirnya akan memberikan\ndampak positif pada harga Tandan Buah Segar di tingkat petani,&#8221; jelas dia.\nIa menambahkan dukungan pemerintah terhadap hilirisasi produk kelapa sawit juga\nterus dilakukan baik untuk sektor industri maupun pada skala kecil di tingkat\npetani. Dukungan pada sektor industri dilakukan dengan mendorong perkembangan\nindustri oleokimia. &#8220;Sementara pada usaha skala kecil dilakukan melalui\ndukungan pembentukan Pabrik Kelapa Sawit Mini yang dikelola oleh\nKoperasi\/Gabungan Kelompok Tani,&#8221; pungkasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.medcom.id\/ekonomi\/bisnis\/zNA3Y1zk-hl-2021-pemerintah-targetkan-penyaluran-biodiesel-9-2-juta-kl\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Gaes Yuks Bisnis Minyak Jelantah: Dapat Omzet Lumayan dan Jaga\nLingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Salah satu sumber energi alternatif yang belakangan ini\nmendapatkan banyak perhatian adalah fatty acid methyl ester (FAME) atau yang\nlazim dikenal sebagai biodiesel . Biodiesel ini dapat menggantikan bahan bakar\nsolar tanpa modifikasi lebih lanjut, sehingga menjadikannya sebagai sumber\nenergi alternatif pengganti bahan bakar fosil. Sejak 2018 biodiesel berbahan\nbaku minyak kelapa sawit dijadikan mandatori oleh pemerintah dan saat ini\nimplementasinya sudah sampai B30, dengan campuran FAME 30% dan solar 70%. Tak\nhanya dari kelapa sawit, FAME juga bisa dihasilkan dari minyak hewani, minyak\nnabati, bahkan minyak goreng bekas. Menilik potensinya, produk turunan minyak\nsawit, yaitu minyak goreng sawit bekas atau yang lebih dikenal dengan minyak\njelantah pun menjadi salah satu opsi bisnis menjanjikan di masa depan. Staf\nAhli Menteri Bidang Lingkungan Hidup dan Tata Ruang Kementerian ESDM Saleh\nAbdurrahman menyampaikan, pemanfaatan minyak jelantah untuk biodiesel menjadi\nsalah satu opsi yang baik sebagai bagian dari peningkatkan sirkular ekonomi,\nyaitu melakukan daur ulang pemanfataan sumber daya untuk terus menghasilkan\nmanfaat ekonomi sekaligus mengurangi dampak lingkungan. &#8220;Mengingat\nbesarnya potensi minyak jelantah bisa menjadi potensi bisnis yang bagus\ntermasuk bagi generasi muda di Indonesia,&#8221; ungkap Saleh di Jakarta, Rabu\n(9\/12\/2020). Kajian awal TNP2K dan Traction Energi Asia tentang Potensi Minyak\nJelantah Untuk Biodiesel dan Penurunan Kemiskinan di Indonesia (2020) mencatat\nbahwa pada tahun 2019, konsumsi minyak goreng sawit nasional mencapai 16,2 juta\nkilo liter (KL). Dari angka tersebut, rata-rata minyak jelantah yang dihasilkan\nberada pada kisaran 40-60% atau berada di kisaran 6,46-9,72 juta KL. Sayangnya\nminyak jelantah yang dapat dikumpulkan di Indonesia baru mencapai 3 juta KL\natau hanya 18,5% dari total konsumsi minyak goreng sawit nasional.<\/p>\n\n\n\n<p>Kajian tersebut menemukan bahwa hanya sebagian kecil minyak\njelantah di Indonesia yang dimanfaatkan sebagai biodiesel. Dari tiga juta KL\nyang berhasil dikumpulkan, hanya sekitar 570 KL yang dikonversi untuk biodiesel\ndan kebutuhan lainnya, sementara sisanya sekitar 2,4 juta kilo liter digunakan\nuntuk minyak goreng daur ulang dan ekspor. TNP2K dan Traction Energy Asia\nmenyebut, kondisi itu disebabkan belum adanya mekanisme pengumpulan minyak\njelantah, baik dari restoran, hotel, maupun rumah tangga. Sebaran lokasi sumber\nminyak jelantah yang tidak simetris dengan lokasi pabrik pengolahan biodiesel,\nteknologi pengolahan (terutama yang dikelola oleh masyarakat) yang belum cukup\nefisien dan kualitas biodiesel hasil olahan minyak jelantah yang masih perlu\ndiuji lebih jauh, menjadi tantangan selanjutnya. Padahal, pengolahan minyak\njelantah untuk biodiesel, khususnya jika dilakukan oleh masyarakat, akan\nmendatangkan banyak manfaat baik dari sisi ekonomi, kesehatan, maupun\nlingkungan. Dari sisi ekonomi, Sardji Sarwan, pengelola Kelompok Swadaya\nMasyarakat (KSM) di Tarakan Timur mengatakan bahwa omzet produksi biodiesel\nyang dihasilkan kelompoknya sudah mencapai Rp2 juta per hari dengan\nmempekerjakan sembilan karyawan yang bekerja empat jam per hari, dengan bayaran\nRp2 juta per bulan per orang. Produk biodiesel yang dihasilkan bisa mencapai\n180 liter per hari dan dijual dengan harga Rp11.000 per liter. Walaupun data\nyang ada memang menunjukkan bahwa biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak\njelantah lebih besar daripada biaya konversi biodiesel berbahan baku minyak\nkelapa sawit, namun harga indeks produksi (HIP) minyak jelantah untuk biodiesel\nlebih rendah dibanding HIP minyak kelapa sawit karena faktor bahan baku. Dari\nsisi kesehatan, serapan minyak jelantah untuk produksi biodiesel bisa\nmengurangi alokasi penggunaan minyak jelantah yang didaur-ulang sebagai bahan\nmasakan, sehingga secara tidak langsung dapat mengurangi risiko meningkatnya\nkadar HNE (zat beracun yang mudah diserap dalam makanan) pada makanan yang\ndapat mengakibatkan stroke, alzheimer dan parkinson. Dari sisi lingkungan,\npengolahan minyak jelantah sebagai bahan baku biodiesel bisa berdampak positif\nterhadap pengurangan limbah B3. Mengolah kembali minyak jelantah berarti juga\nmengurangi pembuangan minyak jelantah yang dapat mencemari lingkungan dan\nmengganggu ekosistem. Minyak jelantah yang dibuang sembarangan memberikan\nrisiko meningkatnya kadar chemical oxygen demand (COD) dan biological oxygen\ndemand (BOD) di perairan. Hal ini menyebabkan tertutupnya permukaan air dengan\nlapisan minyak. Akibatnya, sinar matahari tidak dapat masuk ke perairan yang\nmendorong matinya biota dalam perairan, serta berpotensi mencemari air tanah.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekbis.sindonews.com\/read\/261790\/34\/gaes-yuks-bisnis-minyak-jelantah-dapat-omzet-lumayan-dan-jaga-lingkungan-1607483521\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Rabu, 9 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pertamina Targetkan 10 GW Pembangkit Energi Bersih pada 2026<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) melalui PT Pertamina Power Indonesia,\nSubholding Power &amp; New, Renewable Energy, menargetkan memiliki pembangkit\nlistrik energi bersih dengan kapasitas terpasang 10 ribu megawatt (MW) atau 10\ngigawatt (GW) pada 2026. Untuk mewujudkan targetnya tersebut, Pertamina\nmengidentifikasi tiga tantangan utama yang perlu dicarikan solusinya\nbersama-sama seluruh pihak, yaitu komersialisasi, lahan dan pembiayaan\ninvestasi. Ernie D Ginting, Director of Strategic Planning and Business\nDevelopment PPI, mengatakan Pertamina berkomitmen untuk terus meningkatkan\nkontribusinya dalam mendukung Pemerintah mencapai target NRE dalam bauran\nenergi. Pertama, pengembangan geothermal. Pertamina sebagai pengelola Wilayah\nKerja Panas Bumi terbesar di Indonesia akan terus mengupayakan pengembangan\ngeothermal melalui skema IPP (Independent Power Producer). Kedua, pengembangan\nPLTS. Pertamina juga akan membangun PLTS di area yang memiliki iradiasi\nmatahari yang tinggi dan menjalin kemitraan untuk membangun solar cell\nmanufacture. Menurut Ernie, salah satu isu dalam membangun PLTS adalah\npersyaratan TKDN sehingga rencana membangun solar cell manufacture, diharapkan\nakan menurunkan harga jual listrik dari PLTS dan meningkatkan TKDN tersebut.\nKetiga, pengembangan biofuel. Pertamina juga mendukung pemerintah untuk\nmemproduksi biodiesel, bahkan lebih dari B30 dan menuju B100 melalui green\nrefinery dan CPO processing. &#8220;Kami juga akan membangun battery manufacturing\ndengan partnership bersama battery technology provider dan BUMN lain. Kami akan\ngunakan distribusi Pertamina yang sangat ekstensif ini untuk membangun battery\nswapping and charging infrastruktur mengingat ke depannya EV akan\nbertumbuh,&#8221; kata Ernie. Pertamina juga mengembangkan DME untuk mengurangi\nketergantungan terhadap LPG, yang 70% di antaranya berasal dari impor.\n&#8220;Ini adalah beberapa inisiatif Pertamina untuk mendukung perkembangan NRE\ndan mencapai target bauran energi Pemerintah,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<p>Menurut Ernie, aksi strategis ini menunjukkan komitmen yang tinggi\ndari Pertamina, tidak hanya untuk mengambil bagian tetapi menjadi pemimpin\ndalam transisi energi di Indonesia. &#8220;Visi kami adalah memimpin transisi\nenergi di Indonesia melalui inovasi energi bersih. Geothermal akan tetap\nmenjadi salah satu pilar dari bisnis kami,&#8221; ujarnya. Inisiatif yang\ndilakukan Pertamina dalam pengembangan NRE merupakan jawaban atas pergerakan\nenergi sejak pandemi Covid-19. Pada gelar Pertamina Energy Webinar 2020 tersebut,\nHery Haerudin, Vice President Pertamina Energy Institute, memaparkan pandemi\nCovid-19 menyebabkan penurunan kebutuhan energi sebesar 16% pada 2020 dan 3%\npada 2050 dibanding proyeksi sebelum pandemi dan recovery kebutuhan energi\npaling cepat terjadi pada 2022. Energi terbarukan menjadi energi primer dengan\ntingkat kebutuhan paling tinggi dengan porsi mencapai 29% di skenario market\ndriven dan 47% pada skenario green transition pada 2050. Pemanfaatan gas juga\nmeningkat dengan porsi relatif stabil. Di sisi lain, penggunaan batu bara dan\nminyak mengalami penurunan karena transisi energi, &#8220;Untuk mencapai\npenurunan emisi sesuai skenario diperlukan EBT paling sedikit 16% pada 2030\nyang didukung oleh disrupsi energi lainnya, seperti EV, biofuel, dan peningkatan\npemanfaatan gas,&#8221; katanya. Mengingat salah satu tantangan pengembangan NRE\nadalah pembiayaan, dipandang perlu bagi perusahaan di sektor minyak dan gas\nbumi untuk melakukan transisi energi yang lebih memperhatikan dampak\nlingkungan, sosial dan tata kelola (Environment, Social and Governance\/ESG).\nSementara itu, di tengah meningkatnya tuntutan pasar keuangan terhadap credit\nrating terkait dengan ESG, Moody&#8217;s memasukkan penilaian ESG ke dalam profil\nperusahaan-perusahaan. Moody&#8217;s Investors Service, menilai perusahaan-perusahaan\noil dan gas ke dalam peringkat moderate risk dalam Environment dan Social\nscorecard. Moody&#8217;s melakukan penilaian credit rating terhadap 11 sektor yang\nterdampak oleh risiko lingkungan, di mana sektor batu bara menjadi sektor yang\ndianggap berisiko paling tinggi. Untuk sektor yang termasuk ke dalam profil\nrisiko moderat untuk kategori lingkungan dan sosial, Moody&#8217;s menilai perusahaan\nperlu melakukan mitigasi risiko lingkungan dan sosial ini. Hui Ting Sim,\nAnalyst Corporate Finance Group dari Moody&#8217;s Investors Service, mengatakan\nsektor migas terdampak dengan carbon transition risk. &#8220;Penting bagi\nperusahaan mengambil tindakan untuk memitigasi risiko dampak lingkungan agar\nmemperbaiki credit rating score,&#8221; katanya. Hui Ting menyatakan ada beberapa\nlangkah yang dapat dilakukan perusahaan migas untuk memperbaiki credit rating\nscore mereka, di antaranya adalah mendiversifikasi usaha dan menanggulangi\nrisiko transisi energi. &#8220;Jika perusahaan tidak melakukan apa-apa, skor\nrisiko lingkungan mereka akan menjadi negative,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20201209120756-4-207877\/pertamina-targetkan-10-gw-pembangkit-energi-bersih-pada-2026\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sindonews.com | Rabu, 9 Desember 2020 Wamendag Optimis RI Menangi Gugatan Biodiesel Sawit di WTO Kelapa sawit diakui sebagai adalah komoditas yang sangat strategis bagi Indonesia. Dalam perspektif perdagangan luar negeri , sawit memberikan kontribusi signifikan bagi ekspor Indonesia. Pada tahun 2019, ekspor kelapa sawit, crude palm oil (CPO) dan produk turunannya mencapai USD21,79 miliar [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4486","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4486","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4486"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4486\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4859,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4486\/revisions\/4859"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4486"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4486"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4486"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}