{"id":4504,"date":"2020-12-29T04:07:23","date_gmt":"2020-12-29T04:07:23","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4504"},"modified":"2021-05-27T03:58:05","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:05","slug":"sebanyak-20-badan-usaha-bbn-akan-salurkan-biodiesel-92-juta-kl-di-2021","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/sebanyak-20-badan-usaha-bbn-akan-salurkan-biodiesel-92-juta-kl-di-2021\/","title":{"rendered":"Sebanyak 20 Badan Usaha BBN Akan Salurkan Biodiesel 9,2 Juta KL di 2021"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Industry.co.id\">Industry.co.id<\/a> | Selasa, 29\nDesember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Sebanyak 20 Badan Usaha BBN Akan Salurkan Biodiesel 9,2 Juta KL\ndi 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Tarbarukan dan\nKonservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM telah menetapkan volume alokasi\nBahan Bakar Nabati Jenis (BBN) jenis biodiesel di tahun 2021 sebesar 9,2 juta\nkilo liter (KL).&nbsp; Besaran tersebut akan digunakan untuk pencampuran\nbiodiesel sebesar 30 persen ke dalam Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis solar\n(B30). Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE)\nDadan Kusdiana menjelaskan adanya penurunan dalam penetapan alokasi di tahun\ndepan dibandingkan tahun 2020.&nbsp; &#8220;Penurunan tersebut disebabkan karena\ndampak pandemi Covid 19 yang diperkirakan pada tahun 2021 masih\nberlanjut,&#8221; kata Dadan di Jakarta beberapa waktu lalu. Pertimbangan\ntersebut berkaca dari realisasi penyaluran biodiesel di tahun 2020. Hingga\nakhir Desember 2020, sambung Dadan, proyeksi realisasi sebesar 8,5 juta KL atau\n88 persen dari target yang ditetapkan sebesar 9,6 juta KL. &#8220;Penyebab terjadi\npenurunan sebesar 12% salah satunya adalah adanya pandemi Covid-19 dan\nterjadinya gagal suplai beberapa Badan Usaha BBN dalam penyaluran\nbiodiesel,&#8221; jelasnya.<\/p>\n\n\n\n<p>Terkait penyaluran di tahun 2021, Pemerintah telah menunjuk 20\nBadan Usaha (BU) BBM dan BU BBN sebagai pemasok biodiesel. Keputusan ini\ntertuang dalam Keputusan Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Nomor\n252.K\/10\/MEM\/2020 yang ditetapkan pada tanggal 18 Desember 2020. Adapun untuk\nBU pemasok biodiesel, PT Wilmar Nabati Indonesia mendapatkan alokasi sebesar\n1,37 juta KL diikuti oleh PT Wilmar Bioenergi Indonesia sebesar 1,32 juta KL.\nKemudian ada PT Musim Mas dan PT Cemerlang Energi Perkasa yang akan\nmendistribusikan biodiesel masing-masing sebesar 882 ribu KL dan 483 ribu KL.\nSebagai informasi, saat ini telah terdaftar 41 BU BBN yang telah memiliki Izin\nUsaha Niaga BBN dengan total kapasitas 14,75 Juta KL, yang terdiri dari 27 BU\nBBN yang aktif dan 14 BU BBN yang tidak aktif.&nbsp; Disamping itu, terdapat 1\nBU BBN yang melakukan perluasan pabrik biodiesel dengan kapasitas 478 ribu KL\ndan 3 BU BBN yang sedang melakukan pembangunan pabrik biodisel baru dengan\nkapasitas total 1,57 Juta KL dan akan mengajukan IUN BBN pada tahun 2021.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.industry.co.id\/read\/78775\/sebanyak-20-badan-usaha-bbn-akan-salurkan-biodiesel-92-juta-kl-di-2021\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Neraca.co.id\">Neraca.co.id<\/a> | Senin, 28\nDesember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Ini Dia Strategi Pertamina Penuhi Energi Berkelanjutan<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>PT Pertamina (Persero) terus meningkatkan perannya dalam\nmenggerakkan perekonomian nasional dengan mengembangkan strategi untuk memenuhi\nenergi nasional secara berkelanjutan dalam rangka mengurangi impor minyak dan\ngas.&nbsp; Direktur Utama Pertamina, Nicke Widyawati menjelaskan grand strategy\nenergi nasional dikembangkan dari rencana pemerintah untuk mewujudkan ketahanan\nenergi nasional yang telah ditetapkan dari Peraturan Pemerintah No 79 Tahun\n2014 mengenai kebijakan energi nasional. Saat ini, posisi Indonesia masih berada\ndi score 6.57 atau status Tahan.&nbsp; \u201cIni menjadi tantangan bagaimana kita\ntingkatkan lagi posisinya menjadi Sangat Tahan. Inilah yang mendasari\npemerintah untuk menyusun grand strategy energy nasional,\u201d ungkap Nicke.&nbsp;\nLebih lanjut Nicke menguraikan, dengan visi untuk mewujudkan ketahanan energi\nnasional, maka tantangannya adalah meningkatkan produksi migas, menurunkan\nimpor baik minyak maupun LPG, serta membangun infrastruktur baik untuk migas\nmaupun electricity. Dari ketiga hal tersebut, Pemerintah menyusun 11 program\nyang sebagian besar bertujuan menurunkan impor dan memaksimalkan dengan\nmengolah sumber daya alam yang banyak dimiliki oleh Indonesia.&nbsp; Sebagai\nBUMN di sektor Energi, Pertamina mendapat tanggung jawab menjalankan program\ntersebut dengan berupaya meningkatkan produksi crude 1 juta bopd dan akuisisi\nlapangan minyak luar negeri untuk kebutuhan kilang. Amanah ini harus\ndijalankan, saat ini kontribusi Pertamina sebesar 40%, tahun depan akan\nmencapai 60%, sehingga ini akan sangat dominan.&nbsp; \u201cDengan peran sebagai\nBUMN untuk mendorong driver pertumbuhan energi nasional, maka investasi\nPertamina ke depan tentu akan disesuaikan dengan grand strategy energi\npemerintah ke depan. Kalau kita bicara tentang hulu energi, 60% investasi akan\ndilakukan di hulu energi,\u201d imbuh Nicke. <\/p>\n\n\n\n<p>Nicke menambahkan, Pertamina juga meningkatkan kapasitas kilang,\ndalam rangka optimalisasi produk BBM dan memperbaiki kualitas BBM dan Naptha.\nUntuk mengantisipasi penurunan demand terhadap BBM, Pertamina mengintegrasikan\nkilang petrochemical, mengingat saat ini Petrochemical masih impor 70%.&nbsp;\nLalu, dalam rangka menjawab era transisi energi, Pertamina akan mempercepat\npemanfaatan pembangkit EBT (dominasi PLTS) dan meningkatkan produksi BBN\n(biodiesel atau biohidrokarbon). Menurutnya, transformasi energi ke depan ke\narah new and renewable energi. Sesuai arahan Pemerintah, Biodiesel merupakan\nsalah satu yang akan terus dikembangkan ke depan sehingga kita bisa\nmengoptimalkan sawit yang berlimpah di Indonesia.&nbsp; \u201cSelain harus melakukan\neksplorasi dari sisi migas, kita juga akan meningkatkan kontribusi dari\nbioenergy. Setelah Biodiesel (B30) dan tahun depan akan masuk ke B40, Pertamina\njuga akan masuk ke Biogasoline yang kebutuhannya cukup tinggi,\u201d tegas\nNicke.&nbsp; Dari sisi gas, lanjut Nicke, Pertamina juga akan mengembangkan\ngasifikasi dari energi batu bara yang melimpah menjadi DME sehingga dapat\nmengonversi LPG. Selain itu, Pertamina terus membangun dan menambah jaringan\ngas rumah tangga hingga mencapai 3 juta pelanggan. Sehingga masyarakat punya\npilihan LPG, DME, Jargas, atau kompor listrik. Ini yang nantinya akan membuat\nperekonomian lebih berputar.&nbsp; Secara garis besar Pertamina akan masuk ke\npengembangan bisnis dan produk-produk baru untuk mengisi gap tadi sehingga bisa\nmenurunkan impor migas yang selama ini terjadi. Selain itu, Pertamina juga\nmenjalankan program mandatory terkait BBM subsidi seperti BBM 1 untuk harga di\n243 titik wilayah 3 T (Tertinggal, Terdepan dan Terluar) dan untuk pemerataan\nakses produk non subsidi, Pertamina telah menyiapkan Pertashop di di 2.192\ntitik. Program mini outlet ini melibatkan UMKM bekerja sama dengan Kementerian\nDalam Negeri, Kementerian Koperasi dan UMKM dan Kementerian Desa, Pembangunan\nDaerah Tertinggal, dan Transmigrasi.&nbsp; \u201cKita harapkan menjadi driver perekonomian\ndaerah. Satu komitmen kami, meskipun dalam kondisi pandemi, semua aktivitas\nusaha, semua asset Pertamina tetap dioperasikan. Karena yang masuk dalam\nekosistem Pertamina ini ada 1,2 juta tenaga kerja Jadi sangat besar. Oleh\nkarena itu motor penggerak ini tidak boleh terhenti. Jadi ada misi perusahaan\nuntuk menjaga motor tetap bergerak agar tetap menyerap tenaga kerja dan tetap\nmendorong industri nasional untuk bergerak,\u201d harap Nicke.&nbsp; Disisi lain,\nIman Rachman, Direktur Strategi Portofolio dan New Ventures Pertamina\nmengungkapkan secara bertahap juga melakukan transisi energi sesuai dengan\nperkembangan zaman. Transisi energi atau biasa dikenal sebagai decarbonization\nsudah menjadi agenda dan target dari perusahaan-perusahaan di dunia, termasuk\nperusahaan minyak dan gas. \u201cDecarbonization sejalan dengan apa yang diinginkan\ninvestor untuk melakukan investasi di perusahaan-perusahaan yang menerapkan ESG\n(Environmental, Social &amp; Governance), baik investor sebagai pemegang saham\nmaupun sebagai kreditor,\u201d ujar Iman.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.neraca.co.id\/article\/140628\/ini-dia-strategi-pertamina-penuhi-energi-berkelanjutan\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Infosawit.com | Selasa, 29 Desember 2020<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Petani Sawit Pastikan Belum Dilibatkan Dalam Program Mandatori\nBiodiesel Sawit<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Serikat Petani Kelapa Sawit (SPKS) membantah pernyataan Dadan\nKusdiana selaku Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi\n(EBTKE) Kementerian ESDM dimana sebelumnya menyatakan bahwa jumlah petani yang\nterlibat dalam program mandatori biodiesel di on farm sekitar 1.198.766 petani\ndan pada off farm sekitar 9.046 orang pada tahun 2020. Sekjen Serikat Petani\nKelapa Sawit (SPKS) Nasional, Mansuetus Darto sangat meragukan&nbsp; data yang\ndisampaikan tersebut, bahkan sangat menyangkan dan menyatakan dengan tegas\nbahwa program biodiesel B30 ini belum dinikmati oleh petani sawit. Lantaran\nfaktanya, sampai saat ini petani sawit terutama petani sawit swadaya belum terlibat\ndalam program biodiesel B30, bahan baku program biodiesel saat ini berasal dari\nkebun-kebun perusahaan sendiri bukan dari kebun-kebun petani swadaya, tidak ada\nsatupun kelembagan tani saat ini yang mensuplai bahan baku kepada\nperusahan-perusahaan yang memproduksi biodiesel B30 tersebut. Padahal banyak\npetani sawit swadaya disekitar perusahan-perusahaan ini, petani-petani sawit\nswadaya ini justru menjual buahnya kepada tengkulak, loadingram, yang\nmenyebabkan harga sangat rendah diterima oleh petani, artinya ini program\nbiodiesel ini belum mampu mensejahterakan petani sawit,&nbsp; tegas darto.\ndalam keterangan tertulis, rabu 23 Desember 2020. Darto mengungkapkan, yang\ndiminta petani saat ini adalah program biodiesel ini harus dievaluasi dulu\nkarena belum ada keterlibatan petani sawit dan peningkatan kesejahteraan petani\nsawit dari program ini, setelah itu pemerintah melalui kementerian ESDM harus\nsegera membuat aturan yang mewajibkan perusahaan-perusahaan&nbsp; yang\nmemproduksi biodiesel membeli bahan baku untuk kebutuhan biodiesel berasal dari\nkebun-kebun petani sawit terutama sawit swadaya melalui kemitraan dengan\nkoperasi-koperasi milik petani. <\/p>\n\n\n\n<p>\u201cMemang saat ini petani sawit swadaya banyak yang tidak memiliki\nkelembagaan koperasi tetapi ini harus menjadi tangung jawab perusahaan-perusaan\ntersebut mulai melakukan pendampingan kepada petani sawit mebangun koperasi dan\nmelatih petani sawit. ini harusnya wajib dilakukan karena perusahaan-perusaan\nbiodiesel ini mendapatkan subsidi yang besar dari dana sawit yang sudah\ndikumpulkan oleh Badan Pengelola Perkebunan Sawit (BPDPKS),\u201d katanya dalam\nketerangan tertulis diterima InfoSAWIT, belum lama ini. Lebih lanjut kata Darto,\njumlah dana sawit yang dikumpulkan oleh BPDPKS&nbsp; tersebut sejak tahun\n2015-2019 senilai Rp. 47, 28 triliun, dimana alokasi untuk subsidi program\nbiodiesel paling mayoritas dari tahun 2015 hingga 2019 sangat besar berjumlah\nRp. 30,2 T atau 89,86% dari total dana sawit. \u201cDan ini terus naik setiap tahun,\nsementara yang disalurkan untuk petani melalui program peremajaan sawit rakyat\nhanya petani Rp. 4,5 triliun sampai dengan saat ini,\u201d tandas dia.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.infosawit.com\/news\/10506\/petani-sawit-pastikan-belum-dilibatkan-dalam-program-mandatori-biodiesel-sawit\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Industry.co.id | Selasa, 29 Desember 2020 Sebanyak 20 Badan Usaha BBN Akan Salurkan Biodiesel 9,2 Juta KL di 2021 Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Tarbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM telah menetapkan volume alokasi Bahan Bakar Nabati Jenis (BBN) jenis biodiesel di tahun 2021 sebesar 9,2 juta kilo liter (KL).&nbsp; Besaran tersebut akan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4504","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4504","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4504"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4504\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4851,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4504\/revisions\/4851"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4504"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4504"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4504"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}