{"id":4616,"date":"2021-03-15T03:59:14","date_gmt":"2021-03-15T03:59:14","guid":{"rendered":"https:\/\/aprobi.or.id\/?p=4616"},"modified":"2021-06-08T20:06:22","modified_gmt":"2021-06-08T13:06:22","slug":"peluang-dan-upaya-penyerapan-sawit-sebagai-feedstock-biodiesel","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/peluang-dan-upaya-penyerapan-sawit-sebagai-feedstock-biodiesel\/","title":{"rendered":"Peluang Dan Upaya Penyerapan Sawit Sebagai Feedstock Biodiesel"},"content":{"rendered":"<p><strong>Sawitindonesia.com | Minggu, 14 Maret 2021<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>Peluang Dan Upaya Penyerapan Sawit Sebagai Feedstock Biodiesel<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Indonesia telah melaksanakan mandatori biodiesel 30 persen (B30)\r\nsejak Januari 2020. Mandatori&nbsp; B30 di tahun 2020 telah menyerap 8,43 juta\r\nkiloliter atau sekitar 88% dari target yang dicanangkan 9,59 juta kiloliter.\r\nPada tahun 2021, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Tarbarukan\r\ndan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM telah menetapkan alokasi volume\r\nmandatori B30 sebanyak 9,2 kiloliter. Ini artinya jika penyerapan mencapai 100%\r\nmaka penggunaan CPO sebagai feedstock akan setara 8 juta ton CPO. Di sisi lain <strong>Asosiasi\r\nProdusen Biofuel Indonesia (APROBI)<\/strong> menargetkan ekspor biodiesel ke pasar\r\nglobal sekira 1 juta kiloliter. Kapasitas produksi biodiesel&nbsp; mencapai\r\n12,4 juta kiloliter. Diperkirakan volume CPO yang terserap untuk produksi\r\nbiodiesel&nbsp; mencapai 10 juta ton pada 2021. Di negara lain seperti Tiongkok\r\nperlahan-lahan meningkatkan penggunaan biodiesel. Berdasarkan laporan China\r\nBiofuel Annual yang disampaikan kepada Jaringan Informasi Pertanian Global\r\nDinas Pertanian Luar Negeri USDA (USDA Foreign Agricultural Service\u2019s Global\r\nAgricultural Information Network) 31 Juli 2020 bahwa mencatat bahwa tindakan\r\nlingkungan yang semakin ketat mendorong prospek untuk penggunaan biodiesel\r\ndiperluas di negara tersebut. Saat ini di Negeri Tirai Bambu barumemberlakukan\r\nmandatori B5 (khususnya Shanghai) bagi kendaraan transportasi darat (on road\r\nuse). Peluang besar biodiesel akan digunakan untuk off-road maritim dan\r\npenggunaan non-transportasi lainnya pada tahun 2021 dan yang akan datang.\r\nTiongkok telah memulai komitmen lingkungan sejak November 2015 dimana Dewan\r\nNegara China (China\u2019s State Council) meluncurkan Rencana Lima Tahun di bidang\r\nEkonomi dan Pembangunan Sosial (2016-2020). Program ini difokuskan kepada&nbsp;\r\npengurangan konsumsi energi, perlindungan lingkungan, dan penggunaan energi\r\nterbarukan dan biomassa. Selanjutnya pertengahan 2018 diluncurkan program Blue\r\nSky Protection Plan 2018 yaitu mengurangi emisi untuk sulfur dioksida dan\r\nnitrogen oksida setidaknya 15 persen dari level tahun 2015, dan Penurunan 18\r\npersen dalam kepadatan materi partikulat pada tahun 2020.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Menurut laporan yang sama di atas, disebutkan bahwa 42 pabrik\r\nbiodiesel dengan total kapasitas gabungan sebesar 2,726 miliar liter diharapkan\r\ndapat beroperasi di China pada akhir 2020. Ada kenaikan dari tahun sebelumya\r\nberjumlah 40 pabrik. Bahan baku utama biodiesel adalah minyak goreng bekas. Di\r\ndalam laporan juga disebutkan bahwa produksi biodiesel menurun pada tahun 2020\r\nkarena konsumsi menurun akibat pandemi Covid-19 sehingga pasokan minyak goreng\r\nbekas turun. Akan tetapi produksi tetap terdorong oleh permintaan yang kuat\r\ndari Uni Eropa. Dari laporan di atas di atas dapat disimpulkan bahwa minyak\r\nsawit mempunyai peluang yang besar untuk menyuplai kebutuhan biodiesel di&nbsp;\r\nTiongkok. Walaupun, ekspor minyak sawit Indonesia ke Tiongkok turun sebesar 1,5\r\njuta ton menjadi 4,63 juta ton pada 2020 dibandingkan tahun sebelumnya sebesar\r\n6,15 juta ton. Merosotnya ekspor dipengaruh lesunya konsumsi akibat pandemi\r\nCovid 19 khususnya semester pertama 2020. Di tahun ini volume ekspor hanya di\r\nkisaran 126 ribu \u2013 328 ribu metrik ton per bulannya. Tetapi seiring pelonggaran\r\nkebijakan lockdown dapat dilihat ekspor semester kedua 2020 naik signifikan di\r\nkisaran 482 ribu \u2013 692 ribu metrik ton per bulan. Pada 2020, Indonesia juga\r\nmencatatkan penurunan ekspor biodiesel dengan volume signifikan ke China yaitu\r\ndari 607 ribu ton di 2019 turun menjadi 8,2 ribu ton di 2020. Pada 2021\r\ndiperkirakan volume ekspor minyak sawit ke Tiongkok akan kembali pulih mencapai\r\n6 juta sampai 7 juta ton. Begitupula ekspor biodiesel diharapkan akan kembali\r\npulih. Hal ini juga didorong dengan kebijakan dalam negeri China yang telah\r\nmempertimbangkan aspek lingkungan. Di Brazil, pemerintah setempat&nbsp;\r\nmendorong penggunaan minyak nabati sebagai bahan baku biodiesel. Pada 2020\r\nPemerintah Brazil telah menetapkan minyak nabati pada biodiesel sebesar 12%\r\n(B12) dan terjadwal naik 1% setiap tahunnya sehingga pada 2028 mencapai&nbsp;\r\nB20. Sejak November 2020 Dewan Energi Nasional Brazil mengeluarkan kebijakan yang\r\nmembolehkan produksi biodiesel di dalam negeri menggunakan bahan baku impor\r\nkarena stok kedelai yang menyusut. Selain itu, tingginya harga makan dan\r\nminuman sehingga memicu inflasi konsumen dan seiring kenaikan 1%&nbsp;\r\npenggunaan minyak nabati sebagai feedstock biodiesel di 2021, ini membuka\r\npeluang yang besar untuk minyak sawit menginfiltrasi sebagai bahan baku\r\nbiodiesel di Brazil. Di Uni Eropa, kebijakannya akan menjadi pendorong utama\r\npasar biodiesel Eropa sepanjang 2021, dengan revisi Renewable Energy Directive\r\n(RED-II) yang menetapkan kerangka kerja kebijakan UE hingga 2030. Di bawah RED\r\nII, target UE untuk konsumsi energi terbarukan dinaikkan menjadi 32% pada 2030,\r\ndari 20% pada tahun 2020, dengan 14% sub-target transportasi. S&amp;P Global\r\nPlatts Analytics memproyeksikan konsumsi biodiesel UE 2020-21 akan meningkat\r\nsebesar 1,86 juta metrik ton pada tahun ini menjadi 16,68 juta metrik ton.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Seperti yang kita ketahui Spanyol, anggota dari UE merupakan\r\npengimpor minyak sawit terbesar kedua dari Indonesia, menggunakan minyak sawit\r\nsebagai bahan baku biodieselnya. Di lansir dari portal berita Biofuel\r\nInternational, pada pertengahan Februari 2021, Repsol telah berhasil\r\nmemproduksi batch pertama biofuel untuk penerbangan (biojet fuel) di kompleks\r\nindustrinya di Tarragona di Spanyol. Repsol adalah perusahaan energi dan\r\npetrokimia Spanyol yang terlibat dalam kegiatan hulu dan hilir di seluruh\r\ndunia. Batch pertama biojet fuel di pasar Spanyol ini sebanyak 10 ribu ton dan\r\nini menjadikan Repsol sebagai pelopor dalam solusi berkelanjutan untuk sektor\r\npenerbangan. Dalam laporan tidak disebutkan feedstock dari biojet fuel yang\r\ndiproduksi oleh Repsol. Namun dengan perkembangan biojet fuel maka dipastikan\r\ndemand untuk feedstock green renewable energy akan meningkat. Di Spanyol,\r\nRencana Nasional Terpadu untuk Energi dan Iklim (Integrated National Plan for\r\nEnergy and Climate) mengakui bahwa biofuel saat ini mewakili teknologi\r\nterbarukan yang paling banyak tersedia dan digunakan dalam transportasi. Ini\r\nmerupakan lampu hijau kepada industri untuk memproduksi biofuel yang diharapkan\r\npada akhirnya membantu negara untuk mengurangi emisi dari transportasi. Lagi \u2013\r\nlagi minyak sawit berpeluang besar untuk menjadi feedstock utama biofuel karena\r\npaling efektif dan efisien dari sisi penggunaan lahan dan produktifitas serta\r\ndidukung oleh harga yang murah. Meskipun unggul, minyak sawit menghadapi\r\ntantangan besar untuk meramaikan pasar biofuel global. Isu paling berat\r\nberkaitan deforestasi. RED II UE juga menempatkan minyak sawit sebagai komoditas\r\npaling berisiko dalam indirect land use change (ILUC) atau alih fungsi lahan\r\nsecara tidak langsung. Indonesia ditantang untuk terus meningkatkan praktek\r\nkeberlanjutan dan tata kelola industri kelapa sawit untuk tetap bersaing di\r\npasar global. <strong><em>Penulis : Susila\r\nDarma Wati (Pelaku Industri Sawit)<\/em><\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed-wordpress wp-block-embed is-type-wp-embed is-provider-majalah-sawit-indonesia\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\r\nhttps:\/\/sawitindonesia.com\/peluang-dan-upaya-penyerapan-sawit-sebagai-feedstock-biodiesel\/\r\n<\/div><\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>BERITA BIOFUEL<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>Tempo.co | Sabtu, 13 Maret 2021<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>Menperin Sebut Perusahaan Jepang Ini Siap Kembangkan Industri\r\nMethanol di RI<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Menteri Perindustrian atau Menperin Agus Gumiwang Kartasasmita\r\ntelah bertemu dengan perusahaan industri kimia asal Jepang, Sojitz Corporation,\r\nuntuk membahas pengembangan industri methanol di Indonesia. \u201cDalam pertemuan\r\ntadi, Sojitz menyatakan ketertarikan untuk mengembangkan industri methanol dan\r\nammonia di Kawasan Industri Teluk Bintuni yang akan menyerap investasi sekitar\r\nUS$ 5 miliar,\u201d ujar Agus dalam keterangan tertulis, Sabtu, 13 Maret 2021.\r\nMenurut dia, kebutuhan methanol saat ini semakin meningkat. Ke depannya, ia\r\nmelihat industri methanol memegang peranan yang sangat penting bagi\r\npengembangan industri di hilirnya. Pada pertemuan dengan Presiden dan CEO\r\nSojitz Corporation Fujimoto Masayoshi, Agus menyampaikan bahwa proyek Bintuni\r\nmasuk sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN), sehingga akan memperoleh\r\nkemudahan serta berbagai insentif dari Pemerintah. \u201cProyek petrokimia di Teluk\r\nBintuni akan menjadi yang terbesar dengan luas sekitar 2.000 Hektare. Kami akan\r\nmembahasnya lebih lanjut pada kunjungan selanjutnya di bulan Mei mendatang,\u201d\r\nujarnya. Bisnis Sojitz Corporation di Indonesia meliputi perusahaan Kaltim\r\nMethanol Industri (KMI) di Bontang, Kalimantan Timur yang merupakan\r\nsatu-satunya produsen methanol di Indonesia. Perusahaan tersebut berkapasitas produksi\r\n660.000 metrics ton per tahun. \u201cDengan kebutuhan methanol di dalam negeri yang\r\nmencapai sekitar dua juta ton, pembangunan pabrik methanol baru amat\r\ndibutuhkan,\u201d tutur Agus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Bahan baku methanol sangat dibutuhkan, antara lain dalam industri\r\ntekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood. Metanol juga\r\nsangat berperan sebagai antifreeze dan inhibitor dalam kegiatan migas. Selain\r\nitu, Agus berujar methanol juga merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan\r\nbiodiesel. \u201cDi tahun 2020, permintaan akan methanol juga meningkat dengan\r\npenerapan mandatory biodiesel B30.\u201d Guna merealisasikan proyek pembangunan\r\npabrik methanol kedua tersebut, diperlukan dukungan penuh kedua Pemerintah\r\ndalam pengembangan industri petrokimia di Bintuni. Kawasan industri ini\r\ndikembangkan secara multiyear dengan menggunakan KPBU (Kerjasama Pemerintah\r\nBadan Usaha). Pembangunan infrastruktur di kawasan tersebut ditargetkan bisa\r\ndilaksanakan pada tahun ini dan dilanjutkan pembangunan pabrik-pabrik pada\r\n2022, sehingga tenant bisa mulai berproduksi pada 2024. Pada kesempatan\r\ntersebut, Agus juga mengundang Sojitz untuk berinvestasi pada industri soda ash\r\nsebagai hilirisasi dari ammonia, di samping sebagai pengurangan emisi CO2 pada\r\npembakaran batubara yang akan dikembangkan oleh Sojitz. \u201cPemerintah akan\r\nmemberikan insentif tertentu bagi industri pioner seperti soda ash,\u201d ujar\r\nMenperin.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\r\nhttps:\/\/bisnis.tempo.co\/read\/1441786\/menperin-sebut-perusahaan-jepang-ini-siap-kembangkan-industri-methanol-di-ri\/full&#038;view=ok\r\n<\/div><\/figure>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>Detik.com | Jum\u2019at, 12 Maret 2021<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p><strong>Kejar Target 1,1 GW, Pertamina Operasikan 15 Wilayah Kerja\r\nGeothermal<\/strong><\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>PT Pertamina (Persero) melalui anak usahanya PT Pertamina\r\nGothermal Energy (PGE) menambah satu Wilayah Kerja (WK) Geothermal dalam rangka\r\nmeningkatkan kapasitas terpasang Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi (PLTP).\r\nDengan demikian saat ini PGE mengoperasikan 15 WK. Sebanyak 15 WK tersebut\r\nantara lain Gunung Sibuali-Buali, Sumut; Gunung Sibayak-Sinabung, Sumut; Sungai\r\nPenuh (Kerinci), Jambi; Hululais, Bengkulu; Lumut Balai dan Margabayur, Sumsel;\r\nWay Panas, Lampung; Kamojang Darajat, Jabar; Karaha Cakrabuana, Jabar;\r\nPangalengan, Jabar; Cibeureum Parabakti, Jabar; Tabanan, Bali; Lahendong,\r\nSulut; Gunung Lawu, Jateng; Seulawah, NAD; dan Kotamobagu, Sulut. Senior Vice\r\nPresident Corporate Communications &amp; Investor Relations Pertamina,\r\nAgusSuprijanto menyebut saat ini kapasitas terpasangPLTP yang dioperasikan\r\nolehPGE di atas adalah sebesar 672 MW. Sesuai dengan masterplan Pertamina,\r\npengembangan panas bumi dalam lima tahun ke depan akan meningkat tajam dan\r\nditargetkan akan naik 2 kali lipat menjadi 1.108 Megawatt (1,1 Gigawatt) pada tahun\r\n2026. Di samping operasional sendiri oleh PGE, Pertamina juga mengelola panas\r\nbumi bersama mitra melalui joint operation contract dengan kapasitas terpasang\r\nsebesar 1.205 MW. Dengan keseluruhan pengelolaan pengembangan panas bumi\r\ntersebut, diharapkan Pertamina dapat menjamin terpenuhinya energi bersih di\r\nmasa depan. Agus menjelaskan Pertamina terus mengupayakan penyediaan energi\r\nyang ramah lingkungan yang diperlukan di masa depan. Melalui 15 wilayah kerja\r\nproyek panas bumi, Pertamina akan mewujudkan program transisi energi, yaitu\r\nenergi baru terbarukan akan mencapai 30% pada tahun 2030. &#8220;Potensi\r\ngeothermal di Indonesia sangat tinggi, termasuk nomor 2 terbesar di dunia namun\r\nbaru 7 persen yang telah dikembangkan. Dengan roadmap Pertamina, dalam lima\r\ntahun ke depan akan naik dua kali lipat,&#8221; ungkapnya dalam keterangan\r\ntertulis, Jumat (12\/3\/2021).<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<p>Agus menambahkan pada program transisi energi, Pertamina juga akan\r\nmengupayakan 4 MW melalui Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) Badak di\r\nKalimantan. Solar Cell Panel juga telah terpasang di 63 lokasi yang tersebar di\r\nDKI Jakarta, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah dan Jawa Timur. &#8220;Pertamina\r\njuga menargetkan pemasangan Panel Solar Cell di seluruh SPBU Pertamina dengan\r\nkapasitas terpasang sebesar 385 kWp,&#8221; ujarnya. Diungkapkannya, energi\r\nbersih yang akan menghasilkan listrik juga dikembangkan Pertamina melalui\r\npembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Bio-Gas (PLTBg) bekerja sama dengan PT\r\nPerkebunan Negara II di Sei Mangkei di Simalungun Sumatera Utara dengan total\r\nkapasitas 2,4 MW. Salah satu proyek nasional yang juga menjadi fokus Pertamina,\r\nlanjut Agus, adalah proyek Pembangkit Listrik Tenaga Gas Uap (PLTGU) Jawa-1\r\ndiCilamaya Jawa Barat dengan kapasitas mencapai 1.760 MW. Agus menyebut\r\ninisiatif strategis untuk mendorong pelaksanaan program green transition\r\nPertamina juga dilakukan di sektor pengolahan. Setelah sukses uji coba produksi\r\nGreen Diesel (D100) di Kilang Dumai sebesar 1.000 barel per hari, Pertamina\r\nsedang mengembangkan Green Energy melalui Revamp TDHT di Kilang Cilacap dengan\r\ntarget produksi 6.000 barel per hari yang ditargetkan onstream tahun 2022. Lalu\r\nBiorefinery Standalone di Kilang Plaju dengan kapasitas 20.000 barel per hari.\r\nDi lini bisnis tengah tersebut, sejak tahun 2019 Pertamina telah mengimplementasi\r\nBiodiesel plus 30% yang terlaksana di seluruh Indonesia, sehingga dapat\r\nmenurunkan impor solar sebesar USD 1,6 miliar per tahun. &#8220;Upaya untuk\r\nmenurunkan impor, Pertamina juga akan mengembangkan gasifikasi batubara kalori\r\nrendah menjadi DME untuk substitusi LPG. Keseluruhan insiatif strategis yang\r\ndilakukan Pertamina untuk menjamin ketersediaan energi bersih di masa depan\r\ndidasari semangat untuk memberikan energi yang lebih baik kepada masyarakat dan\r\nlingkungan,&#8221; tandas Agus.<\/p>\r\n\r\n\r\n\r\n<figure class=\"wp-block-embed\"><div class=\"wp-block-embed__wrapper\">\r\nhttps:\/\/finance.detik.com\/energi\/d-5490866\/kejar-target-11-gw-pertamina-operasikan-15-wilayah-kerja-geothermal\r\n<\/div><\/figure>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Sawitindonesia.com | Minggu, 14 Maret 2021 Peluang Dan Upaya Penyerapan Sawit Sebagai Feedstock Biodiesel Indonesia telah melaksanakan mandatori biodiesel 30 persen (B30) sejak Januari 2020. Mandatori&nbsp; B30 di tahun 2020 telah menyerap 8,43 juta kiloliter atau sekitar 88% dari target yang dicanangkan 9,59 juta kiloliter. Pada tahun 2021, Pemerintah melalui Direktorat Jenderal Energi Baru Tarbarukan [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[7],"tags":[],"class_list":["post-4616","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-news"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4616","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4616"}],"version-history":[{"count":2,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4616\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5778,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4616\/revisions\/5778"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4616"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4616"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4616"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}