{"id":4607,"date":"2021-03-08T07:27:17","date_gmt":"2021-03-08T07:27:17","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4607"},"modified":"2021-05-27T03:58:04","modified_gmt":"2021-05-26T20:58:04","slug":"faisal-basri-biodiesel-bukan-solusi-menekan-impor-minyak","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/faisal-basri-biodiesel-bukan-solusi-menekan-impor-minyak\/","title":{"rendered":"Faisal Basri: Biodiesel Bukan Solusi Menekan Impor Minyak"},"content":{"rendered":"\n<p><strong>Tempo.co | Sabtu, 6 Maret 2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Faisal Basri: Biodiesel Bukan Solusi Menekan Impor Minyak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan penerapan biodiesel bukan\nsolusi, karena salah satu tujuan pengembangan biodiesel adalah untuk menekan\nimpor minyak, sehingga memperbaiki transaksi perdagangan dan current account\ndeficit. &#8220;Kenyataannya justru bertolak belakang,&#8221; kata Faisal Basri\ndalam diskusi virtual, Sabtu, 6 Maret 2021. Dia mengatakan berdasarkan\nperhitungan opportunity cost, penerapan biodiesel justru mengakibatkan defisit\nperdagangan bertambah menjadi Rp 72,1 triliun pada 2018 dan Rp 85,2 triliun\npada 2019. &#8220;Pemerintah hendak merealisasikan secara penuh program B30,\nB40, bahkan B100, ini sudah ngawur sekali. Ngawurnya super ngawur. Saya sudah\nmelakukan kajian yang membuktikan bahwa ini bukan solusi, buat APBN juga bukan\nsolusi,&#8221; ujarnya. Petani sawit, kata dia, juga sangat dirugikan karena\nharga jual sawit di tingkat petani tertekan. &#8220;Pengusaha biodiesel\nmenikmati rente atau zero sum game,&#8221; ujarnya. Subsidi, kata dia, juga beralih\ndari bahan bakar minyak ke biodiesel. Akibatnya subsidi sudah dianggarkan tahun\nini untuk program B-30 sebesar Rp 2,78 triliun. Selain itu, dibutuhkan tambahan\nlahan sekitar 5 juta hektare untuk merealisasikan program biodiesel B30 dan B40\nsecara penuh.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/bisnis.tempo.co\/read\/1439463\/faisal-basri-biodiesel-bukan-solusi-menekan-impor-minyak\/full&#038;view=ok\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Sabtu, 6 Maret\n2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Demi pulihkan ekonomi nasional, Kemenperin terus menarik\ninvestasi baru<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Pemerintah melalui Kementerian Perindustrian fokus untuk terus\nmeningkatkan investasi di tanah air. Sebab, upaya strategis tersebut dapat\nmengakselerasi pemulihan ekonomi nasional akibat dari dampak pandemi Covid-19.\n\u201cSesuai arahan Presiden Joko Widodo, bahwa kunci pertumbuhan ekonomi kita\nadalah di investasi. Maka itu, Kemenperin aktif berkontribusi dalam menarik investasi\nbaru, khususnya sektor industri,\u201d terang Menteri Perindustrain Agus Gumiwang\nKartasasmita dalam siaran pers di situs Kementerian Perindustrian, Sabtu (6\/3).\nKemenperin mencatat,terdapat 81 proyek dengan total nilai investasi sebesar Rp\n921,84 triliun yang akan dipacu realisasinya untuk pengembangan proyek\nhilirisasi dalam kurun waktu tahun 2023-2030. Dari total investasi tersebut,\ndiperkirakan bakal menyerap tenaga kerja sebanyak 125.286 orang. \u201cDari\ninvestasi ini, tentunya akan menciptakan lapangan kerja yang banyak. Hal ini\nyang ditunggu-tunggu oleh masyarakat. Selain itu juga akan mengurangi tingkat\npengangguran, baik itu karena pandemi atau angkatan kerja baru,\u201d papar Agus. Di\nsektor hilirisasi petrokimia, Kemenperin terus mendorong realisasi investasi\npengembangan industri petrokimia PT Trans Pacific Petrochemical Indotama (TPPI)\ndi Tuban, yang akan menghasilkan produk olefin dan aromatik. Berikutnya,\nKemenperin memacu hilirisasi nikel dalam rangka meningkatkan nilai tambah bahan\nbaku nikel dan kobalt yang tersedia di Indonesia. Bahan baku ini dapat\ndigunakan dalam pembuatan baterai kendaraan listrik. \u201cSaat ini, secara total\nkita punya 30 smelter yang beroperasi, kemudian yang sedang konstruksi 20\nsmelter, dan dalam tahap feasibility study sebanyak sembilan smelter,\u201d sebut\ndia. Smelter ini berperan untuk menguatkan struktur industri dalam negeri agar\nlebih berdaya saing di kancah global. Agus menuturkan, implikasi dari kebijakan\nhilirisasi tersebut adalah tumbuhnya industri logam dasar di tahun 2020 sebesar\n5,87%. Ekspor dari industri logam juga tumbuh 30% di tahun lalu, bahkan mampu\nmenyumbang devisa negara hingga US$ 22 miliar. <\/p>\n\n\n\n<p>Saat ini, Indonesia memiliki 30% dari cadangan bijih nikel dunia,\nsehingga&nbsp; menjadi jaminan bahan baku untuk investasi di sektor baterai\nkendaraan listrik yang pada akhirnya akan menarik investasi di sektor kendaraan\nlistrik. Beberapa perusahaan yang akan memproduksi bahan baku baterai listrik\nnikel-kobalt, di antaranya adalah PT QMB (Sulawesi Tengah), PT. Halmahera Persada\nLygend (Pulau Obi), PT Weda Bay Nickel (Maluku Utara), dan PT Smelter Nikel\nIndonesia (Banten). Sedangkan, untuk hilirisasi minyak sawit, pemerintah telah\nmendorong program B30 yakni berupa pencampuran 70% BBM diesel dengan 30%\nFAME\/Biodiesel. Upaya simultan pemerintah ini untuk mengurangi impor BBM diesel\nsekaligus mengendalikan emisi pencemaran udara. Agus mengemukakan, realisasi\npenanaman modal sektor industri di tanah air tumbuh 26%, dari tahun 2019 yang\nmencapai Rp 216 triliun menjadi Rp 272,9 triliun pada 2020. \u201cKami memberikan\napresiasi kepada pelaku industri atas komitmennya merealisasikan investasinya\ndi Indonesia,\u201d ujarnya. Sektor industri masih konsisten memberikan kontribusi\nsignifikan bagi perekonomian nasional melalui realisasi penanaman modal.\nSepanjang tahun 2020, investasi manufaktur mampu menunjukkan geliat positif,\nmeskipun di tengah terpaan yang cukup berat akibat pandemi Covid-19.\nBerdasarkan catatan Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), pada\nJanuari-Desember 2020, sektor industri menggelontorkan dananya sebesar Rp 272,9\ntriliun atau menyumbang 33% dari total nilai investasi nasional yang mencapai\nRp 826,3 triliun. Hasilnya, realisasi investasi secara nasional pada tahun lalu\nmelampaui target yang dipatok sebesar Rp 817,2 triliun atau menembus 101,1%.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/demi-pulihkan-ekonomi-nasional-kemenperin-terus-menarik-investasi-baru\n<\/div><\/figure>\n\n\n\n<p><strong><a href=\"http:\/\/Kontan.co.id\">Kontan.co.id<\/a> | Sabtu, 6 Maret\n2021<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p><strong>Target rampung akhir 2021, Proyek Green Refinery Kilang\nPertamina Cilacap dikebut<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Ditargetkan beroperasi pada akhir Desember 2021, pengembangan\nGreen Refinery dengan produk-produk energi hijau, seperti Green Diesel dan\nGreen Avtur di Pertamina Refinery Unit (RU) IV Cilacap masih berlangsung.\nProyek energi hijau tersebut berbahan dasar minyak kelapa sawit. Corporate\nSecretary Subholding Refining &amp; Petrochemical PT Kilang Pertamina\nInternasional, Ifki Sukarya menerangkan uji coba Green Diesel (D 100) sukses\ndilakukan pada Januari 2021 dengan komposisi Refined, Bleached and Deodorized\nPalm Oil (RBDPO) sebesar 100%. \u201cRBDPO adalah minyak kelapa sawit yang sudah\nmelalui proses penyulingan untuk menghilangkan asam lemak bebas serta\npenjernihan untuk menghilangkan warna dan bau,\u201d jelasnya dalam keterangan resmi\nSabtu (6\/3). Sedangkan Green Avtur menggunakan Refined, Bleached, and\nDeodorized Palm Kernel Oil (RBDPKO), yakni minyak inti kelapa sawit. Di mana,\nuji coba Green Avtur sudah berhasil dilakukan, bahkan sudah diuji di\nlaboratorium GMF (Garuda Maintenance Facility). Selain itu, kapasitas produksi\nakan terus ditingkatkan untuk Green Diesel dan Green Avtur yang diproduksi di\nUnit Treated Distillate Hydro Treating (TDHT). Kapasitas produksi Green Avtur\nsebesar 8 ribu barel per hari dan Green Diesel sebesar 3 ribu barel per hari,\ndan berpotensi terus ditingkatkan dengan melihat kebutuhan pasar, mulai 2023.<\/p>\n\n\n\n<p>Produksi Green Diesel dan Green Avtur di Kilang Pertamina Cilacap\ndilaksanakan dalam dua tahap. Pada tahap pertama, dilakukan pengolahan RBDPO\nsebesar 3000 barel per hari untuk menghasilkan Green Diesel D100 yang\ndirencanakan onstream pada akhir Desember 2021. Selanjutnya di tahap kedua,\nakan dilakukan pengolahan CPO sebesar 6000 barel per hari untuk menghasilkan\nGreen Diesel D100 atau Green Avtur yang direncanakan onstream pada akhir\nDesember 2022. Diketahui, pengembangan Green Energy ini dilakukan sebagai\nimplementasi Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan memaksimalkan potensi\nsumber daya energi baru terbarukan, dalam hal ini minyak kelapa sawit yang\nmelimpah.&nbsp; \u201cIni adalah wujud nyata komitmen Pertamina untuk memenuhi\nkebutuhan alternatif feed stock sumber bahan baku. Memanfaatkan potensi energi\ndalam negeri, mengurangi impor crude, penggunaan energi ramah lingkungan karena\nsifatnya yang baru terbarukan,\u201d terang Ifki. Sebelumnya, Pertamina RU IV sudah\nberhasil memproduksi Green Gasoline sejak April 2020. \u201cGreen Gasoline yang\nlaunching di RU III Plaju, kami duplikasi di RU IV dan pada April 2020 sudah\ndicoba dengan 20 persen bahan baku menggunakan RBDPO. Pengolahan di kilang RFCC\nmenjadi Green Gasoline dengan kualitas Oktan sekelas Pertamax,\u201d tandasnya.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\nhttps:\/\/industri.kontan.co.id\/news\/target-rampung-akhir-2021-proyek-green-refinery-kilang-pertamina-cilacap-dikebut\n<\/div><\/figure>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tempo.co | Sabtu, 6 Maret 2021 Faisal Basri: Biodiesel Bukan Solusi Menekan Impor Minyak Ekonom Senior Faisal Basri mengatakan penerapan biodiesel bukan solusi, karena salah satu tujuan pengembangan biodiesel adalah untuk menekan impor minyak, sehingga memperbaiki transaksi perdagangan dan current account deficit. &#8220;Kenyataannya justru bertolak belakang,&#8221; kata Faisal Basri dalam diskusi virtual, Sabtu, 6 Maret [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[],"class_list":["post-4607","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-articles"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4607","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4607"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4607\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4816,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4607\/revisions\/4816"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4607"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4607"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4607"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}