{"id":4494,"date":"2020-12-15T02:35:19","date_gmt":"2020-12-15T02:35:19","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4494"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"program-biodiesel-b40-di-2021-pemerintah-udah-siap","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/program-biodiesel-b40-di-2021-pemerintah-udah-siap\/","title":{"rendered":"Program Biodiesel B40 di 2021, Pemerintah Udah Siap?"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Senin, 14 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Program Biodiesel B40 di 2021, Pemerintah Udah Siap?<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah merencanakan pengembangan program biodiesel menjadi B40\npada tahun depan dari saat ini masih B30. Namun dengan kondisi pandemi saat\nini, apakah pemerintah sudah siap untuk menjalankan program B40 tersebut pada\ntahun depan? Bagaimana kesiapannya hingga saat ini? Direktur Bioenergi\nDirektorat Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian\nEnergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Andriah Feby Misna mengatakan, pihaknya\nkini tengah melakukan persiapan pelaksanaan mandatori B40 sebagaimana arahan\nPresiden. Namun dia mengakui, sejauh ini masih ada beberapa tantangan dalam\nupaya pengembangan tersebut. &#8220;Kita saat ini sedang melakukan persiapan.\nBerdasarkan arahan dari Presiden, diharapkan di tahun 2021 sudah B40, jadi kita\nsudah melakukan persiapan dari tahun 2020. Kita akui, ada beberapa tantangan\nyang dihadapi yang datangnya dari aspek teknologi, teknis, finansial, feedstock\n(bahan baku), dan infrastruktur pendukung,&#8221; tutur Feby seperti dikutip\ndari keterangan resmi Direktorat Jenderal EBTKE, yang dikutip CNBC Indonesia,\nSenin (14\/12\/2020). Menurutnya, berbagai upaya yang perlu dilakukan untuk\npenerapan B40 dan B50 antara lain meningkatkan kapasitas produksi Badan Usaha\n(BU) BBN, memperbaiki spesifikasi biodiesel, memperhatikan ketersediaan dana\ninsentif, meningkatkan sarana dan prasarana BU BBM dan melaksanakan uji jalan\nuntuk seluruh sektor pengguna. Lebih lanjut, Feby menjelaskan beberapa upaya\npersiapan yang telah dilaksanakan menuju implementasi program B40 tersebut,\nantara lain melakukan kajian teknis dan keekonomian di mana dari hasil kajian\ntersebut akan dilakukan revisi SNI biodiesel untuk spesifikasi yang akan\ndigunakan untuk B40 ataupun B50, serta penyusunan SNI green fuel karena petani\nsaat ini sudah dapat menghasilkan green fuel D100 dan dapat menjadi opsi untuk\ncampuran B40 ataupun B50. Selain itu, lanjutnya, Ditjen EBTKE juga telah\nmenyiapkan kebijakan pendukung untuk memastikan pelaksanaan program berjalan\ndengan baik seperti kebijakan insentif. Berikutnya, akan dilakukan kajian\nterkait perlu tidaknya tes jalan (road test) dan memastikan kesiapan BU BBN,\nkhususnya dari sisi kapasitas produksi maupun dari sisi spesifikasi produk yang\ndihasilkan ketika digunakan untuk pencampuran. &#8220;B30 ke B40 artinya semakin\nbesar volume dari biodiesel yang akan dikirimkan kemudian juga distribusinya\ndan bagaimana untuk lingkungannya, ini juga harus disiapkan dari\nsekarang,&#8221; ungkapnya. Untuk proyek biorefinery yang dimasukkan ke dalam\nProyek Strategis Nasional, menurutnya pihaknya juga mendorong proyek ini agar\nbisa berjalan dengan baik. &#8220;Upaya yang lain, akan ada sosialisasi secara\nmasif, sehingga program ini benar-benar menjadi program kita bersama dan\nditerima oleh seluruh masyarakat,&#8221; tandasnya. Peran Bahan Bakar Nabati\natau dalam hal ini biodiesel cukup besar dalam pencapaian EBT, di mana\nberkontribusi sebesar 2% terhadap capaian bauran energi baru terbarukan. Dengan\npencampuran B30, maka kontribusi dari biodiesel terhadap bauran energi nasional\nini akan menjadi lebih besar lagi, apalagi jika bisa sampai B40 dan seterusnya.\nManfaat yang didapat dari program BBN menurutnya cukup besar berdampak pada\npenghematan devisa dengan mengurangi impor BBM.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20201214154249-4-208962\/program-biodiesel-b40-di-2021-pemerintah-udah-siap\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Senin, 14 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>2021, Peluang Pemulihan Sektor Pelayaran Kian Tinggi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Asosiasi Pemilik Kapal Nasional atau Indonesia National Shipowners\nAssociation (INSA) mengungkapkan pada 2021 terdapat sejumlah peluang yang dapat\ndimanfaatkan untuk pemulihan industri pelayaran pasca pandemi Covid-19. Dalam\nproyeksi INSA, pelayaran nasional masih memiliki sejumlah peluang makro yang\nbisa ditangkap dan mengoptimalkan kinerja perusahaan pelayaran. Setidaknya\nterdapat 5 peluang utama yakni kebijakan beyond cabotage, angkutan fame setelah\npemerintah menetapkan B40, wisata bahari, pemindahan Ibu Kota negara, serta\npengiriman material mentah dan BBM. Wakil Ketua I DPP INSA Darmansyah Tanamas\nmenuturkan, sejumlah peluang tersebut perlu untuk ditangkap para pengusaha\npelayaran nasional. Tren pemulihan dipastikan terjadi pada 2021 dan terdapat\nsejumlah peluang yang dapat dimanfaatkan. &#8220;Peluang dari beyond cabotage,\nini peluang karena masih terbuka, beyond cabotage ini yakni pemerintah\nmemberdayakan pelayaran untuk angkutan ekspor, guna mengurangi defisit\ntransaksi jasa. Ini masih terbuka berdasarkan Permendag No.65\/2020 saat ini\ndiwajibkan ekspor menggunakan pelayaran nasional dengan kapasitas angkutan\n10.000 DT,&#8221; katanya, Senin (14\/12\/2020). Dia menjelaskan, angka tersebut\nmasih dapat berkembang bergantung kesiapan perusahaan pelayaran, kemauan\npemilik kargo, dan keseriusan pemerintah dalam program pemberdayaan pelayaran.\nWakil Ketua V DPP INSA Buddy Rakhmadi menambahkan kebijakan beyond cabotage ini\nsudah dari jauh-jauh hari sebelum pandemi dan mengharapkan adanya kesetaraan\nlevel dengan pelayaran internasional agar pengusaha nasional dapat berdaya\ndalam aktivitas pengiriman ocean going. &#8220;Ada hal-hal yang krusial di sisi\npembiayaan, kami harus bisa mendapatkan insentif perbankan nasional apalagi kondisi\nsaat ini bisa dapat investasi lebih menarik dan jangka panjang,&#8221; ujarnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, Wakil Ketua II DPP INSA Darmadi Go menuturkan selain\npeluang angkutan internasional, peluang lainnya datang dari pengangkutan fatty\nacid methyl ester (FAME) yang menjadi bahan campuran dari kelapa sawit untuk\nmembuat biosolar. Pemerintah baru saya menetapkan kewajiban B30 (campuran\nbiodiesel 30 persen FAME dan 70 persen solar) menjadi B40. &#8220;Dari segi\nangkutan pelayaran nasional bagus, berarti sawit yang diproduksi dalam negeri,\notomatis dapat angkutannya, dari pemilik sawit biasa ekspor, sebagian fame\ndimasukkan, porsi impor solar pun berkurang, ini bisa buka peluang angkutan\nmeningkat,&#8221; urainya. Peluang lainnya datang dari pelayaran wisata bahari\nyang menjadi salah satu faktor kunci percepatan pemulihan yang jadi andalan\npemerintah yakni pariwisata. &#8220;Seiring hasil vaksinasi lihat perkembangan\ndaripada kebijakan pemerintah kegiatan wisata dan yang dibatasi saat ini.\nSelain kondisi Covid-19 sebenarnya peluang ini ada tantangan pengembangan\ndaerah wisata harus diikuti kondisi daratannya,&#8221; katanya. Pemerintah pun\npada 2021 akan melanjutkan rencana pemindahan Ibu Kota, sehingga menjadi\npeluang bagi pelayaran dalam angkutan untuk kepentingan pembangunan\ninfrastruktur dan suprastruktur Ibu Kota negara baru. Terakhir, peluang\npengangkutan material mentah dan BBM tetap menjadi hal yang menarik pada 2021.\nApalagi, pemerintah sudah menetapkan sejumlah smelter baru yang mulai dibangun.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20201214\/98\/1330854\/2021-peluang-pemulihan-sektor-pelayaran-kian-tinggi\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Republika.co.id\">Republika.co.id<\/a> | Senin, 14\nDesember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>ESDM: Pemerintah Komitmen Laksanakan BBM Ramah Lingkungan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Kementerian ESDM berkomitmen mewujudkan penggunaan bahan bakar\nminyak (BBM) yang ramah lingkungan. Sejumlah langkah telah dilakukan untuk\nmeningkatkan pemanfaatan BBM ramah lingkungan yang berdampak besar mengurangi\nemisi gas rumah kaca serta mendukung kesehatan masyarakat tersebut. Pelaksana\nTugas Direktur Teknik dan Lingkungan Migas Mustafid Gunawan menjelaskan progres\nkomitmen Pemerintah mewujudkan BBM ramah lingkungan, antara lain melalui kilang\nPertamina di Plaju dan Cilacap yang sedang dalam tahap penelitian untuk\nmemproduksi green gasoline yaitu bensin yang dihasilkan dari campuran crude oil\ndan minyak kelapa sawit (85:15) sebagai bahan bakunya. Pertamina juga sedang\nmelakukan uji coba membuat Green Diesel dari 100 persen tanpa fosil fuel. BBM\nini menggunakan bahan baku kelapa sawit dengan spesifikasi setara solar yang\nbersumber dari fosil, bahkan dengan kualitas yang lebih baik yakni cetane\nnumber yang lebih tinggi dan sulfur yang jauh lebih rendah. Inovasi ini\nmenggunakan katalis merah putih, yaitu katalis inovasi para ahli katalis\nIndonesia yang diproduksi sendiri di Indonesia. Kilang Plaju ditargetkan\nberoperasi pada tahun 2025 dan Dumai pada tahun 2026. &#8220;Selanjutnya,\nprogram mandatori pencampuran 30 persen biodiesel (FAME) ke BBM solar yang\ntelah dimulai sejak Januari 2020. Program ini merupakan kelanjutan dari Program\nB20 yang telah diterapkan sebelumnya dalam rangka menghemat devisa negara,\nmemberdayakan para petani kelapa sawit dalam negeri dan mengurangi penggunaan\nBBM jenis solar yang berasal dari fosil,&#8221; papar Mustafid, Senin (14\/12).\nProgres lainnya adalah potensi penggunaan B40 pada tahun 2021 sesuai arahan\ndari Presiden Joko Widodo. &#8220;Saat ini masih dalam tahap penelitian dan kajian\nbaik dari aspek teknis, lingkungan dan keekonomian,&#8221; tambahnya. Terakhir,\nprogram pencampuran bioethanol sebesar 2 persen ke BBM jenis bensin dalam\nrangka peningkatan penggunaan Energi Baru Terbarukan (EBT). Namun saat ini\nmasih ada beberapa kendala tertutama dari aspek keekonomian. Dalam rangka\nmendukung implementasi BBM ramah lingkungan, untuk solar CN 51, Kementerian\nESDM telah menerbitkan SK Dirjen Migas No. 0234.K Tahun 2019 di mana untuk\nkandungan sulfur CN 51 telah sesuai dengan ketentuan Permen LHK No. 20 Tahun\n2017 yakni kandungan sulfur maksimal 50 ppm pada April 2021. Sedangkan untuk CN\n48, rencananya akan diterbitkan SK Dirjen untuk menurunkan batasan kandungan\nmaksimal sulfur dari 2500 menjadi 2000 ppm pada tahun 2021 dan dari 2000\nmenjadi 500 ppm pada 2024 dan 500 ppm menjadi 50 ppm pada 2026. Dalam\nkesempatan tersebut Mustafid mengingatkan, kebijakan mengenai BBM bukan hanya\nurusan Kementerian ESDM semata, melainkan keputusan bersama. Hingga saat ini,\nRON dengan nilai oktan rendah memang masih beredar di masyarakat, ini tentunya\ndengan berbagai pertimbangan.&#8221;Kami sangat mengapresiasi dan mengajak\nmasyarakat yang berkemampuan untuk beralih menggunakan BBM yang lebih ramah\nlingkungan di kendaraannya,&#8221; ujar Mustafid.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Senin, 14 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Dua Kilang Hijau Pertamina Bakal Serap CPO dalam Jumlah Banyak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) tengah membangun dua kilang hijau atau\ngreen refinery seiring dengan tuntutan energi yang rebih ramah lingkungan.\nDirektur Utama PT Kilang Pertamina Internasional, Refinery and Petrochemical\nSub Holding Pertamina Ignatius Tallulembang mengatakan bahwa rencana tersebut\nsejalan dengan alur pemerintah dalam mengembangkan bioenergi di Indonesia.\n&#8220;Saat ini Pertamina tengah mengembangkan kilang hijau di Plaju dan di\nKilang Cilacap,&#8221; katanya dalam acara Energy Corner, CNBC TV Indonesia,\nSenin (14\/12\/2020). Dia menjelaskan bahwa kilang Plaju nantinya memiliki\nkapasitas produksi biofuel sebesar 20.000 barel per hari atau setara dengan 1\njuta ton CPO per tahun. Sementara itu, kilang Cilacap Fase 1 akan memproduksi\nsebesar 3.000 barel per hari dan akan meningkat menjadi 6.000 barel per hari\natau 300.000 ton CPO per tahun per hari pada fase 2. Di samping itu, Ignatius\nmenambahkan bahwa Pertamina telah berhasil menguji coba produksi green diesel\natau D100 dengan kapasitas 1.000 barel per hari di kilang Dumai. Proses uji\ncoba tersebut dilakukan pada Juli 2020. &#8220;Produksi D100 ini menggunakan 100\npersen minyak sawit.&#8221; Sebelumnya, Vice President Corporate Communication\nPertamina Fajriyah Usman mengatakan bahwa produk D100 dan green gasoline\/green\navtur diolah dari bahan dasar kelapa sawit. Produk ini pun direaksikan\nmenggunakan katalis Merah Putih yang diproduksi Research &amp; Technology\nCenter (RTC) Pertamina bekerja sama dengan Institut Teknologi Bandung (ITB).\n\u201cSetelah uji coba produk Green Diesel D100 di kilang Dumai berikut green fuel\natau green avtur di Kilang Cilacap, Pertamina juga bersinergi dengan BUMN lain\ndan juga juga Perguruan Tinggi akan membangun pabrik katalis yang akan\nmendorong TKDN di industri migas dan kimia sehingga akan mengurangi defisit\ntransaksi negara dan mendorong pertumbuhan ekonomi nasional,&#8221; katanya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/ekonomi.bisnis.com\/read\/20201214\/44\/1330602\/dua-kilang-hijau-pertamina-bakal-serap-cpo-dalam-jumlah-banyak\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Selasa, 15 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Cargill Hasilkan Minyak Sawit Berkelanjutan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai salah satu pemain bisnis minyak nabati, komitmen Cargill\nakan keberlanjutan sudah sejak lama dilakukan. Melalui keberadaan bisnisnya,\nyang beroperasi di banyak negara, Cargill memiliki operasi bisnis yang selalu\nmengutamakan keberlanjutan sebagai komitmen utama bisnisnya. \u201cDi Cargill,\nkeberlanjutan tertanam dalam cara kami beroperasi karena hal ini penting untuk\nmasa depan bisnis kami. Seperti yang Anda ketahui, kami bergerak dalam bisnis\npenyediaan makanan, produk-produk pertanian, keuangan dan produk-produk serta\nlayanan bagi industri, dan hal ini artinya kami harus memiliki rantai pasokan\nyang berkelanjutan. Perubahan iklim, penggunaan lahan, air, kesehatan tanah dan\nkemakmuran petani secara khusus dapat berdampak signifikan pada rantai pasokan\nkami &#8211; apakah itu volatilitas harga karena cuaca atau minat petani untuk terus\nbertani,\u201d ujar Direktur Sustainability, Cargill Agricultural Supply Chain, Asia\nPasifik, Alexandra Experton, kepada InfoSAWIT via Email, belum lama ini. Grup\nCargill juga memiliki komitmen akan keberlanjutan petani kelapa sawit. Sebagai\npemain bisnis perkebunan kelapa sawit, Grup Cargill juga memiliki perkebunan\nkelapa sawit yang beroperasi di Indonesia. Sebab itu, Grup Cargill juga konsen\nakan meningkatkan kesejahteraan petani merupakan salah satu prioritas Cargill.\n\u201cKami memiliki tanggung jawab untuk meningkatkan kesadaran mereka tentang\nberbagai tantangan dan bagaimana mereka dapat mengatasi tantangan ini. Hal ini\njuga berarti berkolaborasi dengan industri dan pemangku kepentingan lainnya\nuntuk mengidentifikasi solusi yang tepat dan bermanfaat bagi petani plasma\nuntuk mencegah deforestasi sekaligus memastikan mereka terus menjadi pelaku\nbisnis yang sukses,\u201d tandasnya, lebih lanjut, \u201dPerhatian terbesar saya adalah,\nbagaimana kita dapat mencapai keseimbangan yang baik antara konservasi dan\nmendukung mata pencaharian petani plasma karena hal ini membutuhkan kerja\nsama\u201d. <\/p>\n\n\n\n<p>Komitmen utama Cargill akan berkelanjutan di dunia, juga dilakukan\ndi Indonesia. Dalam pengembangan perkebunan kelapa sawit, Grup Cargill terus\nmemperkokoh komitmen Perusahaan&nbsp; terhadap keberlanjutan. Sejak 6 tahun\nlalu, dengan menerbitkan kebijakan dan rencana aksi \u201cNo Deforestation, No Peat\nand No Exploitation\u201d (NDPE), untuk membangun rantai pasokan minyak sawit yang\nberkelanjutan dan dapat ditelusuri. Ini adalah hasil dari ekspektasi pemangku\nkepentingan yang berkembang tentang apa arti \u2018keberlanjutan\u2019 dalam praktiknya,\nterutama yang terkait dengan penggunaan lahan dan hak asasi manusia. Kolaborasi\nadalah kunci untuk mencapai hal ini, dan&nbsp; merupakan hal penting dalam\nkemajuan yang dibuat hingga saat ini. Selain itu, kami juga menyadari\npentingnya investasi berkelanjutan untuk memastikan kami memiliki sistem dan\nproses yang kokoh yang memberikan konsistensi dan transparansi dalam cara kami\nbekerja untuk mencapai tujuan tersebut. Cargill berupaya mengeliminasi\ndeforestasi di seluruh konsesi kelapa sawit komersial dalam rantai pasokan\npihak ketiga perusahaan pada akhir tahun 2020. Kami melakukan berbagai\ninisiatif untuk mencapai hal ini, termasuk mengumpulkan data ketertelusuran,\nmembangun kapasitas pemasok, memantau, dan memanfaatkan proses pengaduan kami\njika deforestasi&nbsp; teridentifikasi. \u201cKami telah mencapai 100%\nketertelusuran ke pabrik dan 50% ketertelusuran ke perkebunan. Kami percaya\nbahwa transparansi dan kemampu telusuran sangat penting untuk rantai pasokan\nkami, tidak hanya untuk mengidentifikasi tantangan yang memerlukan solusi, tetapi\njuga untuk benar-benar memverifikasi kepatuhan pemasok dan mitra kami,\u201d jelas\nAlex.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10463\/cargill-hasilkan-minyak-sawit-berkelanjutan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Senin, 14 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Produksi Bakal Kurang, Harga CPO Melesat Lagi ke RM 3.436\/ton<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Harga komoditas minyak sawit mentah (CPO) Malaysia tetap kokoh di\nlevel RM 3.400 per ton. Mengawali perdagangan pekan ini harga CPO mengalami\napresiasi. Senin (14\/12\/2020) harga kontrak futures CPO untuk pengiriman\nFebruari 2021 di Bursa Malaysia Derivatif Exchange naik 0,76% dari posisi\npenutupan pekan lalu. Pada 10.40 WIB, harga CPO tembus level RM 3.436\/ton.\nSecara umum, tren harga CPO memang mengarah pada penguatan, yang dipicu oleh\nekspektasi kenaikan permintaan ekspor di tengah ancaman penurunan panen akibat\nfenomena perubahan iklim La Nina yang melanda di kawasan tropis pasifik. Minggu\nlalu,&nbsp; Dewan Minyak Sawit Malaysia (MPOB) mengatakan produksi pada\nNovember turun 13,51% dari Oktober menjadi 1,49 juta ton. Volume produksi\ntersebut merupakan yang terendah sejak Maret. Pasar memperkirakan produksi pada\nDesember akan tetap tertekan karena cuaca hujan yang disebabkan oleh La Nina.\nFenomena iklim La Nina diperkirakan akan berlanjut hingga kuartal pertama tahun\ndepan. La Nina memicu curah hujan tinggi hingga 40% di atas curah hujan normal.\nBerkaca pada kejadian sebelumnya, La Nina selalu dibarengi dengan bencana\nhidrometeorologis seperti banjir dan tanah longsor yang membuat aktivitas panen\nmenjadi terganggu dan menekan stok. Stok minyak sawit di Malaysia dilaporkan\ntertekan, meski ekspor mengalami pelemahan. Penurunan stok tersebut dipicu oleh\nturunnya produksi di tengah merebaknya pandemi Covid-19 yang mengganggu proses\nproduksi dan cuaca yang tak mendukung. Stok minyak sawit Malaysia per November\nmenyentuh level terendah dalam lebih dari 3 tahun ke 1,56 juta ton. Data\nsurveyor kargo menunjukkan bahwa ekspor minyak nabati mereka pada 1-10 Desember\ndrop 6% sampai 11% dengan ekspor ke China turun setengahnya dari bulan lalu.\nSemakin maraknya program vaksinasi membuat prospek ekonomi menjadi cerah.\nHarga-harga komoditas tak terkecuali minyak pun terdongkrak. Untuk pertama\nkalinya dalam sembilan bulan terakhir harga kontrak Brent menyentuh level US$\n50 per barel. Harga minyak yang naik positif untuk harga CPO. Pasalnya CPO\nmerupakan salah satu bahan baku pembuatan biodisel sebagai bahan bakar\nalternatif minyak. Anjloknya harga minyak membuat penggunaan biodisel dari\nminyak nabati terutama sawit menjadi kurang ekonomis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/market\/20201214103843-17-208847\/produksi-bakal-kurang-harga-cpo-melesat-lagi-ke-rm-3436-ton\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Senin, 14 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Impor Minyak Sawit India Diprediksi Melorot Menjadi 7,5 juta Ton\ndi 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Selama pandemi Covid-19 melanda, India telah menerapkan kebijakan\nlockdown semenjak 25 Maret 2020 lalu, pada kondisi ini dikatakan Senior editor\ndan Pengamat Kebijakan The Hindu Business Line, G. Chandrashekhar, banyak\nmasyarakat India yang kehilangan pekerjaan dan pendapatan, migrasi terjadi\ndiatas 100 juta orang, pada masa ini rantai pasokan terganggu: pemrosesan,\ntransportasi, tenaga kerja; serta terjadi panic buying oleh konsumen retail.\nHarga eceran dari hampir semua produk makanan yang didapat dari impor meningkat\n10-20% (minyak nabati, kacang-kacangan, rempah-rempah, buah-buahan kering), ini\nterjadi karena gangguan pasokan pada bulan April. Permintaan terus menurun\nsemenjak Maret dan memburuk pada April dan Mei. Untuk bisnis Horeka (Hotel,\nRetail dan Kafe) paling terkena dampaknya \u201cMemang, India menghadapi tantangan\nsisi pasokan dan permintaan. Dan pasokan mulai membaik setelah ada kebijakan\npelonggaran lockdown,\u201d katanya dalam webinar yang diadakan Majalah Oil and Fats\nInternational, belum lama ini. Kata Chandrashekhar, diperkirakan impor minyak\nnabati India akan menurun menjadi 13,5 juta ton (2019\/2020), lebih rendah\ndibandingkan impor pada periode 2018\/2019 yang mampu mencapai 15 juta ton.\nLantas untuk impor minyak sawit juga akan tercatat menurun menjadi 7,5 juta ton\n(2019\/2020), lebih rendah dibandingkan impor minyak sawit pada periode\n2018\/2019 yang mencapai 9,2 juta ton. Kondisi penurunan ini juga terjadi pada\nimpor kedelai yang hanya mencapai 3,3 juta ton, minyak bunga matahari sekitar\n2,6 juta ton dan minyak nabati lainnya hanya mencapai 0,1 juta ton. \u201cPerlu\nmenjadi catatan bahwa, pemerintah India ingin mengurangi ketergantungan pada\nimpor, sebab itu berupaya meningkatkan budidaya perkebunan dan menjaga harga\nminyak nabati di dalam negeri,\u201d kata dia. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10464\/impor-minyak-sawit-india-diprediksi-melorot-menjadi-7-5-juta-ton-di-2020\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>CNBCIndonesia.com | Senin, 14 Desember 2020 Program Biodiesel B40 di 2021, Pemerintah Udah Siap? Pemerintah merencanakan pengembangan program biodiesel menjadi B40 pada tahun depan dari saat ini masih B30. Namun dengan kondisi pandemi saat ini, apakah pemerintah sudah siap untuk menjalankan program B40 tersebut pada tahun depan? Bagaimana kesiapannya hingga saat ini? Direktur Bioenergi Direktorat [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4494","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4494","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4494"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4494\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4856,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4494\/revisions\/4856"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4494"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4494"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4494"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}