Biodiesel Disebut Mampu Mengurangi Ketergantungan Impor Bahan Bakar

| Articles
Share Share on Facebook Share on Twitter Share on Whatsapp

Riau24.com | Rabu, 8 Juli 2020

Biodiesel Disebut Mampu Mengurangi Ketergantungan Impor Bahan Bakar

Indonesia saat ini dikenal sebagai negara penghasil kelapa sawit terbesar dunia. Bahkan, di Indonesia ada sekitar 20 juta orang yang bergantung kepada komoditas tersebut. “Sawit ini menyumbang banyak sektor lapangan pekerjaan. Untuk petani sektor hulu jumlanya ada 7 jutaan orang. 2,4 merupakan petani swadaya dan 2,6 pejerja yang menyebar di berbagai perusahaan, plasma,” kata Ketua Dewan Pengawas (Dewas) Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDPKS), Rusman Heriawan belum lama ini. Sehingga wajar jika sektor tersebut terganggu, maka dampaknya sangat luar biasa bagi mereka yang bergantung kepada kelapa sawit ini. Selain itu, berbicara soal sawit, tanaman tersebut bisa diolah menjadi berbagai macam hal yang bermanfaat. Salah satunya adalah pemanfaatan biodiesel. Paulus Tjakrawan, selaku Asosiasi Produsen Biofuels Indonesia menuturkan, ada beberapa keunggulan biodiesel yang dilihat dari tiga aspek, yakni lingkungan, ketahanan energi dan keekonomian. Untuk segi aspek lingkungan, keunggulan yang dimiliki adalah pertama Biodegradable, lebih tidak beracun dibandingkan solar, bebas Sulphur. Kedua, diproduksi dari tumbuhan/tanaman yang berkesinambungan.

Ketiga, menghasilkan emisi Gas Rumah Kaca yang lebih kecil dari penggunaan solar, dan mengurangi polusi serta terakhir pada tahun 2019, Biodiesel Indonesia telah berhasil mengurangi emisi dari minyak solar sebesar 45% atau setara dengan ~17,5 Juta Ton CO2 Equivalent. Sedangkan dari sektor ketahanan energi, keunggulan biodiesel ini adalah mengurangi ketergantungan impor bahan bakar. “Pemakaian bahan bakar di Indonesia sekitar 1,4 Juta Barel perhari, sedangkan Indonesia menghasilkan hanya 778 ribu barel perhari,” ujar Paulus. Kemudian, di Tahun 2019, lanjutnya, produksi Biodiesel untuk domestik sebesar 6,39 Juta Kl ~ 40 Juta Barel (~51 Hari Produksi Minyak Indonesia). Selanjutnya dari aspek keekonomian, yang menjadi keunggulan dari biodiesel adalah pertama, ini dapat mengentaskan kemiskinan dan memberikan lapangan kerja sekitar 650 ribu petani-pekerja Sawit di sektor hulu. Kedua menghemat devisa sekitar 50 Triliun Rupiah pada 2019 ~ 3,34 Milyar US$. “Ketiga dapat di produksi dimana saja asal ada bahan baku nya dan keempat potensi lain nya, semisal dari Minyak Kelapa seperti yang di kembangkan di Philippines. Indonesia ber potensi 2,5 juta kl pertahun (3,2 juta ton Kopra dengan rendemen sekitar 68%)” jelasnya.

Dampak Covid-19 Terhadap Kelangsungan Biodiesel

Dikarenakan adanya pandemi Covid-19 di Indonesia BPDPKS menyebutkan jika penyerapan Biodiesel 30 (B30) saat pandemo corona atau covid-19 berlangsung tidak memenuhi target awal. Ketua Dewan Pengawas BPDPKS, Rusman Heryawan mengatakan B30 yang menyerap jika dalam kondisi normal tanpa ada covid-19 targetnya 9,6 juta kilo liter untuk biodiesel. “Tapi karena adanya pandemi covid-19 konsumsi biodiesel berkurang karena kegiatan ekonomi,” ujarnya. Dia menambahkan, pihaknya sebelumnya menargetkan realisasinya sekitar 80 persen dari 9,6 juta kilo liter. “Karena hal itu signifikan dalam menyerap produk sawit Indonesia,” ujarnya lagi. Lantas, apa yang dilakukan pemerintah dan pihak terkait di saat pandemi Covid-19 ini, Paulus menyebutkan ada beberapa program B30 dilakukan adalah pemerintah dan semua pemangku kepentingan bertekad untuk meneruskan program B30, meskipun menghadapi tantangan harga minyak bumi yang turun dan pandemic COVID 19. “Kemudian, berpotensi pengurangan penggunaan Biodiesel, penyesuaian dukungan BPDPKS, seperti menaikkan pungutan eksport, mengurangi rentang harga solar dan harga Biodiesel, dukungan anggaran Pemerintah dan Investasi yang melambat, baik untuk pengembangan maupun investasi baru,” tutur Paulus.

https://www.riau24.com/berita/baca/1594219675-biodiesel-disebut-mampu-mengurangi-ketergantungan-impor-bahan-bakar

BERITA BIOFUEL

Republika.co.id | Rabu, 8 Juli 2020

HIP Biodiesel Juli Dipatok Rp 7.321 per Liter

Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menetapkan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk jenis bahan bakar nabati (BBN) biodiesel pada Juli 2020 ditetapkan sebesar Rp7.321 per liter. Besaran angka tersebut mengalami kenaikan dari bulan Juni sebelumnya yang berada di angka Rp6.941 per liter. “Harga tersebut berlaku pada bahan bakar nabati jenis biodiesel yang dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak pada masa kedaruratan kesehatan masyarakat dan bencana non-alam nasional Covid-19 selama sebulan ke depan,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama (KLIK) Kementerian ESDM Agung Pribadi di Jakarta (8/7). Pertimbangan penetapan HIP Biodiesel ini diambil berdasarkan hasil keputusan rapat Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS) dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 105 K/12/MEM/2020. “Ketentuan ini berlaku juga dalam pelaksanaan program mandatori B30 (campuran 30 persen biodiesel dalam minyak solar),” Agung menambahkan. Agung menjelaskan, kenaikan harga pasar biodesel disebabkan pada bulan Juli menyesuaikan dengan kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO). Harga CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) rata-rata per tanggal 25 Mei sampai dengan 25 Juni 2020 tercatat sebesar Rp7.272 per kg. “Besaran HIP biodiesel tersebut belum termasuk ongkos angkut yang mengikuti ketentuan Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/10/DJE/2019,” jelasnya. Adapun, harga CPO KPB periode sebelumnya yang berada di harga Rp6.773 per kg. Secara rinci, perhitungan harga biodiesel tersebut didapat dari formula HIP = (rata-rata CPO KPB + 100 USD/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut.

https://republika.co.id/berita/qd5mbj383/hip-biodiesel-juli-dipatok-rp-7321-per-liter

Swa.co.id | Rabu, 8 Juli 2020

Harga Biodiesel Naik, Produsen CPO Optimistis Tingkatkan Kinerja Bisnis

Perusahan kelapa sawit optimistis program biodiesel akan menyerap produksi kelapa sawit domestik. Hal ini disampaikan Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia dan produsen kelapa sawit yang menyuarakan keyakinan terhadap laju bisnis kelapa sawit (crude palm oil/CPO) nasional kendati industri ini terdampak pandemi virus corona (Covid-19). Keyakinan ini tecermin dari peningkatan harga biodiesel di Juli 2020. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) mengumumkan Harga Indeks Pasar (HIP) untuk jenis bahan bakar nabati (BBN) biodiesel pada Juli 2020 sebesar Rp 7.321 per liter, naik 5,47% dari Rp 6.941 per liter di Juni lalu. “Harga tersebut berlaku pada bahan bakar nabati jenis biodiesel yang dicampurkan ke dalam bahan bakar minyak pada masa kedaruratan kesehatan masyarakat dan bencana non-alam nasional Covid-19 selama sebulan ke depan,” kata Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik, dan Kerja Sama Kementerian ESDM, Agung Pribadi pada siaran pers di Jakarta, pada Rabu (8/7/2020). Pertimbangan penetapan HIP Biodiesel ini diambil berdasarkan hasil keputusan rapat Komite Pengarah Badan Pengelola Dana Perkebunan Kelapa Sawit (BPDKS) dan Keputusan Menteri ESDM Nomor 105 K/12/MEM/2020. Ketentuan ini berlaku dalam pelaksanaan program mandatori B30 (campuran 30% biodiesel dalam minyak solar). Besaran HIP biodiesel tersebut belum termasuk ongkos angkut yang mengikuti ketentuan Keputusan Menteri ESDM Nomor 148 K/10/DJE/2019.

Harga pasar biodesel pada Juli ini menyesuaikan dengan kenaikan harga Crude Palm Oil (CPO). Rerata harga CPO Kharisma Pemasaran Bersama (KPB) pada 25 Mei-25 Juni 2020 tercatat sebesar Rp 7.272 per kg, lebih tinggi dari harga CPO KPB di periode sebelumnya sebesar Rp 6.773 per kg. Secara rinci, perhitungan harga biodiesel tersebut didapat dari formula HIP = (rata-rata CPO KPB + 100 US$/ton) x 870 kg/m3 + ongkos angkut. Pada kesempatan terpisah, Kanya Lakshmi Sidarta, Sekretaris Jenderal Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (Gapki), kinerja industri sawit nasional diyakini masih berkontribusi besar terhadap laju pertumbuhan ekonomi Indonesia kendati pandemi Covid-19 mempengaruhi sebagian besar sektor bisnis. “Untuk itu, Gapki mendorong produsen kelapa sawit berinovasi dan beradaptasi melakukan berbagai strategi bisnis, perusahaan kelapa sawit memperkuat pasar domestik seiring dengan adanya mandatori program biodiesel,” ujar Kanya.

Berdasarkan catatan Gapki, kinerja ekspor CPO Indonesia terkontraksi karena negara tujuan utama memberlakukan lockdown untuk menangkal penyebaran covid-19. Produksi CPO nasional, menurut Kanya, cenderung stabil meski permintaan ekspor menurun. Ekspor kelapa sawit pada April 2020, misalnya, turun menjadi 2,65 juta ton dari 2,73 juta ton pada Maret 2020. “Namun, peluang perusahaan sawit meningkatkan laju bisnisnya terbuka lebar dengan menggarap pasar domestik karena harga biodiesel di Juli ini sudah naik sebesar 5,47%, Gapki mendorong produsen sawit melakukan bauran pemasaran untuk menangkap peluang di dalam negeri dan ekspor,” tutur Kanya. PT Pradiksi Gunatama Tbk, emiten perkebunan dan pengolahan kelapa sawit terpadu, meyakini meski kondisi ekonomi saat ini masih kurang baik ditengah pandemi Covid-19, potensi bisnis perseroan masih baik. “Terutama permintaan dalam negeri masih cukup baik. Hal ini disebabkan permintaan dalam negeri yang diperkirakan akan meningkat seiring dengan penggunaan 30% komposisi minyak sawit atau Fatty Acid Methyl Ester (FAME) pada solar (B30) yang diterapkan pada awal tahun 2020 dan mandatori dari pemerintah,” tutur Tamlikho, Direktur Keuangan dan Administrasi Pradiksi Gunatama. Perseroan telah merampungkan pabrik minyak kelapa sawit (MKS) yang beroperasi sejak Agustus 2019. Saat ini, kapasitas produksi pabrik MKS sebanyak 60 ton per jam dan masih dapat ditingkatkan ke depannya.

Detik.com | Rabu, 8 Juli 2020

Peningkatan Konsumsi Bahan Bakar saat New Normal

Indonesia mulai memasuki masa new normal. Aktivitas masyarakat setelah sempat berhenti beberapa bulan kini mulai aktif lagi. Kegiatan mobilitas pun bangkit kembali. Hal itu dilihat dari konsumsi bahan bakar minyak (BBM) yang dicatat PT Pertamina (Persero). PT Pertamina (Persero) melalui Marketing Operation Region IV mencatat kenaikan konsumsi BBM jenis gasoline (bensin) di wilayah DI Yogyakarta sebanyak 17% di bulan Juni 2020 ketimbang rata-rata harian di bulan Maret hingga Mei 2020 kemarin. Pjs. General Manager Pertamina MOR IV wilayah Jawa Tengah dan DI Yogyakarta, Rahman Pramono Wibowo, mengatakan konsumsi BBM jenis gasoline (pertamax series, pertalite dan premium) khususnya di wilayah DI Yogyakarta saat ini berada di angka 1.250 Kiloliter (KL) per hari. Padahal, pada bulan Mei 2020 berkisar di angka 1.070 KL per hari.

Produk BBM jenis gasoil atau diesel (Biosolar dan Dex series) juga meningkat sebesar 15% dari 249 KL di bulan Mei 2020 menjadi 285 KL di bulan Juni 2020. “Pergerakan angka kenaikan konsumsi BBM di bulan Juni ini memperlihatkan adanya peningkatan aktivitas masyarakat saat pemberlakuan new normal meskipun belum signifikan,” ujarnya. Hanya, memang angka konsumsi BBM saat ini masih di bawah kondisi normal seperti Januari-Februari 2020. Saat normal tanpa COVID-19, konsumsi BBM jenis gasoline sebanyak 1.800 KL per hari dan diesel sebanyak 390 KL per hari. Ditegaskan kembali, saat ini BBM jenis gasoline seperti premium dan pertalite masih tetap disalurkan. Penyaluran produk BBM gasoline di Yogyakarta didominasi oleh Pertalite yang memiliki angka oktan 90 dengan perbandingan penyaluran di SPBU sebesar 63% untuk produk Pertalite, 28% produk Pertamax Series dan 9% untuk produk Premium. “Kedua jenis produk BBM jenis gasoline yaitu Premium dan Pertalite masih disalurkan di SPBU-SPBU di wilayah DI Yogyakarta sehingga masyarakat tidak perlu khawatir karena produk tersebut masih tersedia sekaligus memiliki ketahanan stok yang cukup di Fuel Terminal BBM Pertamina wilayah MOR IV,” ucap Pramono.

Di Surabaya Raya, Pertamina juga mencatat kenaikan konsumsi BBM. Menurut Unit Manager Communication, Relation & CSR Pertamina Marketing Operation Region (MOR) V Jatimbalinus Rustam Aji, konsumsi BBM pada PSBB Transisi menunjukkan tren naik di wilayah Surabaya Raya (Surabaya, Gresik, Sidoarjo). Rata-rata harian konsumsi BBM jenis gasoline (bensin) di wilayah Surabaya Raya sampai dengan Sabtu, 20 Juni 2020 lalu, meningkat 19 persen dibandingkan rata-rata konsumsi selama masa PSBB. Konsumsi tercatat 2.500 kiloliter (kl) per hari dibandingkan bulan sebelumnya 2.100 kl per hari. Begitu juga konsumsi BBM jenis gasoil atau diesel seperti Biosolar dan Dex Series. Menurutnya, konsumsi BBM jenis diesel di wilayah itu meningkat 36 persen. Jumlah konsumsi pada sepuluh hari terakhir sebanyak 1.300 kl per hari, dibandingkan rata-rata konsumsi masa PSBB sebesar 960 kl per hari.

https://oto.detik.com/berita/d-5084350/peningkatan-konsumsi-bahan-bakar-saat-new-normal

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *