{"id":4587,"date":"2021-02-19T03:59:08","date_gmt":"2021-02-19T03:59:08","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4587"},"modified":"2021-05-27T03:58:04","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:04","slug":"mp-tumanggor-saat-ini-b30-cukup-memadai-jangan-buru-buru","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/mp-tumanggor-saat-ini-b30-cukup-memadai-jangan-buru-buru\/","title":{"rendered":"MP Tumanggor: Saat Ini, B30 Cukup Memadai, Jangan Buru-buru!"},"content":{"rendered":"\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Wartaekonomi.co.id\">Wartaekonomi.co.id<\/a> |\nKamis, 18 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>MP Tumanggor: Saat Ini, B30 Cukup Memadai, Jangan Buru-buru!<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sejak 2008, Pemerintah Indonesia sudah mengimplementasikan\npenggunaan biodiesel dengan kadar campuran 2,5 persen minyak sawit. Mengingat\npotensinya yang cukup besar, pemanfaatan biodiesel terus dikembangkan secara\nbertahap hingga B40, B50, dan B100 nantinya. Terkait hal ini, Ketua Asosiasi\nProdusen Biofuel Indonesia (Aprobi), MP Tumanggor, mengatakan bahwa saat ini\nprogram biodiesel B30 sudah cukup memadai. Dia pun meminta agar tak buru-buru\nmelangkah ke B40. &#8220;Saat ini, program biodiesel B30 sudah cukup memadai;\njangan buru-buru ke B40. Dengan harga CPO yang tinggi, perlu dana Rp55 triliun,\nsedang dana BPDPKS diperkirakan hanya terkumpul Rp41 triliun. Jadi, sisanya\nRp15 triliun dari mana? Karena itu, B30 saja dulu yang dijalankan,&#8221; kata\nTumanggor. Dijelaskan Tumanggor, Aprobi beranggotakan 20 perusahaan dengan\nhanya sebagian kecilnya yang terintegrasi dengan perusahaan perkebunan.\nSebagian besar perusahaan berdiri sendiri sehingga bahan baku didapat dengan\nmembeli CPO dari PKS yang dimiliki perusahaan perkebunan yang bersangkutan.\nKapasitas produksi seluruh anggota Aprobi adalah 12 juta ton. Perusahaan\nbiodiesel membeli CPO dengan harga pasar yang tinggi seperti sekarang.\n&#8220;Sebenarnya, kita hanya tukang jahit saja dengan upah US$85\/MT. Jadi,\ntidak benar kalau dana biodiesel yang triliunan kita nikmati,&#8221; kata\nTumanggor. Dirjen Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi, Kementerian\nESDM, Dadan Kusdiana, menyatakan bahwa pemerintah akan mempertahankan B30,\nsementara B40 dari aspek teknis sudah dipelajari sehingga kalau dilaksanakan\npun sudah siap. &#8220;Kita tidak akan buru-buru ke B40 melihat situasi teknis\nada spesifikasi baru ke B40 dan B50. Kalaupun ke B40, nanti opsinya on-off ke\nB30 tergantung situasi,&#8221; katanya. Dadan juga menjelaskan, masyarakat tidak\nperlu khawatir dengan mutu B30. Kementerian ESDM menjamin B30 yang sampai ke\nmasyarakat tetap memenuhi standar kualitas. Perlu diketahui, kebijakan\nbiodiesel ini sudah berjalan 15 tahun dan telah memberikan dampak terhadap\npenurunan impor solar, penghematan devisa, serta harga CPO dan TBS yang stabil\nbahkan cenderung baik sehingga petani juga turut menikmati. Sepanjang tahun\n2021, diperkirakan serapan B30 mencapai 9,2 juta kiloliter atau setara dengan\nkebutuhan produksi di 2,5 juta hektare kebun sawit.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.wartaekonomi.co.id\/read328354\/mp-tumanggor-saat-ini-b30-cukup-memadai-jangan-buru-buru\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>CNBCIndonesia.com | Kamis, 18 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kini Baru 11,3%, RI Targetkan Energi Bersih 27% di 2035<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah menargetkan bauran energi baru terbarukan (EBT) pada\n2035 bisa mencapai 27% dan 2050 bahkan akan meningkat lagi menjadi 31%. Padahal\nsaat ini, bauran energi baru terbarukan disebut baru mencapai 11,3%. Menteri\nEnergi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Arifin Tasrif mengatakan upaya pemerintah\nmendorong bauran energi baru terbarukan ini tidak terlepas dari komitmen global\ndalam membatasi kenaikan suhu berkisar 1,5 derajat. &#8220;Pemerintah\nmenargetkan EBT 23% pada 2025, dan saat ini proporsi baru 11,3% dari bauran\nenergi total,&#8221; paparnya dalam webinar, Kamis (18\/02\/2021). Untuk mendorong\npercepatan pencapaian target, pemerintah akan terus melanjutkan sejumlah\nkebijakan pemanfaatan EBT, antara lain melalui substitusi energi final primer\ndengan memanfaatkan teknologi yang ada untuk program pencampuran Fatty Acid\nMethyl Esters (FAME) sebesar 30% ke dalam solar atau dikenal dengan program\nbiodiesel 30% (B30). Kedua, melakukan substitusi energi primer fosil, yakni\nmengonversi Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD) menjadi pembangkit listrik berbasis\nenergi terbarukan. Ketiga, meningkatkan kapasitas EBT, fokus pada pengembangan\npembangkit listrik tenaga surya dan pemanfaatan EBT non listrik. Dan terakhir,\nmempercepat pengembangan baterai untuk kendaraan listrik. Dengan\nkebijakan-kebijakan ini, pada 2035 proporsi energi bersih menurutnya akan\nmencapai 27% atau 48 GW. Menurutnya ini juga akan mengurangi emisi gas rumah\nkaca 370 juta ton CO2 dan mendorong industri membuat produk yang ramah\nlingkungan. &#8220;Dengan kebijakan ini, pada 2035 proporsi energi bersih 27%\natau 48 GW yang akan kurangi emisi gas rumah kaca 370 juta ton,&#8221; jelasnya.\nMenurutnya, Indonesia diberkahi dengan berbagai sumber Energi Baru Terbarukan\n(EBT) yang mencapai 417 giga watt (GW), namun pemanfaatannya baru 2,5%. EBT\nberperan penting tidak hanya untuk menyikapi perubahan iklim, namun juga\nmenciptakan masa depan yang berkelanjutan. &#8220;Indonesia juga berkomitmen\nmengurangi gas rumah kaca 29% dari business as usual. Kami komitmen kurangi gas\nrumah kaca 300 juta ton pada 2030,&#8221; ujarnya. Sebelumnya, Direktur Jenderal\nEnergi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Dadan\nKusdiana mengatakan capaian bauran energi RI sudah mencapai 11,5%. Padahal pada\n2025 bauran EBT ditargetkan mencapai 23%.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/www.cnbcindonesia.com\/news\/20210218161415-4-224389\/kini-baru-113-ri-targetkan-energi-bersih-27-di-2035\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Kompas.com | Kamis, 18 Februari 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Perusahaan Ini Kembangkan Biodiesel dari Tanaman Jarak Pagar<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berbagai inovasi dan upaya terus dilakukan untuk mencari berbagai\nsumber energi baru dan terbarukan (EBT) demi mengurangi ketergantuntan\npenggunaan energi fosil. Biodiesel menjadi salah satu jenis EBT yang telah\nditerapkan di Indonesia. Saat ini telah mencapai Biodiesel 30, yaitu\npencampuran 30 persen biodiesel dengan 70 persen bahan bakar minyak jenis\nsolar. Saat ini, komoditas utama yang digunakan untuk membuat biodiesel adalah\nminyak kelapa sawit atau crude palm oil (CPO). Namun ternyata, selain CPO\nterdapat tanaman lain yang berpotensi untuk menjadi bahan baku biodiesel, salah\nsatunya adalah jarak pagar, dengan memanfaatkan kandungan minyak dari biji.<\/p>\n\n\n\n<p>Biji jarak pagar pun mengandung rendemen minyak nabati sebesar 35\nsampai 45 persen. PT New Eco Energy Indonesia (NEEI-One), menjadi perusahaan\nyang menghasilkan produk Biodiesel Jarak Nusantara. NEEI-One menyampaikan,\nproduksi biodiesel jarak pagar membutuhkan biaya sekitar Rp 6.500 per liter dan\nkedepannya bisa ditekan menjadi sekitar Rp 5.000 per liter. CEO New Ecology\nEnergy Indonesia Muhammad Hafnan mengatakan, pihaknya menggunakan teknologi\nNanomizer, yang membuat Biodiesel Jarak menjadi lebih bersih karena teknologi\nini mengurangi emisi gas Nitrogen Oxida (NOX). Teknologi Nanomizer juga akan\nmengurangi konsentrasi methanol pada bahan bakar Biodiesel lebih dari 20\npersen, sehingga membuat mesin lebih tahan terhadap korosi. Ia mengatakan, satu\nhektar lahan jarak pagar dapat menghasilkan 12.500 liter atau 12.5 kiloliter\n(kl) minyak jarak, atau hasil akhirnya 12.5 kl bahan bakar Nano Biodiesel Jarak\nNusantara per tahun atau sekitar 34 liter per hari. Menurut hasil analisa biaya\ndan profit oleh NEEI, harga biodiesel jarak adalah harga minyak jarak, yakni Rp\n6.000 ditambah ongkos pengolahan Rp 1.000 per liter, sehingga harganya menjadi\nRp 7.000 per liter atau Rp 6.000 per liter. \u201cDengan teknologi Nanomizer kami,\nharga itu dapat berkurang sekitar Rp 1.000 per liter sehingga harga Nano\nBiodiesel Jarak kami menjadi sekitar Rp 5.000 sampai dengan Rp 6.000 per\nliter,\u201d ujar Hafnan dalam keterangan tertulis, Kamis (18\/2\/2021).<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/money.kompas.com\/read\/2021\/02\/18\/194828126\/perusahaan-ini-kembangkan-biodiesel-dari-tanaman-jarak-pagar\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Wartaekonomi.co.id | Kamis, 18 Februari 2021 MP Tumanggor: Saat Ini, B30 Cukup Memadai, Jangan Buru-buru! Sejak 2008, Pemerintah Indonesia sudah mengimplementasikan penggunaan biodiesel dengan kadar campuran 2,5 persen minyak sawit. Mengingat potensinya yang cukup besar, pemanfaatan biodiesel terus dikembangkan secara bertahap hingga B40, B50, dan B100 nantinya. Terkait hal ini, Ketua Asosiasi Produsen Biofuel Indonesia [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4587","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4587","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4587"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4587\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4823,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4587\/revisions\/4823"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4587"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4587"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4587"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}