{"id":5629,"date":"2021-05-31T08:09:32","date_gmt":"2021-05-31T01:09:32","guid":{"rendered":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/?p=5629"},"modified":"2021-06-24T21:40:12","modified_gmt":"2021-06-24T14:40:12","slug":"palm-oil-is-the-most-efficient-land-use","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/palm-oil-is-the-most-efficient-land-use\/","title":{"rendered":"Penggunaan Lahan Paling Efisien, Minyak Kelapa Sawit"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tepat pada tahun 2019 Uni Eropa berkampanye mengenai buruknya kelapa sawit untuk lingkungan bumi. Puncaknya terjadi pada Maret 2019 ketika Komisi Uni Eropa mengkategorikan kelapa sawit menjadi bahan berisiko tinggi pada <\/span><b><i>Delegated Act<\/i><\/b><b>. <\/b><span style=\"font-weight: 400;\">Kelapa sawit dianggap sebagai penyebab deforestasi, asumsi tersebut dikarenakan lahan hutan digantikan dengan pohon kelapa sawit karena itu Komisi Uni Eropa melarang penggunaan minyak kelapa sawit hingga tahun 2030.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Keputusan Komisi Eropa telah menginterupsi Indonesia dan Malaysia<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">sebagai besarnya produsen kelapa sawit di dunia. Menurut Bernard Riedo, Direktur Asian Agri, Uni Eropa perlu meninjau ulang pernyataan bahwa kelapa sawit merupakan penyebab terjadinya deforestasi. Menurut beliau, kelapa sawit cenderung lebih efisien dari pada komoditas lainnya dalam penggunaan lahan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Berdasarkan data Minyak Dunia (Oil World) 2018, minyak kelapa sawit merupakan salah satu bagian dari produser minyak seperti bunga matahari, kacang kedelai, biji kapas, dan lobak.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Total luas area perkebunan dunia di sektor perminyakan seluas 290 hektar dengan produksi minyak nabati <\/span><b>\u00a0<\/b><span style=\"font-weight: 400;\">mencapai 221 juta ton. Dibanding tanaman lain kelapa sawit lebih efisien untuk penggunaan lahan, tercatat bahwa kelapa sawit hanya memakai 7% lahan. Sementara 43% kedelai, 12% biji kapas, 11% lobak, 9% bunga matahari, dan selebihnya jenis tanaman lain.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Beberapa studi dengan Life Cycle Analysis (LCA) menyatakan penggunaan minyak kelapa sawit untuk diesel dapat meminimalisir gas efek rumah kaca sebesar 50-60%.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Indonesia sebagai salah satu produsen terbesar minyak kelapa sawit dapat membantu mengurangi pembuangan emisi gas dengan memakai minyak kelapa sawit. Riset membuktikan dari <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Palm Oil Mills<\/span><\/i> <span style=\"font-weight: 400;\">(2013) bahwa dengan campuran metanol dapat meningkatkan reduksi dari biodiesel yang terbuat dari minyak kelapa sawit. Penghematan emisi gas rumah kaca melalui penggunaan biodiesel berbahan sawit lebih tinggi dibandingkan biodiesel berbahan minyak nabati lainnya.<\/span> <span style=\"font-weight: 400;\">Minyak kelapa sawit sebenarnya paling efisien untuk dijadikan komoditas bahan bakar serta mempunyai peran penting dalam membantu meminimalisir gas emisi.<\/span><\/p>\n<p>Sumber: <a href=\"http:\/\/Penggunaan Lahan Paling Efisien, Minyak Kelapa Sawit\">kumparan.com<\/a><\/p>\n<p><a href=\"https:\/\/www.wartaekonomi.co.id\/read333640\/bukti-biodiesel-sawit-efektif-kurangi-emisi-grk\">wartaekonomi.co.id<\/a><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Tepat pada tahun 2019 Uni Eropa berkampanye mengenai buruknya kelapa sawit untuk lingkungan bumi. Puncaknya terjadi pada Maret 2019 ketika Komisi Uni Eropa mengkategorikan kelapa sawit menjadi bahan berisiko tinggi pada Delegated Act. Kelapa sawit dianggap sebagai penyebab deforestasi, asumsi tersebut dikarenakan lahan hutan digantikan dengan pohon kelapa sawit karena itu Komisi Uni Eropa melarang [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":2,"featured_media":5978,"comment_status":"closed","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[17],"tags":[39,52,60],"class_list":["post-5629","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-articles","tag-biodiesel","tag-kelapa-sawit","tag-rumah-kaca"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5629","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/users\/2"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=5629"}],"version-history":[{"count":5,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5629\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":5979,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/5629\/revisions\/5979"}],"wp:featuredmedia":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media\/5978"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=5629"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=5629"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/dev.aprobi.or.id\/id\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=5629"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}