Benarkah Biodiesel jadi Penyelamat Industri Sawit RI?

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

CNBCIndonesia.com | Senin, 24 Agustus 2020

Benarkah Biodiesel jadi Penyelamat Industri Sawit RI?

Pelaku industri minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO) domestik menyatakan pemerintah harus mendorong peningkatan penggunaan biodiesel untuk menyelematkan industri. Apalagi pemerintah bakal menjadikan biodiesel sebagai tonggak utama energi ke depannya. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Joko Supriyono optimististi, kebijakan pemerintah terkait biodiesel tersebut akan membuat produksi CPO bakal terus diserap untuk ketahanan energi nasional.  “Road map energi salah satunya bahan bakar nabati yang tentunya gunakan sawit. Pemerintah akan terus ditingkatkan, baik kandungan campuran dan secara teknologi adalah jenisnya,” kata Joko kepada CNBC Indonesia, Minggu (23/8) Variasi penggunaan biodiesel yang berbahan baku sawit diyakini bakal terus meningkatkan konsumsi. Apalagi, dalam beberapa waktu terakhir Joko menyebut penyerapan sawit dari dalam negeri terus meningkat. Meski di sisi lain, permintaan dari ekspor cenderung menurun. “Sekarang aja 70% ke ekspor, domestik 30%. Tahun ini ekspor alami pelemahan permintaan. Berkurang eskpor 7% tapi domestik meningkat. Jadi seimbang, ke depan saya liat gitu. Dalam negeri permintaan naik, luar kita liat. Ke depan saya yakin produksi kita meningkat,” jelas Joko.

Di sisi lain, Pemerintah menegaskan tetap berkomitmen melanjutkan program biodiesel 40% atau B40 yang diproyeksikan bakal banyak menyerap CPO. Sebelumnya, proyek B30 sudah terlaksana. Kebijakan itu akan ditingkatkan lagi ke depannya. “Ke depan saya targetkan implementasi B30 melalui D100 yang merupakan campuran 40% bahan bakar nabati. Dimana D100 digunakan 10%. Dan dilakukan pada bulan Juli 2021,” sebutnya. Hingga akhir pekan lalu, harga CPO berada pada kisaran 2.681 ringgit (RM) per ton. Meski demikian, CPO masih belum jauh dari level tertinggi 6 bulan RM 2.808/ton yang dicapai pada 4 Agustus lalu. Sejak mencapai level tersebut hanya minyak nabati ini bergerak sideways. Harga CPO bergerak bagai roller coaster sepanjang tahun ini. Pada pertengahan Januari lalu, CPO mencapai level tertinggi 3 tahun di RM 3.150/ton, tetapi setelahnya terjun ke 38,44% ke RM 1.939/ton pada 6 Mei lalu. Level tersebut merupakan yang terendah sejak Juli 2019. Setelah mencapai level terendah 10 bulan tersebut, CPO kembali melesat naik 44,81% ke RM 2.808/ton pada 4 Agustus lalu. Pandemi penyakit virus corona (Covid-19) menjadi pemicu utama pergerakan roller coaster tersebut. Guna meredam penyebaran virus corona, banyak negara menerapkan kebijakan karantina (lockdown) sehingga roda bisnis menjadi menurun bahkan nyaris mati suri. Akibatnya permintaan CPO pun menurun, harganya menjadi merosot. Sementara selepas Mei, negara-negara mulai melonggarkan lockdown, perekonomian China yang merupakan asal virus corona mulai bangkit, permintaan CPO pun perlahan naik lagi. China merupakan salah satu konsumen CPO terbesar di dunia, sehingga ketika perekonomiannya bangkit memberikan dampak yang besar.

https://www.cnbcindonesia.com/market/20200824075307-17-181389/benarkah-biodiesel-jadi-penyelamat-industri-sawit-ri

Wartaekonomi.co.id | Senin, 24 Agustus 2020

Biodiesel Sawit: Peluang Konsumsi Domestik Meningkat?

Implementasi B30 sepanjang tahun 2020 ini menjadi salah satu bukti bahwa komitmen pemerintah Indonesia terkait kemandirian dan kedaulatan energi bukan sekadar wacana dan omong kosong belaka. Tak hanya menguntungkan pada aspek ekonomi dan lingkungan, keberadaan kelapa sawit sebagai sumber bahan baku energi terbarukan juga membuka peluang atas peningkatan penyerapan konsumsi domestik. Ketua Umum Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), Joko Supriyono, mengatakan, “Roadmap energi salah satunya menggunakan sawit sebagai bahan bakar nabati. Pemerintah akan terus meningkatkan, baik kandungan campuran dan secara teknologi adalah jenisnya.” Inovasi penggunaan biodiesel berbahan baku kelapa sawit terus ditingkatkan agar Indonesia tidak lagi bergantung pada pasar ekspor dan impor energi fosil. Lebih lanjut Joko menjelaskan, “Sekarang aja 70 persen ke ekspor, domestik 30 persen. Tahun ini ekspor alami pelemahan permintaan. Berkurang ekspor 7 persen, tetapi domestik meningkat, jadi seimbang. Ke depan, saya yakin produksi kita meningkat.” Pemerintah terus berkomitmen untuk meningkatkan program B30 tersebut menjadi B40. Di sisi lain, PT Pertamina juga mewujudkan cita-cita daulat energi ramah lingkungan oleh Indonesia melalui produk green diesel (D100). Produksi D100 tersebut tidak hanya dilakukan PT Pertamina di Kilang Dumai, Riau dengan kapasitas 1.000 barel per hari, tetapi ditargetkan juga akan dipersiapkan di Kilang Cilacap dan Plaju dengan kapasitas produksi masing-masing sebanyak 6.000 barel per hari dan 20.000 barel per hari. Tidak hanya fokus pada pengembangan green diesel, tetapi energi terbarukan berbasis kelapa sawit tersebut juga akan ditemui dalam bentuk green avtur dan green gasoline.

https://www.wartaekonomi.co.id/read300712/biodiesel-sawit-peluang-konsumsi-domestik-meningkat

Akuratnews.com | Senin, 24 Agustus 2020

PKS: Program D100 Harus Mendorong Kesejahteraan Petani Sawit

Anggota Komisi VII DPR RI, dari Fraksi PKS mengapresiasi prestasi tim inovator Katalis Merah-Putih dari Pertamina-ITB yang menemukan formula penghasil bahan bakar nabati D100 yang bahan bakunya 100% dari minyak sawit. Formula tersebut berhasil diujicobakan di kilang Dumai, yang selanjutnya siap dipasarkan ke masyarakat. Menurut Mulyanto, program biofuel B30 sampai D100 yang dikembangkan Pemerintah tersebut harus mendorong kesejahteraan petani sawit. Mulyanto menuturkan, jangan sampai petani hanya menjadi penonton, yang tidak terlibat hajat di sekitar rumahnya. Apalagi ketika harga keekonomian biofuel ini belum tercapai dan Pemerintah menggelontorkan subsidi yang merogoh kocek dari APBN. “Kita tidak ingin subsidi Negara ini dinikmati hanya oleh segelintir taipan sawit, bukan petani kecil. Program pemerintah untuk mendorong program biofuel ini jangan cenderung memberikan perhatian dan kemudahan hanya kepada para pengusaha sawit, yang dianggap tidak adil oleh para petani sawit” ujar Mulyanto dalam keterangan pers yang diterima, Senin, (24/8/2020). Mulyanto memaparkan, seharusnya petani-petani kecil juga mendapatkan manfaat dari dana iuran sawit, apalagi dari subsidi biofuel. Karena, dampak pandemi COVID-19 sangat memukul perekonomian para petani sawit. Untuk itu Pemerintah harus memastikan, bahwa suplai bahan baku untuk program B30 hingga D100 harus juga berasal dari petani swadaya, yang saat ini masih belum tersentuh kebijakan pemerintah tersebut,” ujar Mulyanto. Bila ini dilakukan, lanjut Mulyanto, maka para petani sawit akan ikut diuntungkan, termasuk juga ikut tertolong disaat dana subsidi energi digulirkan dalam sektor ini.

Sebelumnya, Pemerintah menggulirkan subsidi dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) untuk industri biodiesel (B30) melalui program pemulihan ekonomi nasional (PEN) sebesar Rp2,78 triliun. Hal ini dilakukan karena harga keekonomian biofuel tidak tercapai saat harga BBM rendah. Berbagai riset terkait keekonomian biofuel memperlihatkan hal itu, bahwa untuk memenuhi kebutuhan energi pada sektor transportasi, maka tingkat harga minyak BBM mestilah di atas angka USD 60/barel. Bila harga BBM dunia di bawah itu, maka harga keekonomian bio diesel kurang terpenuhi. “Kita bangga terhadap para inovator Katalis Merah-Putih dari Pertamina-ITB sebagai formula penghasil D100 buatan anak negeri untuk menghasilkan bahan bakar nabati” katanya. Karena Introduksi biofuel sebagai sumber energi alternatif pengganti atau campuran minyak solar, secara langsung dapat mengurangi impor BBM dan menekan defisit transaksi berjalan Indonesia, sekaligus menyerap hasil perkebunan sawit nasional, sehingga harganya tidak merosot tajam. “Uni Eropa yang sejak tahun 2018 memperketat regulasi ekspor sawit Indonesia menyebabkan produksi kelapa sawit Indonesia kelebihan pasok,” tandas Mulyanto.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *