{"id":4501,"date":"2020-12-22T03:19:10","date_gmt":"2020-12-22T03:19:10","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4501"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"bimbang-di-persimpangan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/bimbang-di-persimpangan\/","title":{"rendered":"BIMBANG DI PERSIMPANGAN"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Bisnis Indonesia | Senin, 21 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>BIMBANG DI PERSIMPANGAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Belum adanya peta jalan atau road map yang jelas tentang program\ncampuran 40% biodiesel dalam minyak solar (B40) membuat pelaku industri terkait\nmenjadi bimbang, kendati pemerintah terus mendorong implementasinya. Pelaku industri\nalat berat dan otomotif, misalnya, sampai kini masih menantikan kepastian\npemerintah untuk program B40 tersebut, agar dapat menyesuaikannya.\n&#8220;Penetapan peraturan atau roadmap B40-B50 itu terlebih dahulu harus\nditetapkan agar ada kepastian bagi industri untuk mempersiapkannya, termasuk spesifikasinya\nkapan mulainya,&#8221; kata Sekretaris Gabungan Kepala Kompartemen Teknik\nlingkungan dan Gabungan Industri Industri Kendaraan Bermotor Indonesia Abdul\nRochim dalam webinar, belum lama ini. Menurut dia, tahapan studi dan evaluasi\nB40 sebaiknya mengikuti program pengembangan biodiesel sebelumya dan dikonfirmasi\nmelalui tes jalan [road test). Untuk implementasi, sebaiknya diberikan waktu\nyang cukup bagi industri. &#8220;Industri melakukan penyesuaian karena ada komponen\nyang berdampak langsung dengan bahan bakar, at least berdasarkan roadmap\nsebelumnya minimal 3 tahun setelah ditetapkan regulasi itu baru kami bisa implementasi.&#8221;\nSenada, Komisi Teknis Himpunan Industri Alat Berat Indonesia Fahmi meminta\npemerintah memberikan kejelasan campuran yang digunakan dalam B40. Dia\nmengusulkan campuran yang digunakan memiliki tingkat kestabilan yang tinggi\natau setara dengan B30. Direktur Bioenergi Kementerian ESDM Andriah Feby Misna\nmenjelaskan berbagai kajian sudah dilakukan, termasuk soal campuran yang\ndibutuhkan untuk B40. Kementerian ESDM bersama Badan Pengkajian dan Penerapan\nTeknologi tengah menguji campuran FAME [fatty acid methyl ester) dan D100 untuk\ndigunakan pada B40. &#8220;Kajiannya masih sedikit delay, mudah-mudahan di akhir\ntahun ini atau di awal Januari, kita bisa dapat kajian teknis dan juga\nteknoekonomi untuk penerapan B40,&#8221; katanya. Andriah menjelaskan kajian\nteknis tersebut akan digunakan sebagai salah satu masukan untuk perubahan\nregulasi penerapan program B40. &#8220;Memang target kami bagaimana membuat\nbahan bakar itu benar-benar comply dengan engine, dan dekat dengan\nkarakteristik solar,&#8221; jelasnya. Namun, dia tidak menampik bahwa sejumlah persiapan\ndan kajian tersebut harus terhambat karena pandemi Covid-19. Pandemi juga menyebabkan\nharga minyak dunia melemah, sementara harga crude Palm Oil (CPO) tetap tinggi.\nKondisi itu berdampak pada selisih harga biodiesel yang perlu ditanggung oleh\ninsentif makin besar, sehingga implementasi B40 makin tidak memungkinkan.\nKondisi terberat yang dihadapi pada tahun ini, kata dia, program biodiesel\nsangat didukung oleh insentif yang bersumber dari pungutan ekspor dari produk\nCPO dan turunannya. Begitu juga dengan peluang pembangunan pabrik baru FAME\nmenjadi dilematis karena belum ada kepastian bahan campuran untuk program\nbiodiesel 40%. &#8220;Ini menjadi dilema karena memang kalau kita misalnya MO,\nB50 kalau kita berbasis FAME, masih butuh tambahan kapasitas tapi kalau akan\nmenggunakan green diesel kemungkinkan akan berlebih,&#8221; katanya. Selain itu,\nseperti yang dikatakan <strong>Ketua Harian Asosiasi Produsen biofuel Indonesia Paulus\nTjakrawan<\/strong>, mayoritas pabrik FAME berlokasi di Sumatra, sehingga ongkos angkut\nuntuk pasokan di wilayah Indonesia timur membengkak. Untuk diketahui, PT Pertamina\n(Persero) telah melaksanakan mandatori B30 dan akan meneruskan program\nbiodiesel tersebut ke B40 yang kajiannya ditargetkan selesai pada kuartal\n1\/2021.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BEA KELUAR CPO<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Di sisi lain, Gabungan Industri Mi- nyak Nabati Indonesia (GIMNI) berharap\nagar pemerintah tidak menaikkan bea keluar CPO karena dinilai tidak berdampak langsung\npada industri Kelapa Sawit nasional. Selain itu, kata Ketua Umum GIMNI Sahat\nSinaga, bea keluar juga tidak memiliki implikasi langsung dalam mendukung program\nbiodiesel nasional. &#8220;Bea keluar ini langsung ke negara. Balik dari negara\nke aktivitas [industri kelapa sawit] ini belum terlihat, itu alasannya,&#8221;\nkatanya kepada Bisnis, Minggu (20\/12). Menurut dia, kenaikan dana pungutan\nekspor menjadi langkah yang tepat untuk menutupi selisih antara harga biodiesel\ndan solar. Selain itu, petani Kelapa Sawit juga diuntungkan secara langsung\ndengan bertambahnya dana penanaman kembali, pelatihan, dan program lain yang\ndiadakan Badan Pengelola Dana Pungutan Kelapa Sawit.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>MANDATORI BIODIESEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah terus mendorong penghiliran industri minyak Kelapa\nSawit mentah (crude palm oil\/CPO) ke arah industri bahan bakar nabati, sejalan\ndengan pelaksanaan program mandatori campuran 30% biodiesel (FAME\/-fatty acid\nmethyl ester) dalam minyak solar (B30).<\/p>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Bisnis.com | Senin, 21 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Jadi Ketua Umum APDM, Ridwan Kamil Bakal Garap Biofuel<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ketua Umum Asosiasi Daerah Penghasil Migas (APDM) Ridwan Kamil\nakan mendorong konsentrasi daerah terhadap sumber energi baru terbarukan di\nmasa kepemimpinannya. Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengatakan APDM harus\nmengantisipasi sumber energi terbarukan biofuel atau bahan bakar nabati (BBN).\nBiofuel merupakan energi yang terbuat dari materi hidup, biasanya tanaman,\nkotoran hewat, atau sampah domestik, dan termasuk ramah lingkungan karena\nrendah karbon serta mengurangi peran dari bahan bakar fosil. \u201cSaya kira intinya\nkita harus mengantisipasi teori baru dalam energi terbarukan, yang muncul ke\npermukaan misalnya ada biofuel, dengan tanpa meninggalkan apa yang ada di depan\nmata yang dalam hitungan masih ada dalam 30-50 tahun ke depan,\u201d katanya, Senin\n(21\/12\/2020). Sebelumnya, Ridwan Kamil terpilih lewat Musyawarah Nasional\n(Munas) IV ADPM \u201cBangkit Migas Indonesia\u201d di The Anvaya Beach Resort, Kuta,\nKabupaten Badung, Bali, Senin (21\/12\/2020). Di masa kepemimpinannya sebagai\nKetum ADPM, Kang Emil &#8211;sapaan Ridwan Kamil&#8211; berujar akan maksimalkan peran\nBadan Usaha Milik Daerah (BUMD) dari masing-masing provinsi penghasil migas\nuntuk terlibat aktif dalam berbagi peran menyejahterakan masyarakat.\nMenurutnya, hal tersebut akan menjadi kekuatan utama pemerataan peningkatan\nekonomi di masa mendatang. \u201cDi pengurusan baru, penguatan kepada manajemen\ndaerah akan dimaksimalkan. Kita harus pahami tujuan kita sama dengan pusat\nyaitu menyejahterakan masyarakat,\u201d ujar Kang Emil. Selain itu, Kang Emil akan\nmencoba menekankan sisi keadilan organisasi dengan mengikutsertakan seluruh\nwilayah di Indonesia untuk berbagi peran dalam mengembangkan potensi energi\nmigas. Hal itu, lanjutnya, sesuai sila kelima Pancasila yaitu &#8220;Keadilan\nSosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia&#8221;. Berikutnya, pelaksanaan Munas akan\ndilakukan di wilayah Jabar dengan agenda membentuk kepengurusan ADPM Periode 2020-2025.\nNantinya, turut dibahas beberapa potensi wilayah penghasil migas yang ada di\nJabar. &#8220;Intinya membentuk kepengurusan dari organisasi ADPM yang lebih\nbaik lagi. Kita perbanyak kata kolaborasi, kurangi rasa kompetisi. Sesuai\namanat, satu bulan dari sekarang kita akan umumkan kepengurusan,\u201d ujar Kang\nEmil. <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/bandung.bisnis.com\/read\/20201221\/550\/1333886\/jadi-ketua-umum-apdm-ridwan-kamil-bakal-garap-biofuel\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Pikiran-Rakyat.com | Senin, 21 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Hibahkan 4 Bus, Bertenaga Listrik dan Biodiesel ke UGM, Airlangga\nHartarto: Saya Bangga Jadi Alumni<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Menteri Koordinator Bidang Perekonomian (Menko) Airlangga Hartarto\nmemberikan sambutan dalam acara Dies Natalis ke-71 Universitas Gajah Mada (UGM )secara\nvirtual, pada Sabtu 19 Desember 2020. Selain sambutan atas Dies Natalis UGM\nyang ke-71, Airlangga memberikan bantuan hibah berupa 4 buah bus, yakni diantaranya\n2 bus elektrik (listrik) dan 2 bus bio diesel untuk digunakan di lingkungan\nkampus UGM.&nbsp; Airlangga&nbsp; mengungkapkan alasan dibalik hibah dengan dua\nteknologi tersebut. Dia menyatakan bahwa keempat bus itu adalah simbol dair teknologi\nyang sedang berkembang ke depan. &nbsp;&#8220;Ini sebuah simbol dari teknologi\nyang sedang berkembang ke depan,&#8221; ujarnya. Airlangga mengatakan bahwa bus elektrik\nini membutuhkan waktu untuk sampai di UGM, karena sedang disiapkan teknologinya\ndi skywell. Selanjutnya untuk seluruh proses manufaktur akan dilakukan di\nMagelang, Jawa Tengah. Sementara untuk bus biodiesel, sudah langsung dapat digunakan.\nAirlangga pun menjelaskan alasan pemilihan unit bio diesel. &#8220;Kenapa biodiesel?\nKarena ini dikaitkan dengan program pemerintah B30, dimana tentu biodiesel ini\nmenjadi bagian dari sistem kita kedepan, karena ini mempekerjakan lebih dari 17\njuta tenaga kerja yang bekerja di sektor kelapa sawit, dan devisa sebesar 20\nmilyar (Dolar Amerika-red),&#8221; jelasnya. Dalam sambutannya itu, Airlangga\nmenjelaskan mengenai teknologi trick, yang sekarang sedang ada pertempuran\nantara baterai liquid dan solid. Sebagaimana baterai solid itu berbasis pada\nnikel mangan copald yang Indonesia sudah punya dari hulu sampai ke hilir. Dalam\nhal ini Indonesia pun juga akan menguasai seluruh value chip dari hal itu. \u201cDi\nsatu sisi, kita juga dapat tantangan dari pure selfs liquid baterai di mana\nsebetulnya Indonesia juga punya resources dalam bentuk hydrogen dengan adanya\nhydro power baik itu masa depan maupun sekarang,\u201d kata Airlangga. Ia pun\nmenegaskan, hal itu intinya adalah representasi dari teknologi yang akan dikembangkan\nke depan, yang selanjutnya adalah mengulangi persaingan teknologi antara 100\ntahun yang lalu antara Elllyson general elektrik isi power, Resmiko ac power,\nkemudian Nicolla Tesla yang menyiapan sistem elektrik ac saat sekarang.\nAirlangga mengharapkan agar civitas akademika Universitas Gajah Mada (UGM)\nsemakin proaktif dalam pengembangan dua teknologi tersebut, sehingga nantinya\nIndonesia dapat memproduksi sendiri.&nbsp; \u201cSaya berharap semoga UGM bisa\nleading di sektor tersebut dan saya pun mengucapkan sekali lagi selamat atas\nDies Natalis UGM dan saya bangga menjadi alumni Universitas Gajah Mada,\u201d ujar\nAirlangga menutup sambutannya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.pikiran-rakyat.com\/nasional\/pr-011143968\/hibahkan-4-bus-bertenaga-listrik-dan-biodiesel-ke-ugm-airlangga-hartarto-saya-bangga-jadi-alumni\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Bisnis Indonesia | Senin, 21 Desember 2020 BIMBANG DI PERSIMPANGAN Belum adanya peta jalan atau road map yang jelas tentang program campuran 40% biodiesel dalam minyak solar (B40) membuat pelaku industri terkait menjadi bimbang, kendati pemerintah terus mendorong implementasinya. Pelaku industri alat berat dan otomotif, misalnya, sampai kini masih menantikan kepastian pemerintah untuk program B40 [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4501","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4501","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4501"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4501\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4853,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4501\/revisions\/4853"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4501"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4501"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4501"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}