Asa Indonesia Setop Impor Metanol

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Bisnis.com | Senin, 18 Mei 2020

Komitmen pemerintah mendorong penghiliran industri batu bara dinanti. Ke depan, batu bara tak sekadar menjadi bahan baku utama pembangkit listrik di Tanah Air. Setidaknya dalam tiga tahun terakhir, gasifikasi batu bara digaungkan. Dengan upaya penghiliran, batu bara berkalori rendah akan diubah menjadi produk lain yang memiliki nilai tinggi dengan menggunakan teknologi gasifikasi. Teknologi ini akan mengkonversi batu bara muda menjadi syngas untuk kemudian diproses menjadi Dimethyl Ether (DME), Methanol, dan Mono Ethylene Glycol (MEG). Bukan kaleng-kaleng! Proyek gasifikasi batu bara diperkirakan dapat mengurangi nilai impor gas Indonesia hingga sekitar US$1 miliar per tahun. Perusahaan tambang pelat merah PT Bukit Asam Tbk (PTBA) bakal mengembangkan dua proyek gasifikasi di Peranap dan Tanjung Enim. Kabarnya, investasi kedua proyek ini mencapai US$5,8 miliar. Untuk proyek gasifikasi Peranap, akan digarap PTBA bersama PT Pertamina (Persero) dan Air Products Inc. Total investasi untuk pengembangan gasifikasi ini adalah US$ 3,2 miliar, dimana Air Products bertindak sebagai investor di bisnis Upstream dan Downstrem.

Proyek penghiliran batu bara ini direncanakan akan memproduksi 1,4 juta ton DME, 300.000 ton Methanol, dan 250.000 ton MEG. Saat ini studi kelayakan sudah selesai dan masuk ke tahap FEED dan EPC. Pabrik ini diharapkan dapat beroperasi di akhir 2023. Untuk proyek Tanjung Enim, akan dikerjakan PTBA bersama Pertamina, PT Pupuk Indonesia, PT Chandra Asri Petrochemical Tbk (TPIA). Pabrik pengolahan gasifikasi batubara akan dibangun di Bukit Asam Coal Based Industrial Estate yang berada di mulut tambang batubara Tanjung Enim, Sumatra Selatan. Diharapkan produksi dapat memenuhi kebutuhan pasar sebesar 500.000 ton urea per tahun, 400.000 ton DME per tahun dan 450.000 ton polypropylene per tahun. Ternyata upaya melakukan penghiliran batu bara tidak hanya digaungkan oleh BUMN dan mitranya. Belum lama ini, Bakrie Capital Indonesia pun ikut ambil bagian.

Grup Bakrie menandatangani perjanjian gasifikasi batu bara menjadi metanol dengan PT Ithaca Resources, dan Air Products senilai US$2 miliar di Kalimantan Timur. Direktur Utama PT Bukit Asam Tbk Arviyan Arifin mengatakan proyek gasifikasi batu bara tetap berjalan sesuai rencana meski ada kesepakatan antara Air Products bersama PT Bakrie Capital Indonesia. “Jadi tetap sesuai rencana, enggak mengganggu,” ujarnya kepada Bisnis, Jumat (15/5/2020). Secara keseluruhan, rencana proyek gasifikasi batu bara masih sesuai dengan jadwal yang direncanakan meski di tengah Pandemi Virus Corona (Covid-19). “Tak ada dampak timeline yang berarti, masih on schedule, saat ini masih dalam proses pra konstruksi pematangan lahan dan sebagainya,” katanya. Semangat pengembangan gasifikasi batu bara pun ditanggapi Kementerian Perindustrian. Pembangunan proyek pabrik metanol dari batu bara dengan proses gasifikasi, akan meningkatkan kapasitas industri metanol di Indonesia yang kebutuhannya terus meningkat. Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita mengatakan kebutuhan metanol di Indonesia telah mencapai 1,1 juta ton pada 2019. “Sementara itu, Indonesia hanya memiliki satu produsen metanol, yaitu PT Kaltim Methanol Industri di Bontang, dengan kapasitas sebesar 660.00 ton per tahun,” katanya dalam keterangan pers, Minggu (17/5/2020).

Terkait rencana Bakrie Grup dan Air Products, Menperin mengatakan investasi senilai US$2 miliar tersebut akan mengolah 4,7 – 6,1 juta ton batu bara menjadi 1,8 juta ton metanol per tahun. “Proyek coal to methanol dengan proses gasifikasi batu bara merupakan industri pionir di Indonesia. Hingga saat ini belum ada industri kimia dengan teknologi proses gasifikasi batubara,” tambahnya. industri metanol merupakan industri petrokimia yang memegang peranan sangat penting bagi pengembangan industri di hilirnya. Bahan baku metanol sangat dibutuhkan dalam industri tekstil, plastik, resin sintetis, farmasi, insektisida, plywood. Metanol juga sangat berperan sebagai antifreeze dan inhibitor dalam kegiatan migas. Kemudian metanol merupakan salah satu bahan baku untuk pembuatan biodiesel. Selain itu, metanol dapat diolah lebih lanjut menjadi Dimethyl Ether (DME) yang dapat dimanfaatkan sebagai produk bahan bakar. “Metanol akan terus memainkan peran penting sebagai bahan baku utama di industri kimia. Hal tersebut secara pasti akan membuat kebutuhan metanol meningkat di masa mendatang,” ungkap Menperin. Tahun lalu, kontribusi sektor industri pengolahan non-migas merupakan penyumbang terbesar Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang mencapai angka 17,58 persen atau sekitar Rp2.784 triliun. Adapun kontribusi industri bahan kimia dan barang kimia pada 2019 mencapai 1,16 persen atau sekitar Rp184 triliun, meningkat dibandingkan tahun sebelumnya sebesar 1,12 persen. Pertumbuhan industri bahan kimia dan barang kimia bertumbuh sebesar 8,20 persen pada 2019 dibandingan dengan sebelumnya yang tumbuh negatif -4,18 persen. Di sisi lain, nilai ekspor bahan kimia dan barang dari bahan kimia pada 2019 mencapai US$12,65 miliar, dengan nilai impor sejumlah US$21,51 miliar.

https://ekonomi.bisnis.com/read/20200518/257/1241889/asa-indonesia-setop-impor-metanol